Senin, 25 Januari 2016

MENGEMBARA DI TANAH ASING






Perjalanan adalah bunuh diri yang ditunda
    Merah Naga


Bagaimana rasanya bernapas dan hidup dalam kebudayaanmu sendiri setiap hari? Bagaimana rasanya tidak terasing dari Tanah Air nenek moyangmu? Aku tak akan pernah tahu karena aku tumbuh besar dengan mencintai tanah tempatku dilahirkan, merasa bahwa aku harus melupakan semua jejak warisanku agar diterima oleh teman-teman Indonesia-ku.

Aku tumbuh dengan membenci warisanku sendiri dan tetap merasa tidak diterima dengan utuh oleh bangsa yang demi dirinya, telah kubuang banyak hal. Aku tumbuh dengan mencintai prinsip-prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, dan masih tetap mencintainya, tetapi tidak kulihat mereka dipraktikkan di mana pun di Tanah Air-ku.
          Audrey Yu Jia Hui 
     Mellow Yellow Drama








Hari ini, aku berdiri di sebuah dunia yang nyaris hancur. Sebuah dunia di mana aku tak tahu lagi harus bagaimana menjalani sebuah kehidupan. Bahkan, aku tak tahu tentang identitas diriku yang sebenarnya. Apakah aku seorang Jawa, Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, atau segenap identitas diri yang lainnya. Seperti halnya seorang keturunan China yang tertatih-tatih mengingat diri sendiri, apakah dia seorang Tionghoa, peranakan, China, Indonesia, Jawa, Batak, Sunda, dan segala macam keyakinan dan kepercayaan yang begitu banyak. Siapakah diriku hari ini? Itu adalah pertanyaan sulit yang tak mudah aku cari jawabannya. Dan pertanyaan itulah yang membuatku sakit berkali-kali.

Seseorang yang mengalami guncangan identitas di masa aku sekarang ini, pasti akan mengerti apa yang aku rasakan. Siapakah diri kita sebenarnya? Apakah aku orang Barat, Timur Tengah, India ataukah memang lahir dan dianyam dari salah satu kepulauan di Indonesia? Dan untuk siapakah aku sebenarnya mengikatkan diri? Apakah pada ideologi, keyakinan agama, ataukah asal mula yang bersifat kedaerahan? Ataukah sekedar cukup berkata bahwa aku adalah salah satu anak yang lahir dari negara ini. Sebuah negara yang pada akhirnya aku tahu, dibangun di atas berbagai macam pecahan identitas yang tak pernah jelas dan membingungkan.

Aku lahir di negara ini, langsung menjadi seorang yang tak memiliki identitas yang pasti. Aku dijerumuskan pada suatu dunia yang tak menentu. Dan semua pihak berebut hati, pikiran, dan tubuhku. Pada siapakah aku harus mengikatkan diri dan mengabdikan diriku di dalamnya?

Sebagai anak muda, aku telah nyaris kehilangan semuanya. Sudah tak ada lagi yang bisa membuatku tertarik. Kebosanan selalu hinggap di setiap waktu aku membuka mata. Dan segala macam pengetahuan serta keingintahuan membawa aku pada dunia yang semakin sulit untuk diterima dan diteruskan. Pada dasarnya, aku sudah tak lagi memiliki apa-apa. Ketika semua orang masih memiliki negara, agama, dan apa pun untuk dipercayai. Hari ini, yang masih tertinggal dariku hanyalah hembusan nafasku. Kehidupan yang pada dasarnya sudah tak lagi mempesonaku sekian lama.

Sebelum aku kelak dihancurkan oleh kegilaan dan ketidakmenentuan hidupku. Aku ingin memasuki berbagai macam kota dan melihat berbagai kemungkinan yang kelak akan terjadi. Di dalam kotalah, segala sesuatunya hilang dan hancur. Kota adalah cerminan di mana kita akan menjadi apa di masa yang akan datang. Dan apakah masih ada yang tersisa dari diriku yang aku kenal di masa kecil? Ataukah sejak masa kecil itu, diriku hanyalah sekedar bayang-bayang dari ketidakjelasan kenyataan yang sudah sejak lama pun tak pernah jelas? Aku lahir di sebuah tanah yang tak tahu lagi siapa dirinya. Dunia yang perlahan-lahan makin samar dan hilang.

Di masa yang damai ini, semua orang sibuk dengan keinginannya hidup dengan tenang tanpa keinginan untuk mempercepat proses penemuan dan kemandirian sebuah negara-bangsa. Apa yang terjadi jika tiba-tiba perang besar muncul tak lama lagi? atau krisis ekonomi memporak-porandakan segala kedamaian yang hari ini kita nikmati bersama? Sebenarnya, kita tinggal di negara ini untuk apa? Untuk apa sebenarnya segala macam proses pendidikan kita yang melelahkan dan membuat frustasi? Apakah untuk diri kita sendiri, agama, negara? Untuk apakah kita sebenarnya?

Negara ini, berisikan mayat-mayat hidup yang berkeliaran tanpa tujuan yang pasti. Semua orang berjalanan gontai dan lelah. Semua orang sakit. Dan semua orang berpura-pura tersenyum dan menjalani kehidupannya dengan topeng. Semua orang berpura-pura mencintai segala sesuatunya. Semua orang berpura-pura terikat kuat dengan jati dirinya. Padahal kita semua tahu, tak ada lagi yang jelas dan pasti di dunia yang hari kita tinggali. Kita telah kehilangan rumah bagi jiwa kita. Dan kita pun kelalahan dan semakin kelelahan.

Akan jadi apakah negara ini jika pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, konsumerisme, bunuh diri, gangguan jiwa, polusi dan udara yang panas telah menjadi bagian dari darah kita sehari-hari? Dunia macam apakah yang kelak akan ada di depan sana ketika segala sesuatunya sangat membingungkan. Ketika kita tak lagi tahu letak dari kebenaran, yang baik dan buruk, dan apa yang layak dan wajar. Dan ketika semua yang kita pakai berasal bukan dari kita sendiri. Kita pun lupa akan apa yang ada di sekitar kita.

Sebagai seorang yang lahir di tanah Jawa. Aku pun merenung. Apakah Jawa itu sebenarnya? Ketika kian hari, anak-anak muda sekitarku pun sudah tak lagi tahu nama pohon yang tumbuh tepat di depan rumahnya atau jalanan yang setiap hari ia lewati. Ketika anak-anak muda hari ini telah lupa berbagai macam jenis hewan liar yang semakin susah ditemukan di sudut-sudut kota. Ketika banyak dari kita, generasi muda pun tak tahu lagi apa itu sejarah dan berbagai macam adat dan tradisi yang ada di masing-masing tempat kita lahir. 

Saat kita telah lupa dan tak lagi peduli dengan asal mula diri kita sendiri. Setiap hari kita membangun tubuh, pikiran dan hati kita dengan agama, budaya, ilmu pengetahuan, dan gaya hidup yang dihasilkan oleh negara dan peradaban yang jauh. Lalu apa yang tersisa dari kita? Apa yang kelak mampu kita bangun di masa yang akan datang jika rumah kita sendiri pun terlupa? Ataukah identitas itu hanyalah sekedar kesenangan semata. Sesuatu yang membuat kita senang dan damai, itulah identitas kita. Segala sesuatu yang membuat kita sedikit bahagia, itulah identitas kita.

Hingga pada akhirnya, aku tak tahu lagi apa itu identitas. Apa itu kepribadian. Dan siapakah diriku ini sebenarnya. Lebih mudah kalau aku menyebut diriku sendiri sekedar manusia dari pada seorang Jawa, Madura, Toraja, Tionghoa, Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Asia atau Eropa. Aku hidup di sebuah negara yang tak pernah jelas. Maka, aku pun menjadi seorang manusia yang juga tak pernah jelas. Lalu, sebelum aku mungkin akan bunuh diri. Aku ingin menelusuri sedikit sisa dari darahku. Dari tempat aku lahir. Apakah yang masih tersisa dan apa yang kelak mungkin akan terjadi.

Aku pun mencoba melakukan perjalanan. Menembus rimba. Mengembara di tanah asing.

Jawa, tempat aku dilahirkan. Adalah tanah asing yang pertama ingin aku masuki kembali. Hari ini aku nyaris tak lagi mengenal tanah ini. Dan aku pun tak tahu apa itu Jawa. Seperti kebanyakan orang yang mungkin tak tahu asal mereka masing-masing. Tak lagi tahu tanah di sekitar mereka hidup. Begitulah aku lahir dan berjalan. Aku tak tahu tempatku selama ini hidup dan berpijak. Sejak awal, aku adalah generasi yang hilang dan tak menentu. Dan ketika kota semakin berkembang dan desa-desa kian hari. Aku tak tahu lagi dirku ini apa dan siapa. Aku harus berani lagi bertanya pada diriku sendiri walau itu menyakitkan. Apa itu Jawa?

Ataukah mungkin Jawa tak pernah ada? Seperti berbagai macam suku lainnya di negara ini yang pada dasarnya tak benar-benar pernah ada? Goenawan Mohamad pernah berkata bahwa “Jawa memang harus selalu dengan tanda kutip. Jawa yang sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada paling-paling Sala yang berbeda dari Yogya, Yogya Kauman yang berbeda dari Yogya Keraton, lain pula dengan Banyumas, dan Banyumas Kulon yang lain dengan Tegal Wetan...”. Dan Jawa yang banyak dikagumi oleh orang-orang Eropa dulu, Apakah juga Jawa yang lain? Apakah Jawa adalah sebuah sistem pemerintahan, kebudayaan, bahasa, peradaban, ataukah sebuah wilayah atau pulau? Yang mana Jawa Barat dan Jakarta hari ini masuk ke dalam Jawa secara wilayah dan kepulauan ataukah seperti yang dahulu orang-orang masa lalu katakan bahwa Jawa adalah yang berada di Tengah dan Timur, tidak di Barat yang seringkali dianggap sebagai tanah asing bagi para raja dan sultan Jawa terdahulu?

Sebagai seorang yang lahir di Jawa, aku tak tahu apa itu jawa. Apakah Jawa itu pewayangan, gamelan, tayub, dan candi-candi dengan segala macam ritual hindu yang hari ini masih tersisa di banyak lapisan masyarakat pedesaan dan sedikit masih mengendap di sudut-sudut kota? Ataukah Jawa itu bercorak Islam, Kristen, atau Jazz, Rock and Roll, dan segala macam pemikiran dengan berbagai macam teknologi budaya dari Eropa dan Timur Tengah bahkan Latin? Apakah Jawa itu kota-kota yang bangunannya dan pusat pemerintahannya dengan bangga menggunakan bangunan-bangunan warisan kolonial di Era Belanda dan lainnya? Ataukah Jawa adalah keraton-keraton yang tentaranya menggunakan baju perang ala Eropa beserta senjata dan segala macam pernak-perniknya. Apakah Jawa itu hanya sekedar bahasa? Ataukah Jawa itu adalah sawah-sawah yang menghampar yang mana para penduduknya hidup bersahaja dan nyaris tahu semua jenis hewan dan tetumbuhan yang ada di sekitar mereka hidup. Ataukah Jawa adalah anak-anak muda yang lahir di kota yang bahkan mungkin tak tahu apa itu bambu dan tokoh Mahabarata bahkan mungkin tak tahu nama orang tuanya sendiri. Lalu apa dan siapakah itu Madura, Betawi, Minang, Padang, Toraja, Saman, Dayak, Bugis, Batak, Papua bahkan Tionghoa?

Dan apakah Indonesia itu? Sebuah negara yang lahir bukan atas dirinya sendiri. Sebuah negara yang lahir dalam ketidakjelasan dan selalu jatuh pada bayang-bayang. Sebuah negara yang melahirkan bayi-bayi baru yang tak tahu siapa dirinya sendiri ketika nanti tumbuh menjadi sosok dewasa yang mampu cukup berpikir.

Di sinilah aku lahir. Dari sebuah negara yang tak jelas. Dari sebuah budaya dan daerah yang juga tak pernah jelas. Sebuah dunia yang segala sesuatunya pun tak jelas. Aku pun perlahan dan pasti, menjadi anak muda yang tak tahu dirinya sendiri. Anak muda yang bahkan bingung membicarakan benar dan salah. Bingung membicarakan ketaaan atau kesenangan. Bingung akan agama atau untuk kepentingan diri sendiri. Bingung akan berbagai macam kebenaran. Bingung akan kegilaan yang dianggap wajar. Bingung dengan segala hal yang berjalan, berputar, masuk dan pergi dalam diriku selama ini. Dan aku tak tahu lagi, Tuhan itu berada di jalan dan sifat yang mana.

Aku pun hidup di dalam masyarakat yang hampir setiap hari berisikan pembunuhan, intrik politik, suap dan korupsi, pencabulan, pemerkosaan, sakit jiwa, sejarah yang tak jelas, oportunisme, egoisme akut, dan permusuhan antara satu dan lainnya. Dalam dunia seperti itulah, aku dilahirkan dan tumbuh.

Lalu aku pun memutuskan, sebelum aku mati, gila, atau segala sesuatunya di sekitarku menjadi berantakan dan hancur. Aku ingin mengenal kembali tanah yang aku hirup. Membayangkan apa yang masih tersisa dan kelak akan menjadi. Aku lahir di tanah yang sangat asing. Sebuah tanah yang dikisahkan oleh orang-orang asing. Dikagumi oleh orang-orang asing. Dan dibentuk oleh orang-orang asing pula.

Aku pun memutuskan untuk mengembara. Memasuki kota demi kota. Berawal dari Jawa yang hilang. Lalu menuju berbagai kota lainnya di Indonesia.  Apa yang masih terisa dari negara ini dan apa yang kelak akan hilang dan hancur. Aku pun kembali menuju asal mula. Menembus ketidaktahuan dan memasuki kegelisahan yang tak akan pernah selesai dan mungkin tak terpecahkan.

Pada dasarnya, aku melakukan perjalanan karena sudah bosan menjalani hidup. Ah, aku sudah lama sekali ingin mati. Kadang bunuh diri adalah pikiran yang memikat. Tapi, otak ini pun tak kunjung diam. Perasaan ini pun tak kunjung berhenti. Pencarianku akan segala macam pertanyaan membawaku pada kesimpulan filasafat yang tak akan mudah diterima oleh semua orang dan bahkan sebagian dari diriku sendiri. Sementara itu, perjalanan tak pernah menyelesaikan apa pun. Perjalanan hanyalah menunda rasa sakit, kesepian, dan ketidakberartian. Perjalanan adalah obat bius yang hanya ada untuk sementara waktu. Dan perjalanan hanya menunda kematian untuk kesekian kali. Karena itulah, perjalananku adalah sebuah jejak kecil yang aku ingin tuliskan sebelum semua berakhir. Sebuah rangkaian dari sekian banyak keinginan untuk menuliskan berbagai macam gagasan-gagasanku. Menembus Jawa dan Indonesia, adalah gagasan dan separuh dari kekecewaanku akan dunia dan semua hal. Dan sebelum aku mengakhiri kisah hidupku sendiri. Aku ingin membagikan dunia yang selama ini aku rasa dan pikirkan.

Aku pun, pada akhirnya harus tertatih-tatih, mencari sisa dari duniaku yang hilang. Memasuki dunia asing. Mengembara di tanah yang tak lagi aku mengerti dan pahami. Pada awalnya adalah ketidakpastian dan berakhir pada ketidakpastiaan yang lainnya. Dari dunia yang kacaulah, aku memutuskan untuk mengembara di tanah asing. Menembus diriku sendiri dan semua orang yang tak mengerti untuk apa mereka sebenarnya ada dan hidup.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar