Kamis, 19 Mei 2016

KETIKA MANUSIA HANYALAH STATISTIK











keberadaan golongan  menengah yang terdidik
adalah baru. urbaninasi adalah sesuatu yang baru.
orang yang hidup di perkotaan pun orang baru.
dengan kata lain, keadaan yang seluruhnya baru
tiba-tiba muncul dalam waktu singkat, dan orang
meraba-raba untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan itu. mereka belum mempunyai budaya
untuk menghadapinya. kebudayaan ranah publik
mereka sedang terbentuk.
Niels Mulder
Wacana Publik Indonesia: Kata Mereka Tentang Diri Mereka





Jogja bergerak sangat lambat, membosankan, dan bisa membawa orang kepada kesintingan yang berjalan terlalu pelan dan menyiksa. kadang, ketika aku sedang merenung dan mengingat-ingat tentang rasanya hidup di kota ini, sebagian dari diriku persis seperti apa yang dialami Nile Mulder dalam kisahnya, Di Jawa: Petualangan Seorang Antropolog

bagiku, kota ini adalah keramaian yang sangat menyiksa. itulah Jogja.




beberapa waktu ini aku berpikir, betapa tololnya dan tak bergunanya kehidupanku ini. dan, entah kenapa, aku hanyalah bagian dari statistik yang membosankan dan tak penting dari milyaran manusia di dunia. sungguh-sungguh keberadaan tak penting dan bahkan tak perlu ditangisi atau diingat.

sekian lama aku mencoba memasuki dunia para diktator, perang besar di berbagai dunia, kematian yang mirip pembantaian entah oleh wabah atau politik, atau bencana alam yang menghapus manusia dengan sangat mudahnya. dan dari sekian banyak itu, sedikit sekali nama yang muncul, dicatat dan diingat bahkan dikagumi. lalu aku mengambil kesimpulan bahwa mayoritas besar manusia dan bahkan hampir secara keseluruhan tak berguna, tak penting dan tak perlu ditangisi. 

di depan sejarah, waktu, dan manusia sendiri yang berada di masa sekarang terlebih di masa depan yang jauh, dan di hadapan tuhan, bagi mereka yang mempercayai, atau di bawah alam yang buta; dari sekian banyak manusia semenjak adam atau hominid pertama, hampir semua manusia adalah keberadaan absurd dan tak penting.

akhir-akhir ini, ketika aku mengayuh sepedaku, atau melangkahkan kakiku menyusuri jalanan Malioboro dan menuju Shopping, ruko buku di kawasan Jogja, dan menuju toko yang sering aku datangi, berita-berita baru yang datang kepadaku terasa aneh dan kadang membuatku ingin tertawa. benar-benar ingin tertawa.

dulu, aku seringkali berceloteh sambil bergurau tapi dengan niatan yang serius bahwa sebentar lagi, tak lama, buku-buku kiri atau yang berkaitan dengan komunisme akan ditarik atau berada dalam situasi genting dan berbahaya. tentunya beserta para simpatisan, aktivis dan mereka yang secara terang-terangan menyukai dan mendukungnya. dan beberapa hari terakhir ini, kondisi Jogja dan Indonesia dalam keadaan yang cukup buruk mengenai isu kemunculan lagi komunisme. banyak toko buku ketakutan dan akhirnya mereka memilih tak menjual buku-buku semacam itu untuk jangka waktu entah. dulu, apa yang aku omongkan ini dianggap biasa saja, tak terlalu penting dan diremehkan begitu saja. tapi aku tak perduli. aku hanya ingin sekedar tertawa. 

kadang jika aku memikirkan komunisme di Indonesia, Partai Komunisme Indonesia atau peristiwa 65, orang yang berjumlah antara setengah juta hingga mungkin tiga juga itu, nyaris tak penting. orang sebanyak itu hanyalah statistik. yang akan dilupakan dengan mudah. tak perlu diingat. dan seketika terhapus dari hadapan sejarah. hidup manusia terlalu sangat singkat, absurd dan tak penting. dan dari sekian banyak yang mati, semenjak Gadjah Mada ingin menyatuhkan Nusantara hingga perang Aceh, Diponegoro terus revolusi 45 sampai peristiwa 65 pun kinidan bahkan menuju reformasi, entah berapa juta yang sudah mati itu, keberadaan mereka semua tak penting. dari sekian banyaknya yang mati, yang diingat dalam sejarah hanyalah segelintir orang. benar-benar segelintir orang. 

Begitu juga saat aku membolak-balik berbagai macam buku, Jerusalem, Stalin; Kisah-Kisah yang Takpun kini Terungkap, Stalin Muda, yang semuanya karya Simon Sebag Montefiore. dan bukunya yang lain, Tokoh Kontroversial Dunia. lalu Attila, The Terracotta Army, Kubilai Khan, Jenghis Khan, The Last Samurai, Samurai, yang semuanya milik John Man. Istanbul karya John Freely. Kairo karangan Max Rodenbeck. 1453 milik Roger Crowley. Paris; Sejarah yang Tersembunyi dari Andrew Hussey. Sejarah Dunia Kuno tulisan Susan W. Bauer. Babilonia-nya Paul Kriwaczek. Sejarah Umat Manusia Arnold Toynbee, Dua Belas Kaisar Suetonius hingga Benturan Antar Peradaban Samuel Huntington, In The bName of Identity Amin Maalouf, Kekerasan dan Identitas Amartya Sen, Arab Israel untuk Pemula Ron David, Sejarah Teror Lawrence Wright dan tiga buku milik Jared Diamond; Bedil, Kuman dan Baja. Collapse. The World Until Yesterday, dan hampir semua buku milik Karen Armstron serta banyak lainnya yang tak perlu aku jelaskan.

aku sedang membangun perpustakaan pribadiku sendiri walau sangat tertatih. dan sebagai seorang pembaca buku, atau pencinta buku, aku dihadapkan pada kisah suram manusia kebanyakan. manusia kebanyakan, dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan, penguasa, atau entah siapa pun itu dan bagi orang kebayakan sendiri di masa kini atau mungkin di masa depan; apa yang disebut orang kebanyakan sangatlah tidak penting. di depan sejarah yang merentang jauh ke belakang, orang umum atau kebanyakan, entah mereka disebut rakyat, warga sipil atau siapa pun itu, keberadaan mereka terlupakan begitu saja dengan sangat mudahnya tanpa perasaan kehilangan yang berarti.

sejarah kebanyakan manusia adalah sejarah yang tak berarti.



di saat kebanyakan manusia hanya dihitung secara statistik, angka, maupun sekedar korban secara umum, maka secara individu, para petualang, penjelajah, backpacker, traveler, pendaki dan entah siapapun mereka yang tak melakukan hal yang luar biasa, akan dengan mudahnya dihapus. selama orang-orang yang hari ini berkeliaran di jalanan, gunung-gunung, lembah dan mengelilingi setiap inci bumi, tak melahirkan sebuah karya yang patut diingat dan penting, penemuan atau penelitian yang bisa diberi tepukan secara nasional maupun internasional. maka kebanyakan orang-orang ini, jika pada suatu saat negara mengalami krisis politik, perang saudara atau kawasan, dan wabah penyakit serta bencana, keberadaan mereka tak terlalu berarti. generasi baru akan menggantikan mereka. dan keluarga mereka yang umurnya tak lebih dari seratus tahun itu, cepat atau lambat akan juga berhenti memikirkannya.

sedangkan bagi mereka yang mempercayai tuhan, aku sungguh sangat kasihan; hidup seenaknya di dunia, bersenang-senang menikmati alam atau lautan, melanggar semua tabu, tak berpikir untuk berkarya atau meneliti, baru saja berumur sangat muda sudah mati dan langsung disiksa di kubur atau neraka. kehidupan menyedihkan yang selama ini nyaris tak terpikirkan oleh mereka yang menyebut dirinya petualang atau backpacker.

dan jika memang tuhan itu ada dan agama memang benar. maka, kebanyakan petualang dan backpacker di Indonesia akan masuk neraka. terserah mereka mau mengabaikannya dan berpura-pura untuk bersenang-senang di alam liar atau bukit-bukit. terserah mereka mau mengelilingi dunia dan memasuki berbagai macam tempat. setelah hidup tanpa karya dan prestasi mononjol; mati, dilupakan, langsung disiksa oleh tuhan. kehidupan konyol yang menggelikan.

dan seandainya seorang dikator muncul atau perang dan wabah besar melanda, mereka semua hanya sekedar statistik. dihadapan tuhan mereka nyaris tak penting. dihadapan waktu, sejarah, dan dunia manusia sangat tidak penting lagi. tak ada yang perduli jika mereka semua mati. siapa yang perduli dengan korban perang dunia, perang Eropa, perang Asia, hingga perang modern di Burundi, Kongo, Suriah dan Irak. dari sekian banyak yang mati itu, berita, media, dan buku, hanya menyebut mereka ratusan ribu jiwa meninggal, jutaan jiwa melayang, setengah juta orang mengungsi. seperti itulah derita orang kebanyakan. ketika mereka mati, apa yang mereka kerjakan dan lakukan, entah sebagai arsitek, insinyur, dokter, seniman, novelis, penyair, pegadang, pebisnis, atau pegawai negeri dan karyawan, politisi, negarawan, pegiat hukum dan berbaga macam jenis petualang, backpacker dan traveler, keberadaan mereka tak akan diingat siapapun lagi selama mereka hanya sekedar menjadi manusia biasa dan umum.

selama ini, siapa yang perduli dan ingat dengan berbagai macam petualang dan pendaki yang mati digunung dan lautan? siapa yang mengingat mereka? bahkan sesama petualang dan pendaki sendiri kemungkinan besar tak tahu ada kejadian yang merenggut hampir sesama dari mereka itu. setelah mereka mati, yang tersisa hanyalah terlupakan, tak dianggap, dan nyaris keberadaan yang tak ada di dunia ini walau dalam kehidupan singkat mereka telah mendaki berbagai macam jenis gunung dan kota-kota di dunia.

keberadaan hidup yang hanya sebagai statistik dan mudah dilupakan ini, seandainya mayoritas besar para backpacker dan pendaki kita mati seketika; aku sangat yakin, hanya segelintir kecil di antara mereka yang kelak akan sering dikutip atau pengetahuan dan karyanya dijadikan berbagai rujukan entah secara nasional mau pun internasional.

selama mereka tak mampu menulis atau menghasilkan sesuatu yang mempesona, beda, baru, atau mampu bertahan cukup lama dan penting, apa yang selama ini mereka lakukan dengan suka cita, penuh kebanggaan, dan seolah luar biasa itu, nyaris tak berarti apa-apa.

jika dia orang beragama, akan langsung disiksa dan masuk nereka. karena mayoritas orang bergama di negara ini hanyalah kepura-puraan dan itu berarti menentang tuhan mereka secara langsung dalam setiap harinya hingga dosa mereka menumpuk dan susah dihapuskan selain dimurnikan lewat siksaan. sedang bagi mereka yang ateis, jika tuhan tak ada, mereka pun akan sekedar menjadi keberadaan hampa tak berguna. mereka mati hari ini atau besok pun, alam tak akan pernah menyesal. seluruh umat manusia pun tak akan perduli. dan mereka akan dengan mudah terlupaka seolah-olah keberadaan mereka tak pernah ada.

dan para penulis yang kini terpajang di Gramedia pun, hanya segelintir saja yang kelak, yang mampu melewati seratus tahun, yang akan diingat dan dikenang. selama seseoarang tak mau berpikir besar dan berpikir serta berkarya jauh melewati waktu dan abad, keberadaan mereka tak terlalu penting dan akan kembali sekedar sebagai statistik dan keberadaan yang tak perlu diingat.

entah dia adalah orang tua yang baik, kakak yang baik, pengusaha yang baik, mahasiswa yang baik, olah ragawan yang baik, pencinta alam yang baik, dan banyak lainnya yang baik dan berprestasi tapi sekedar biasa-biasa saja. semua hal itu tak berguna dan penting.

orang boleh hidup bersenang-senang hari ini, mengelilingi tiap inci bumi dan berbangga diri dengan berbagai macam foto dan catatan perjalanannya. selama itu hanya biasa-biasa saja, maka dia orang tak berguna di hadapan sejarah, waktu, manusia dan tuhan itu sendiri.

begitu juga diriku. jika aku mati hari ini pun, tak akan ada yang menyesalinya. dan aku juga bagian dari statistik orang konyol dan bodoh. orang idiot yang mempertahankan hidup dan berpura-pura bersenang-senang sedang dirinya sendiri tahu, di depan sana, setelah acara senang-senang usai, menunggu ketiadaan atau api nereka. itu berarti, nyaris semua pencinta alam, backpacker, petualang, penjelajah, traveler, dan banyak lainnya itu, yang sudah bangga dengan kehidupan dan pencapaian yang biasa-biasa saja, sebenarnya keberadaan yang tak penting dan mudah dihapus.

seandainya benar tuhan itu ada, Einstein mungkin kini sedang disiksa tuhan. apalagi orang macam aku dan orang kebanyakan lainnya? sungguh kehidupan dan masa depan yang menggelikan dan penuh ironi.




aku mengayuh sepedaku, berhenti di dekat lampu merah 0 km Jogja, membuka Dua Belas Kaisar karya Suetonius, dan mengamati berbaga jenis kendaraan yang bergerak dan berhenti serta orang yang duduk atau lalu-lalang. melihat mereka semua, seolah-olah sedang melihat keberadaan yang hampa dan tak berarti. seandainya mereka semua mati, nyaris dunia akan dengan mudah mengabaikannya sebagai individu. mereka semua akan tercatat sebagai statistik atau orang banyak. hanya sedikit dari mereka mungkin yang akan dianggap penting dan perlu diingat.

saat aku merenungkan dunia ini, sejauh apapun aku memasuki berbagai macam dunia dan melihat berbagai macam hal, diriku sendiri pun keberadaan yang tak berguna. kadang aku bingung, di depan sejarah dan tuhan yang absurd, seorang manusia tanpa penemuan dan karya besar, masih bisa berbangga diri dan ceria dengan petualang hidupnya yang sebentar lagi akan terhapus dan tak tersisa.

mungkin, berjalan adalah menipu diri sendiri dari kenyataan dan masa depan. dan petualangan adalah cara terbaik untuk membohongi diri sendiri; berpura-pura bahagia, dan berpura-pura telah menaklukan dunia.

sebentar lagi, negara ini akan jatuh dalam perang, kebrutalan, dan kengerian yang saling menjatuhkan. dan dalam kubangan kematian yang banyak itu, orang-orang akan hilang dan lenyap sebagai bukan apa-apa.

kedamaian yang semu ini hanyalah sebentar. semua orang sibuk membohongi diri mereka sendiri dengan kenyamanan dan kedamaian dengan cara membuang apapun; nurani dan tuntutan moral.

saat aku memandang langit, betapa kecil dan tak berartinya manusia. betapa kecil dan tak berartinya diriku ini. dan para diktator besar yang aku baca, dan jenius besar yang ada, lebih tahu akan hal itu.

Sabtu, 14 Mei 2016

KLATEN: MERENUNGKAN TENTANG KERUNTUHAN ISLAM DI INDONESIA


















saat kau melihat berbagai masjid di
Indonesia dan ada seseorang yang
mengaku dirinya penganut Islam dan
Muhammad, harusnya dia malu.

hampir semua masjid di Jawa dipenuhi
sampah. sampah adalah iman baru dan
mungkinkah juga salah satu perintah Tuhan?
 merah naga







aku memasuki area masjid Agung Al Aqsha Klaten yang sedang dibangun. dan, baru memasuki beberapa jengkal, suana sudah begitu suram. entah kenapa, hampir setiap masjid di Indonesia itu suananya tampak muram. bagaimana tidak muram kalau baru saja masuk area masjid, sampah menggantikan para malaikat dan lantai rentak membuat sudut pandang yang tadinya elegan mendadak hancur berantakan? 

hari ini, siang yang terik, waktu menunjukkan angka 13;06, dan tepatnya 7 mei 2016. dan aku, seperti orang bodoh yang mengigau tentang surga di bumi yang tak mungkin.

sejujurnya, masjid ini terlihat sangatlah elegan tapi benar-benar seolah terlantar. apakah nasibnya akan sama dengan masjid Agung Jawa Tengah yang kini mirip area pembuangan sampah dan rumah ibadah yang mengecewakan? yah, bisa jadi. tak banyak masjid di kelola dengan baik. jalan saja banyak berlubang, apalagi masjid?

umat muslim di Indonesia adalah salah satu umat yang paling abai terhadap kebersihan rumah ibadahnya dan lingkungan sekitarnya. jika rumah Tuhan saja isinya sampah semua. lalu bagaimana dengan sungai, area kota, dan lingkungan sekitarnya?

aku pun mengelilingi area masjid ini, sebuah proyek sangat mahal yang tak kunjung selesai semenjak 2012 lalu. yah, sudah lebih dari 70 miliar uang dihabiskan untuk masjid ini. kubahnya yang dulu sempat bocor setelah peresmian. lalu menara yang tak selesai walaupun kontrak diperpanjang. dan mungkin setelah jadi, nasibnya akan sama saja dengan masjid Agung Jawa Tengah yang mirip bangunan zaman pra sejarah padahal baru diresmikan pada 2006. yah, 10 tahun yang lalu diresmikan dan kini, masjid itu sudah tampak kusam dan buruk rupa. mungkin masjid ini kelak akan mengalami hal yang sama.

fungsi modern sebuah masjid hari ini adalah untuk tempat wisata. apakah itu adalah salah satu perintah tuhan, mendirikan masjid untuk dijadikan tempat jalan-jalan, berpacaran dan bersenang-senang? dan, jika semua kota dan daerah bahkan gang membangun terus-menerus rumah ibadah, yang diisi hanya sedikit orang dan digunakan oleh kalangan tertentu, apalagi sekarang banyak mushola dan masjid dikunci dan ditutup, maka, itulah masa di mana umat Islam hampir ambruk. membangun masjid tanpa memikirkan lahan yang hampir habis dan pemanasan global, seolah-olah sedang menantang Tuhan secara langsung. bukan memuliakan namaNya. tapi pembangunan masjid hanya membuat sekat sosial dan keruntuhan kepercayaan terhadapNya semakin lebar.

beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan kabar mengenai penelitian yang menyebutkan bahwa setiap tahunnya, sekitar 2 juta umat islam keluar dari agamanya atau murtad. yah, entah itu benar atau tidak, aku akan tinggal bilang, bagaimana tidak murtad jika mengurus sungai, jalan, dan masjid saja tidak becus? bahkan membersihkan area masjid dari sampah saja umat Islam abai dan terbukti tidak mampy. lalu, apa yang harus dipertahankan dari agama ini jika contoh di sekitar masyarakat yang sekarang mulai semakin cerdas pun gagal total atau malah, kebanyakan bersikap masa bodoh?

melihat berbagai macam masjid yang bagai terlantar di seluruh Jawa, seolah-olah sedang melihat hati dan kecerdasan umat Islam secara luas. dan itu juga tanda-tanda Islam semakin lama akan semakin terkucilkan dan ditinggalkan oleh banyak orang. tapi siapa yang perduli? teman-temanku saja yang mengaku ingin mendirikan peradaban Islam saja nyaris tidak perduli. apalagi masyarakat umum yang mungkin lebih tepatnya adalah abangan, seperti Geertz bilang?

aku melihat banyak sekali remaja dan anak muda, kebanyakan perempuan, sibuk mengambil pose untuk dipotret. jadi, fungsi masjid adalah untuk berselfie dan mengabadikan gaya. aku tak tahu, bagaimana reaksi Muhammad yang berada di surga, jika kebanyakan rumah ibadah sekarang diisi oleh cabai-cabaian? aku benar-benar tak mampu membayangkan.

pada akhirnya, aku pun mendata warga baru kota klaten dan pengunjung tetap masjid yang sekarang sedang menjamur dan seolah menjadi tren baru rumah ibadah.

tap tap tap. aku berjalan, sampah plastik keripik Kusuka menyapaku. hai, mungkin seperti itulah katanya jika ia juga manusia. lalu ada wadah rokok Sampoerna, LA, Djarum, dan puntung rokok yang berserakan, seolah-olah ini bukan rumah Tuhan tapi pabrik rokok atau tempat area konser dangdut. aku pun kembali berjalan. tap tap tap. sedotan, plastik es, tisu, Indomie, Beng-Beng, Aqua, tisu Paseo, botol Kratindaeng, dan lainnya, sedang sibuk menyamar menjadi rerumputan. mungkin mereka semua sedang latihan untuk menggantikan James Bond atau sedang berencana syuting Mission Impossible?

aku tahu, apakah sampah bisa beribadah memuji Tuhan ataukah umat Islam Indonesia sedang berusaha memanusiakan sampah dan diajak untuk beribadah padanya? 

dan, sekelompak burung gereja berlarian di depanku. ah, aku sangat suka burung walau akhir-akhir ini, burung gereja pun sangat susah untuk ditemukan. lebih mudah menemukan dan berbincang dengan berbagai macam sampah dari pada burung-burung di area hampir semua masjid agung yang ada. apakah umat Islam menolak burung-burung? dan kenapa, di negara, apalagi pulau Jawa yang umat beragamanya sangat besar, dari berbagai macam agama, burung saja nyaris susah ditemukan? ah, tapi aku menemukan belalang kayu di tempat ini. sayang kemampuan terbangnya sudah hilang karena sayapnya rusak dan tak lagi mampu untuk mengudara. setidaknya masih ada kehidupan lainya selain manusia dan manusia.

aku pun berbincang sejenak dengan salah satu bapak-bapak yang ada di bawah pohon Gayam yang tersisa. sebuah pohon yang katanya tak boleh ditebang karena mengandung unsur mistis. masjid ini dibangun di atas kuburan Belanda dan China, sebagian sekolah dan terminal. sisa-sisa bangunan sekolah yang kini mirip reruntuhan perang dunia pun ada di sekitar masjid ini.

bapak itu, yang mengaku dirinya ketua RW di salah satu desa di Klaten ini, membicarakan acara bersih-bersih desa dengan sangat antusias, yang akan diselenggarakan pada akhir bulan mei nanti. benar-benar sangat antusias. antusias. semangat. menggebu-gebu. dan benar-benar gila. apa, bersih-bersih desa yang diadakan dengan besar-besaran dan sangat semangat, tapi area masjid ini saja nyaris tak bersih sama sekali dan sampah berserah di mana-aman? apakah kebersihan masjid itu tak penting? apa ini? logika macam apa ini? entahlah, aku bingung. masyarakah di Jawa memang susah untuk bisa diukur dan dijelaskan. 




aku pun bersiap-siap pergi. dan para perempuan muda masih sibuk berpose ria, dan tak perduli entah itu rumah ibadah atau mungkin kuburan.

sebelum aku pergi, aku pun sedikit melihat sekitar; ada bunga Kamboja di situ. Ketapang. Palem. dan pohon Gayam yang menjadi satu-satunya pohon peneduh yang cukup besar. di area masjid ini pun, panas adalah neraka baru di hampir semua masjid raya dan agung yang ada. kadang aku berpikir, apakah ini rumah tuhan atau rumah neraka? 

saat menyusuri jalan Pemuda, aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri. jika seluruh umat beragama nyaris tidak perduli dengan lingkungan dan kebersihan rumah ibadah mereka sendiri, apajadinya dengan Indonesia ke depannya? terlebih, jika negara ini memiliki kelebihan umat beragama yang sangat tidak cerdas, abai terhadap banyak hal, dan hidup untuk kepentingan diri sendiri?

aku menyusuri jalan yang kanan dan kirinya terdapat pedestrian lebar dan suasana jalan dan pohon-pohon yang mirip dengan Surakarta. kota ini, adalah cerminan dari kota itu. dan rumah-rumah yang lebih tertata dari pada Jogja yang tak jauh dari kota ini yang tampak lebih berantakan. sejujurnya kota kecil ini, dengan penduduk kurang dari 150 ribu jiwa, adalah kota yang cukup bersih dan terlihat rapi. walau, saat dilihat dengan mata yang tajam dan sedikit jeli, banyak pengabaian di sana-sini. sampah terselip di berbagai macam tempat. dan aku rasa, suatu nanti, pedestrian yang lebar ini pun akan habis oleh pedagang kaki lima. untuk saat ini, pedagang kaki lima tak terlalu banyak dan terasa mengerikan seperti yang ada di Jogja. 

di sebelah masjid Agung Al Aqsha, terdapat monumen Juang 45, yang nyaris tak terawat, berantakan, sampah menumpuk, dan lantai yang retak di banyak tempat. jadi, monumen yang dijadikan simbol budaya, karena di dalamnya terdapat gelari seni, dan rumah ibadah yang menjadi simbol tuhan, hanyalah simbol-simbol terabaikan yang tak terlalu penting menurut warga yang ada di kota ini, jadi tak perlu diperhatikan secara khusus.

budaya Jawa, dan agama Jawa modern, adalah agama sama dan pengabaian. 



aku kini berada di area parkir Plaza Matahari Klaten. bukti dari kegagalan lainnya kota ini. pada tahun 2003, kota ini gagal membuktikan dirinya menjadi kota otonom. kegagalan itu sangat terasa di Mall yang lebih mirip pasar. sebelum masuk saja, sampah sudah bertumpuk di sudut-sudut. ketika masuk di lantai 1, plastik juga ada di sudut-sudut dan beberapa tempat. dan ketika naik ke lantai 2, lalat pun bisa terbang dan berakrobat ke sana ke mari. itu benar-benar mengagumkan. baru kali ini aku melihat Plaza Matahari mampu ditembus oleh lalat dan juga sampah! ah, sejujurnya aku tak ingin heran. di negara dengan 17.000 pulau ini, tak ada yang perlu diherankan bukan?

Plaza ini nyaris runtuh. lantai 3 dan 4 nya tidak berfungsi dan ditutup. lantai yang mulai retak. pendingin ruangan yang lebih mirip kipas angin. dan suasana yang lebih mirip swalayan dari pada mall.

aku duduk di kursi-kursi kecil di dalam area game zone. melihat anak-anak kecil dari mulai kalangan berada hingga mereka yang dari kalangan bawah, asyik menikmati modernisasi dan keajaiban dari teknologi dan kesenangan yang dahulu kala akan susah dicari. Plaza ini adalah tempat dari segala kelas sosial berkumpul menikmati hidup mereka yang konsumtif dan penuh rasa ingin. tapi sama halnya dengan masjid agung yang terlantar dan juga tempat budaya yang terlantar. geliat ekonomi pun seringkali mengabaikan banyak hal. 




inilah yang aku resahkan setiap kali mengunjungi berbagai macam kota. jika kelas bawah kelak beranjak menjadi kelas atas saat kesadaran mereka akan lingkungan, alam, sosial, dan poltik masih serendah ini, sementara kelas atas yang ada juga bersikap masa bodoh dengan banyak hal, apa yang akan terjadi dengan Indonesia? apa yang akan terjadi dengan Jawa yang semakin hari mirip seperti neraka yang mengerikan?

sementara itu, kendaraan pun setiap hari bertambah dengan pesatnya. begitu juga di kota ini. naik 30 persen menurut Tribun Jogja. dan suara merdeka mengatakan bahwa jalanan Klaten terancam oleh jumlah kendaraan yang terus meningkat. di seluruh kabupaten, menurut UP3AD kab. Klaten, jumalah kendaraan bermotor berada di kisaran setengah juta dan roda empat hampir mencapai lima puluh ribu. yah, jika kendaraan terus bertambah sedang hati nurani dan kecerdasan otak tidak juga bertambah, kota ini cepat atau lambat akan mengikuti Surakarta dan Jogja. jalan Klaten pun sudah semakin ramai. padahal kota ini belum mendapatkan keinginannya untuk menjadi kota otonom. 

sebelum menjadi kota tersendiri, masyarakat yang ada sangat abai terhadap banyak hal. mungkin itulah yang dulu juga terjadi di Jakarta. sebuah kota yang dipaksa berdiri tanpa menimbang dulu keadaan mental, jiwa, dan kecerdasan suatu masyarakat yang ada. mungkin, seluruh kota di Jawa, lahir karena kebutuhan yang sempit dan lebih pada berbasis pada militer, ekonomi, dan strategi pemerintahan kolonial. tapi jika melihat pemerintah kolonial sudah pergi, alasan mendirikan sebuah kota yang berusaha berdiri sendiri di luar kabupaten yang ada, adalah alasan yang sepertinya sangat berantakan. tak ada persiapan menyeluruh untuk menetapkan diri menjadi sebuah kota. kota didirikan hanya sekedar berdasarkan alasan ekonomi dan tampilan fisik yang ada. dan jika terus-menerus seperti itu, maka kota-kota baru yang kelak akan terus bermunculan, hanya akan menciptakan masalah dan masalah.

jika Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Jogja, hingga Surabaya saja tidak becus menjadi contoh yang baik sebagai sebuah kota, apakah kita tidak sangat pesimis tentang masa depan kota-kota yang baru? masa depan Indonesia secara keseluruhan?

karena mendung dan hujan akan jatuh, aku pun bersiap-siap pergi, melihat sebentar suasana alun-alun dan bergegas menuju Jogja. 

alun-alun kota ini cukup rapi seperti halnya Magelang. cukup enak dipandang. ramai. ada taman kota di sebelahnya dan masjid Raya Klaten. dan tentunya sangat ramai jika malam tiba. pohon-pohon waringin terlihat kokoh di sudut alun-alun. dan suana ramai yang dimeriahkan berbagai macam kendaraan mobil dan motor, membuat kota ini kelak akan tenggelam dalam kemacetan dan suasana yang tak akan lagi nyaman seperti saat ini. 

jika ke angkringan menggunakan mobil dan motor. jika hanya ke sebuah toko menggunakan mobil dan motor. jika ke rumah ibadah menggunakan mobil dan motor. dan jika sekedar ingin ke rumah teman juga memakai mobil dan motor dalam jarak cukup dekat. maka, shilang selamanya. etiap kota yang ada akan runtuh dalam depresi dan kemarahan. 

masyarakat di seluruh Jawa, dan mungkin Indonesia adalah masyarakat yang jika meraih sedikit saja kekayaan atau malah benar-benar menjadi kaya, mereka akan dengan mudah meninggalkan gaya hidup yang lama; entah naik sepeda atau angkutan umum. coba bayangkan, jika seluruh orang yang kini adalah kelas bawah tiba-tiba menjadi sejahtera dan kaya raya? apa yang akan terjadi? sementara itu kelas atas yang kaya pun lebih berjiwa gengsi dan tak mampu bersusah payah seperti teman mereka yang kini berada di jalan Tokyo, Amsterdam, atau Berlin dan London yang rela jalan kaki, naik sepeda dan menggunakan angkutan umum. 

masalah besar Indonesia adalah bagaimana mengubah wilayah kesadaran dan gengsi akan status sosial di masing-masing jiwa dan otak setiap orang yang ada di negara ini. itu masalah sulit yang bisa membuat siapa saja gila. yah, anggota dewan perwakilan rakyat saja lebih suka menggunakan mobil mewah dan berharga mahal, rumah banyak di sana-sini, lalu apa yang harus dicontoh oleh masyarakat jika bukan gaya hidup yang sama?

dan, Jawa masa depan sangat terlihat suram. begitu juga negara ini. dan ketika aku berpikir dan memandang jauh ke masa depan dengan dunia yang hari ini aku amati dan alami, Islam akan menjadi salah satu agama yang kelak akan banyak ditinggalkan. rumah bagi orang-orang yang kecewa yang pada akhirnya memilih untuk pergi. dan,mungkin, kelak agama ini akan sekedar menjadi gema masa lalu dan hanya tinggal sisa kecil dari sebuah komunitas di suatu daerah tertentu saja. Islam adalah salah satu agama yang paling banyak diabaikan oleh para penganutnya sendiri di negara ini. dan sebuah kota yang aku lihat dan rumah ibadah yang aku masuki, berbicara tentang masyarakat yang gagal untuk menjalankan agama dalam lingkup spiritual maupun sosial dan publik. 

aku pun meninggalkan Klaten, menuju Jogja yang lebih semarak tapi hancur berantakan, luar maupun dalam.

Kamis, 12 Mei 2016

SEMARANG: KOTA NERAKA















Sekarang ini, apa yang menyakitkan adalah kecantikan.
Nomi Wolf
Mitos Kecantikan




Jika ada sebuah kota yang pada siang hari sangat menjengkelkan, itulah Semarang. Panasnya benar-benar tak bisa lagi dijelaskan oleh kata-kata. Kadang aku berpikir, apakah ini markas besar para iblis di Asia Tenggara? Yah, mungkin. Atau pada dasarnya, lajur pantura adalah wilayah yang harus dimasukkan sebagai produk gagal sebuah kota. Jika orang beragama benar, inilah tempat paling berdosa di Indonesia selain Jakarta dan beberapa kota lainnya. Panas adalah cerminan dosa itu. Lalu, apakah Timur Tengah dan Afrika panasnya tidakkah lebih mengerikan lagi? Yah, tidakkah banyak nabi lahir dari sana? Itu berarti di sanalah asal mulanya dosa besar berada. Kalau dipikir-pikir lagi, indeks suhu lingkungan atau udara panas suatu kota bisa dijadikan pegangan untuk mengukur tingkat keimanan, kesadaran, wawasan dan ilmu pengetahuan, empati, hingga nasionalisme dan spiritualisme suatu kota dan daerah. Bahkan tingkat kecerdasan suatu kota. Mungkin ini terlihat mengada-ada. Tapi benar-benar sangat mungkin.

Di pedalaman pegunungan Asia, ada seorang raja, Wangchuk, yang pada tahun 1973 mengeluarkan gagasan berupa Kebahagiaan Nasional Bruto. Mungkin itu terdengar gila. Tapi tak masalah, negara ini bahkan lebih gila dari pada Bhutan. Ya, di Bhutan sana, seorang raja sedang ingin mengukur warganya dengan ukuran kebahagiaan bukan ekonomi seperti yang berada di negara-negara Barat. Banyak orang mengatakannya absurd karena kebahagiaan tidak bisa diukur. Sejujurnya ini sama saja dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang keterlaluan pintarnya ingin membuat seluruh masyarakat di lima benua menjadi sejahtera dan keluar dari garis kemiskinan. Lalu, siapa juga yang bisa mengukur kemiskinan di masing-masing hati orang? Dan jika pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia serius akan hal semacam itu, seharusnya orang-orang Belanda mulai dari sekarang harus belajar marah-marah dengan lebih baik lagi. Karena negara mereka akan disapu oleh ombak dan pemanasan global jika pada suatu nanti seluruh orang di dunia keluar dari kemiskinannya. Itu berarti, jika seluruh dunia mengalami kemakmuran, warga Belanda akan tenggelam. Jika aku adalah seorang Belanda, akan aku buang dan injak-injak sistem ekonomi sejak Adam Smith hingga perluasaan kapitalisme dan populisme hari ini. Siapa yang mau rumah digusur dan negaranya tenggelam karena keinginan aneh para pemimpin lembaga dunia dan sistem ekonomi hari ini yang juga sangat anehnya?

Dan semarang adalah salah satu kota tertolol di dunia yang pernah ada. Dan di dalamnya, juga ada sebuah universitas terkonyol sedunia. Jadi, seharusnya tak masalah jika kita bisa membuat indeks kecerdasan hingga iman suatu masyarakat lewat suhu lingkungan dan wajah kota secara ekologis. Tidakkah Majelis Ulama Indonesia bisa dengan mudahnya melabeli hijab dengan halal dan haram hanya karena bahan yang dibuat memasukkan unsur babi di dalamnya? Aku rasa, Indonesia memiliki para ulama yang masih kurang pintar dan cerdas. Sangat disayangkan. Tapi tak mengapa. Lagian masyarakat negara ini juga sudah terbiasa memilih pemimpin yang kurang bisa berpikir sejak dahulu kala. Jika halal dan haram memang ada menurut agama. Maka, semua yang ada di dunia ini, dari mulai laptop, mobil, motor, hingga berbagai teks buku serta celana dalam, semuanya haram. Karena bahan-bahan untuk membuatnya, dari mulai listrik hingga bahan bakunya, berasal dari sebuah negara yang mungkin ateis, penjahat perang, hasil perampokan, barang ilegal, menghancurkan suatu daerah, suku dan bangsa tertentu atau sangat tak ramah lingkungan dan membuat orang lain menderita. Mana ada orang beragama yang memakai celana dalam buatan sebuah perusahan yang merusak terumbu karang mungkin. Atau jilbab yang dibuat dengan merusak sungai-sungai dengan bahan tercermar. Jadi, jika masih banyak orang beragama semacam itu, sangat disayangkan. Atau anggap saja biasa. Indonesia adalah tempat segala sesuatunya pada akhirnya menjadi biasa dan tak perlu dipikirkan dalam-dalam. Masa depan pun, dipikirkan hanya sejauh masih hidup.

Ngomong-ngomong soal dosa, aku tak begitu perduli dengan hal itu. Yang jelas, jika berbagai agama menganjurkan mengasihi alam dan menjaganya. Maka masyarakat kota ini gagal menjalankan agamanya. Dan selain itu, jika di sini banyak aktivis lingkungan, para humanis, pembela kebenaran, dan sederet universitas besar. Maka semuanya gagal. Kota sepanas dan seberantakan ini, pasti diisi oleh orang-orang tak waras yang hidupnya menganut optimisme bodoh. Karena sepanas apa pun suatu kota, pohon-pohon akan meneduhkannya.

Dari pada cinta pohon, kota ini, pemerintahannya lebih menyukai uang dan pertumbuhan ekonomi. Karena itulah, di sepanjang jalan menuju simpang lima, hanya ada sedikit pohon-pohon yang terlihat. Semuanya hampir adalah bangunan dan jalan raya. Kaki dan tanganku pun benar-benar bagaikan melepuh terkena sinar matahari dan panas kota ini. Ditambah laju motor yang aku naiki pun tertatih-tatih karena banyaknya kendaraan bermesin di jalanan. Semarang memiliki jalan utama yang cukup lebar. Tapi lebar jalan pun seolah-olah hampir tak mampu menampung jumlah kendaraan yang lewat dan berada di jalanan. Sudah panas, macet, dan membosankan. Benar-benar neraka kehidupan yang sebenarnya.

Aku pun sampai di simpang lima yang semakin tertata rapi dan elegan. Dalam artian tertentu indah. Dan keindahan selalu saja menipu. Untuk apa jika simpang lima dan sekitarnya indah tapi pohon-pohon dipangkas dan ditebangi? Apagunanya keindahan jika panasnya benar-benar bisa membuat orang jengkel, marah-marah dan membuat otak tak mampu bekerja maksimal dan berpikir secara lebih serius?

Setelah melingkari sebagian simpang lima aku tiba di Masjid Baiturrahman yang nyaris berhadap-hadapan dengan Citra Land Mall. Tidak di Bandung tidak juga di Bogor. Di Semarang pun, masjid raya atau masjid agung berdampingan dengan berbagai macam plaza atau mall. Aku pun memasukkan motorku melewati gerbang masjid. Disambut oleh seorang pengemis yang menundukkan kepala dan tangannya di aspal yang sangat panas. Lebih tepatnya, tidur di atas tungku neraka di siang hari yang mengerikan. Menuju loket parkir, membayar tiga ribu rupiah, masih heran dengan pengemis yang cacat tadi, lalu mencari ruang kosong untuk memarkir motorku. Yah, bisa dibilang, nyaris penuh. Dan entah ada berapa ratus atau ribu motor di area masjid ini. Lalu kaki melangkah. Tap tap tap. Sampah oh sampah...kenapa kau selalu identik dengan rumah ibadah dan orang beragama? Yah, di area masjid ini, bahkan di tangga masjid, di pintu gerbang masjid, sampah plastik dan kertas bertebaran di sana-sini. Mungkin juga sampah masyarakat. Jika menyoal alam, apakah manusia adalah sampah alam? Biasa jadi. Bisa dipikirkan lagi. Menarik juga. Patut direnungkan.


Tap tap tap. Berjalan lagi di tengah terik neraka. Melewati pengemis yang selonjoran dengan sedikit iba. Sekedar melewatinya seperti kebanyakan perempuan berjilbab lainnya yang sekedar lewat. Lalu berbelok ke kanan, ke arah selatan, berjalan di pedestrian, disambut lagi pengemis dan baru saja melangkah beberapa meter, ada seorang gelandangan yang tidur pulas diapit dua pohon Angsana. 

Sejak dulu kala, kota ini masih memelihara gelandangan dan para pengemisnya di pusat kota yang sibuk dengan orang-orang berduit tebal dan juga berhati tebal. Dan para manusia lainnya, entah itu mungkin Muslim, Kristen, Buddhis, Spiritualis, penganut Hindu hingga Agnostik, Ateis, Nasionalis, dan kaum murtad lainnya, berjalan dengan elok dan penuh gaya melewati seorang gelandangan kumal yang beratap dahan pohon dan berkasurkan marmer. Begitu juga mungkin pengkhotbah Marxis, Marhaen, anggota serikat buruh hingga penganjur populisme hingga para pengusaha yang berlabel CSR lewat dengan menganggap tak ada apa-apa. Laki-laki perempuan bergandeng tangan. Ibu-ibu. Bapak-bapak. Kakek. Nenek. Cucu. Oma. Opa. Mama. Papa. Ummi.. Abi. Cici. Kakak. Abang. Teteh. Dan mungkin, dari mulai Batak. Jawa. Tionghoa. Bugis. Toraja. Bajo. Papua. Sassak. Sunda. Bali. Hingga keturunan Betawi dan sederet ras lainnya, lewat dengan tenang dan penuh dengan tas belanja di tangan mereka. Menoleh sebentar. Lalu lanjut lagi untuk berjalan. Seperti itulah kehidupan sehari-hari.
Gedung Kesenian
Aku pun kembali berjalan di pedestrian baru, pergola baru, dan pohon-pohon yang cukup teduh walau tak terlalu banyak. Suasana cukup baru yang elegan. Menuju Gramedia. Melewati sampah. Sampah. Sampah. Yah, sampah lagi. eh sampah. Dan sampah lagi. barulah masuk lewat pintu parkir mobil sebelah timur yang dibuka sedikit dan tibalah di perpustakaan pribadi aku; Gramedia Pandanaran.

Kadang, dari pada pergi ke perpustakaan yang sumpek di samping Gedung Kesenian Taman Budaya Raden Saleh yang riwayatnya seperti orang sedang sekarat menunggu mati. Aku lebih memilih membaca di Gramedia ini, dan nyaris setiap hari. Adakalanya seminggu tujuh kali aku berada di toko buku ini. Yah, aku tak tahu apa ini gila, keranjingan membaca, atau mencari gratisan ilmu. Karena itulah, aku selalu menggap Gramedia ini adalah rumah keduaku bahkan aku anggap sebagai perpustakaan pribadiku! Yah, tinggal datang. menitipkan tas. Cari buku yang dibuka atau kalau tidak, ya buka sendiri segelnya, cari yang menarik, baru, atau sesuai kebutuhan, dan baca terus sampai tuntas walau itu harus beberapa hari menyelesaikannya. Tapi, aku jarang membaca sampai tuntas di tempat ini. Hanya beberapa kali dan itu pun buku-buku yang kurang dari seratus lima puluh halaman. LebihGedung Kesenian sering membeli buku yang menarik duniaku. Dan di sinilah aku membaca buku Alan Lightman, Mimpi-Mimpi Enstein hingga habis. Buku kecil puitis dan mempesona tentang Einstein dan waktu. Buku yang sampai sekarang masih aku kagumi dan terkadang aku baca kembali.

Percaya atau tidak. Aku berada di tempat ini dengan cara-cara yang wajar dan juga aneh. Sehabis sekolah. Lalu sehabis dari kampus. Dan sehabis demonstrasi entah menentang pemilu, presiden yang buruk, pendidikan yang mahal, atau kenaikan bahan pangan, hari buruh dan segala macamnya. Lalu sehabis demonstrasi dengan kaum fundamentalis. Atau sehabis menggelar aksi dengan Greenpeace, Earth Hour, atau mendeklamasikan puisi dengan komunitas sastra dan lain-lain. Yah, dulu, aku memasuki berbagai macam tempat. Mencari tahu segala kemungkinan. Berada di antara kaum sosialis. Fundamentalis agama. Lingkungan hidup. Sampai sekarang pun aku masih menganggap diriku sebagai pencinta lingkungan walau kadang bahkan lebih sering bersikap masa bodoh. Menjadi seorang pemikir bebas. Dan hari ini, seorang liberal. Entah sehabis demo, diskusi, observasi, melakukan tugas kuliah, sehabis mendampingi seorang anggota baru, dan banyak hal lainnya. Aku pasti menyempatkan diri ke tempat ini. Surgaku di tengah neraka panas yang membosankan.

Sampai di tempat parkir motor, aku langsung ke toilet. Menitipkan tas. Melihat sejenak pameran buku murah. Tak sengaja, mataku tertuju pada buku Mereka Bilang Aku Gila. Karena buku itu sangat aku inginkan sebagai salah satu bacaan untuk mengembangkan gagasan psikologiku, aku pun menanyakannya ke kasir. Dan harganya mengecewakan. Mahal. Buku bazar tapi masih mahal. Sangat meruntuhkan hati. Lalu, aku pun bergegas ke lantai atas. Penjaga perempuan yang aku kenal kini sudah tak lagi menjaga rak demi rak yang ada. Dan pada akhirnya, aku akan berpesta dengan buku-buku dan bernostalgia.

Aku salah satu jenis pelahap buku yang bisa menghabiskan berbagai macam jenis bacaan dari sains, psikologi, politik, sastra, sejarah dunia dan berbagai macam peradaban, antropologi, arkeologi, hingga astronomi dan komik. Jadi karena inilah, aku akan sangat kecewa jika bertemu dengan seorang yang lebih bodoh daripada aku. Dulu aku bisa dengan mudahnya menyebut seseorang dengan idiot, tolol dan goblok tepat di depan matanya dan banyak orang. Kadang Bahkan seringkali aku bisa kejam jika berkaitan dengan masalah intelektual dan gagasan. Aku tak rela jika ada orang yang lebih idiot daripada diriku di tengah dunia yang nyaris tanpa perang dan kesulitan ini. Sementara di sebarang benua lainnya, anak kecil pun menemukan berbagai macam persamaan matematika, fisika, dan sudah mampu berpikir filosofis. Jadi kebodohan luar biasa banyak orang di tengah-tengah situasi damai yang semu ini benar-benar tindakan keji dan kejam. Anak-anak muda yang usianya setara denganku atau jauh di bawahku lebih suka pergi bersenang-senang dari pada mencoba untuk menggagas dan melahirkan berbagai macam penemuan di bidang sains dan ide sosial hingga filosofis. Apa jadinya jika negara ini kelak diembargo dan terlibat dalam perang panjang sementara kita kekurangan para ilmuwan dan para pemikir yang akan menggagas ulang segala sesuatu? Apakah yang akan bisa kita pertahankan jika semua yang kita miliki kita peroleh dari pihak asing? Semua paten milik asing. Semua teori milik asing. Bahkan identitas kita sendiri dibentuk oleh orang dan bangsa asing. Dan aku benar-benar merasa dikhianati oleh sistem dan budaya pendidikan di Indonesia dengan berbagai macam pengajarnya yang sangat konservatis dan membutakan mata terhadap perubahan dan perkembangan zaman serta ilmu pengetahuan. Dunia pendidikan kitalah yang membuat anak-anak jenius dan berbakat mati dan berguguran seperti nyaris tak berguna. Dan jika kelak bencana besar datang, siapa yang harus disalahkan?

Sikap dan pemikiran semacam itulah yang kadang membuatku merasa sendirian. Itulah yang juga membuatku menjadikan buku adalah teman seumur hidup. Tak tergantikan oleh siapapun. Karena beberapa waktu yang lalu aku diputus oleh seseorang. Jadi buku-bukulah yang tetap setia menemaniku. Di dunia ini, menjadi seorang yang baik dan rela berkorban untuk pasangan tidaklah cukup. Kebanyakan perempuan selalu meminta lebih dan lebih tanpa mau berkorban dan memikirkan penderitaan laki-laki yang menemaninya sepanjang waktu. Seperti itulah kebanyakan perempuan modern atau generasi yang disebut Don Tapscott sebagai generasi internet. Banyak dari mereka benar-benar hidup untuk mementingkan diri sendiri. Seperti itulah generasi baru yang diciptakan oleh para feminis dan melemahnya sistem patriarki yang mereka coba runtuhkan. Hanya saja, banyak dari mereka pun masih tak bisa keluar dari perasaan hampa dan kesepian yang menyiksa. Dan dengan kekayaan dari kedua orang tua atau dari mereka sendiri. Mereka pun akhirnya lari dari kenyataan dan berjalan di gelombang rapuh tubuh yang cantik, tergila-gila menunjukkan lekuk tubuhnya di depan semua orang, dan tergila-gila dengan berbagai macam hal yang bisa membuat mereka dikagumi dan dipuja-puji semua orang; terkhusus laki-laki. Tapi mereka tetap saja masih kesepian dan banyak yang mengalami gangguan jiwa. Terjebak dalam sebuah mitos, seperti yang ditunjukkan oleh Naomi Wolf dalam Mitos Kecantikan.

Banyak orang yang menganggap aku pintar. Bahkan dulu pernah ada seorang guru yang menganggap aku jenius. Selalu disukai oleh berbagai macam dosen yang memiliki pemikiran di atas orang kebanyakan. Dan pastinya, cara hidup dan berpikirku selalu dianggap aneh. Melenceng. Berbeda. Keras. Idealis. Bahkan unik. Banyak orang yang menganggap cara berpikirku berkebalikan dengan kebanyakan orang umum. Dan pemikiranku terasa baru, orisinil, dan terlalu jauh ke depan sehingga tak banyak orang yang mengerti. Yah, seperti itulah aku. Dan itulah salah satu yang membuatku memutuskan mengelilingi Jawa. Mengembara dalam keterasingan sekitar dan lingkunganku sendiri. Tapi aku selalu saja menganggap diriku tolol. Mudah lupa akan apapun dan benar-benar memiliki keterbatasan yang luar biasa. Pada dasarnya aku bodoh. Dan sangat menjengkelkan ternyata lebih banyak orang yang kebodohannya melebihi diriku ini. Dan itu terpampang di depanku setiap hari dengan berbagai macam buku tak jelas dan membosankan yang dipajang di rak-rak buku. Apakah tak ada pemikir yang mempesona dan berpikiran jauh di negara ini? seperti itulah pikiran yang terlintas, yang pada akhirnya berujung kecewa jika aku sedang memandang rak-rak yang memanjang di Gramedia.

Aku selalu mengagumi Gie dan Nietzsche. Dan aku menemukan apa yang tak berani mereka lakukan di dalam tulisan Alan Weisman, Dunia Tanpa Manusia.

Orang yang tak mengenalku, hari ini akan menyebutkan sebagai laki-laki tertutup. Pada dasarnya, aku tertutup untuk gagasan-gagasanku. Aku dalam suasana yang tak ingin banyak diganggu oleh siapapun. Aku sedang memikirkan banyak hal. Merencanakan banyak hal. Tentunya, mengurusi kejiwaanku yang nyaris hancur dan keinginan hidupku yang menipis setiap harinya. Pada dasarnya, salah satu bagian diriku disukai oleh banyak orang dan memang sisi lainya sangatlah liar dan gelap. Dan akhir-akhir ini, aku sedang menuju ke arah sisi tergelapku.

Tapi kali ini aku ingin menikmati buku-buku. Aku sudah berada di lantai dua. Melihat sekilas. Suasana masih sepi. Yah, tempat ini pun tak pernah benar-benar ramai. Dalam artian seramai Citra Land dan gerai cepat saji yang ada di dalamnya. Bahkan masjid Agung pun kalah dengan Mall, apalagi toko buku? Ah iya, Masjid Agung lebih banyak motor yang terparkir dari pada orangnya. Seandainya tempat ini mampu seramai bioskop 21, aku mungkin sedang dalam keadaan delusi atau setengah gila. Bisa jadi aku sedang tidak berada di dunia nyata. Semarang memiliki banyak pembaca buku itu nyaris tidak mungkin. Pasti lebih banyak pencinta seks dan caffe! Yah, itulah kenyataannya.

Aku pun berkeliling dari rak sastra, psikologi, hingga ke lingkungan dan perjalanan. Suasana benar-benar masih sepi. Angka jam digital menunjukkan 13:- dan itu pun tak berpengaruh apa-apa. Tempat ini baru akan ramai menjelang sore dan malam. Keramaiannya pun standar. Seandainya tempat ini adalah kuburan, mungkin aku akan berbeda ceritanya. Tapi ini tempat buku di salah satu lokasi paling strategis di seluruh Semarang! Perduli setan, aku pun terpaku di rak lingkungan. Tertarik dengan beberapa buku. Tepatnya tiga buku;Reformasi Perkotaan karya Eko Budihardjo, Lahan dan Kedaulatan Pangandari Gatot Irianto, dan Teknik Konservasi Badak dari tim WWF. Ingin sekali beli. Tapi sayangnya, aku tak mau membebani tasku dengan buku dan buku lagi. Terlebih, aku harus mulai berhemat. Tak banyak uang yang aku miliki akhir-akhir ini. Bisa-bisa nanti aku bangkrut dan gantung diri.

Lalu aku pun bergerak ke deretan politik, biografi, dan sosial. Di deretan rak ini, sejak dahulu kala, jika ada sekitar sepuluh orang yang berdiri atau duduk mengamati dan membaca selama sepuluh menit secara bersamaan itu sudah kejaiban dunia. Benar-benar keajaiban dunia. Melebihi pembuatan dan penemuan Borobudur.  Bahkan mungkin akan menjadi semacam mukjizat Tuhan. Jika ada salah satu ayat Tuhan dari salah satu agama yang berseru membacalah! Sementara umatnya sangat malas dan nyaris tak pernah membaca dan memegang satu buku pun, aku tak tahu harus bilang apa. Mungkin itu salah satu pembangkangan secara terang-terangan. Atau pengabaian dan penolakan agama secara serius dan membabi-buta. Dan itu pun sangat tercemin dengan sedikitnya orang Indonesia yang berprestasi secara internasional dan terlebih jika berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Entah di kalangan para ateis yang hidup diam-diam atau para penyeru agama yang berteriak-teriak. Kenyataannya, kita nyaris mengimpor segala sesuatu dari luar negeri. Dan rak-rak buku serta suasana toko buku ini, mencerminkan masa depan yang suram di kemudian hari.

Selama beberapa puluh menit aku di rak ini dengan memegang buku Zarathustra dari Nietzsche, hanya ada seorang perempuan yang melihat-lihat tak kurang dari lima menit. Sedangkan yang lain hanya anak kecil yang sekedar lewat. Ibu-ibu yang lewat untuk menuju rak agama. Dan laki-laki muda yang tak lama mengarahkan kedua bola matanya ke arah buku-buku.  Jadi, seandainya nanti bagian rak ini bisa terisi lebih dari dua puluh orang matanya sedang sibuk menyusuri buku. Mungkin kelak tuhan akan menghadiahi hujan salju dan musim dingin di kota ini.

Aku pun bergerak ke arah komik. Aku selalu suka komik. Terutama manga Jepang. Dalam artian banyak, sejak kecil aku suka dengan sejarah Jepang, perpolitikan, budaya hingga para mangaka yang menghasilkan berbagai macam  cerita bergambar yang bagiku kadang melebihi novel. Ketika novel-novel menjadi membosankan dan nyaris tak berkembang di negara ini. Aku pun lari ke manga. Banyak ide segar dan imajinatif di dalamnya. Manga adalah surga kreativitas dan gagasan baru yang kadang aneh, unik dan terasa tak mungkin ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan benar-benar mempercundangi novel-novel yang terlihat monoton dan membosankan. Dan di antara deretan komik, ada seorang Tionghoa, muda, dan sangat cantik. Entah kenapa, aku selalu suka para perempuan Asia Timur. Terutama etnis Tionghoa, Jepang, dan Korea. Karena hampir di semua tempat di negara ini terdapat etnis Tionghoa. Terlebih di Semarang. Maka aku sangat senang jika mereka sedang asyik membaca buku. Seorang perempuan Tionghoa yang tengah membaca buku, bagiku sangat mempesona dan menakjubkan. Mengingat tak banyak orang di negara ini yang membaca buku. Begitu banyak orang Tionghoa yang juga mengikuti arus negara ini untuk tak membaca buku. Dan jika ada seorang Tionghoa membaca sebuah buku. Itu keajaiban dan menyenangkan untuk dilihat.

Aku pun membaca komik walau sebentar. Lalu lari ke rak sastra dan bahasa Indonesia yang isinya membuat mataku sakit.  Bagaimana tidak sakit jika isi raknya seperti ini; 101 Hari Menulis dan Menerbitkan Novel, Dasar-Dasar Ketrampilan Bersastra, Panduan Wacana dan Apresiasi Musikalisasi Puisi, Dasar-Dasar Ilmu Semantik, Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi dan lain-lain. Benar-benar mengerikan. Entah kenapa, aku jadi ingat tulisan-tulisan Saut Situmorang dalam Politik Sastra. Kita benar-benar kekurangan para kritikus sastra. Atau paling tidak, orang yang  berani menyuarakan pendapatnya tidak hanya sekedar apresiasi dan berlagak malu-malu atau pengecut. Sedangkan dibarisan novel, kita kekurangan orang yang cukup berani keluar dari arus dan tak hanya sekedar terjatuh pada kehidupan sehari-hari yang tak kunjung selesai. Pada dasarnya, sastra Indonesia bangkrut dan dalam keadaan sekarat. Tapi siapa yang perduli? Yah, bersastra itu mencari uang dan nama. Mencari sesuatu yang lebih besar itu tak berpotensi untuk dibaca dan dipuja. Jadi, seperti inilah sastra kita. Membosankan. Tak terlalu menarik untuk dibaca kecuali sastra masa Pram dan Ahmda Tohari. Atau Chairil Anwar. Itu pun dunia mereka berada dalam dunia keseharian. Dan tak ada generasi hari ini yang berani melampaui mereka kecuali berbagai macam eksperimen yang gagal.

Dalam bukunya, Memoar Seorang Filsuf, Bryan Magee menulis, “waktu yang dihabiskan untuk membaca literatur sekunder adalah kehidupan yang dijalani dalam kedangkalan; sedangkan waktu yang dihabiskan bersama karya-karya filosof besar adalah kehidupan yang dijalani dalam kedalaman samudra yang tiada batas” dan “salah satu hal terburuk dari ketergantungan terhadap literatur sekunder ialah karena hal itu berarti tenggelam sepenuhnya dalam kekeliruan-kekeliruan pemahaman orang lain, padahal melakukan kekeliruan sendiri saja sudah cukup buruk.”

Dan apa yang ditulis oleh kebanyakan orang di Driyakara, Kanisus dan Majalah Basis, hanya sekedar mengulan-ulang dan mengambil gagasan orang untuk ditulis kembali. Hanya sejauh itu. Apakah orang-orang dalam dunia filsafat kita begitu mengerikannya hingga hanya sekedar mengulang dan mengulang yang bisa dilakukannya? Dan puisGedung Keseniani, novel, cerpen, atau dunia pemikiran kita? Tak ada yang bisa menyaingi Homerus atau Zarathustra. Dan bahkan para ilmuwan kita masih harus berhutang banyak terhadap Darwin dan Wallace. Sedangkan psikologi di negara ini masih ketergantungan dengan Freud. Sungguh aneh. Begitu juga sastra mengikutinya layaknya orang yang tak memiliki mata. Apa tak ada yang lain selain Freud dalam dunia psikologi itu? Sedangkan para aktivisnya, masih sangat keranjingan dengan Marxisme yang sudah diserang habis-habisan oleh Karl R. Popper. Apa tak ada yang lebih menarik lagi selain Marxisme? Dan kebanyakan para penganut Marxisme pun otaknya seringkali berhenti diseputar itu saja. Sungguh perkembangan negara yang buruk jika masyarakat telat akan banyak hal tapi sangat tidak telat dalam mengonsumsi segala hal.

Tak banyak pembaca buku di Gramedia. Suasana masih sepi walau beberapa orang semakin memenuhi ruangan. Hanya saja, mereka berkumpul, berdiri, atau sibuk membaca di bagian novel, komik, psikologi populer, bisnis, dan agama. Sejauh itulah dunia yang ada di toko buku ini yang mencerminkan sebagian besar dari apa yang digemari warga atau mereka yang tinggal di kota ini.
Setelah merasa cukup dengan toko buku ini. Aku pun bergegas keluar. Berhenti sejenak di papan nama jl Gajah Mada. Lalu menyeberang menuju Citra Land Mall. Aku sering ke tempat ini hanya sekedar melihat-lihat. Nyaris tak pernah punya urusan penting di tempat ini kecuali di toko buku Gunung Agung. Dan di tempat inilah banyak remaja dan perempuan muda sibuk dengan dunia mereka. Dan harus aku akui sejak dulu bahwa tempat ini adalah ruang berkumpulnya para perempuan modis dan cantik. Tentunya dari kelas menengah ke atas atau kecukupan. Bagi laki-laki, tempat ini adalah surga. Tapi aku datang kemari ingin melihatt, apakah ada, dari sekian ribu orang yang ada di dalam mall ini, terlihat sedang memegang dan membaca sebuah buku?




Yah, aku pun berjalan di tengah-tengah kerumuman manusia. Bahkan jalan kaki di mall ini pun harus terkena kemacetan. Jalan kaki pun tersendat-sendat akibat terlalu banyaknya orang berada di dalam. Tapi tak mengapa, banyak perempuan cantik yang lewat jadi cukup untuk menebus kemacetan kaki. Di sinilah warga Semarang entah asli atau tidak, lebih banyak menghabiskan waktunya dari pada di toko buku atau rumah ibadah. Dan semua orang ingin tampil cantik, seksi, tampan, gaul dan modis.

Aku bergegas ke lantai dua. Langsung masuk Gunung Agung dan melihat deretan buku asing yang menarik hatiku. Ada Shaskespeare dan lain-lain di situ. Dan aku pun menemukan sebuah buku yang menarik mataku seketika; The Orgini of Species karya Charles Darwin, tentunya dalam bahasa Inggris. Aku pun mengambil satu lalu bergerak ke beberapa rak. Tak ada buku yang menarik. Sepi. Sedikit sekali pengunjung di toko buku ini. Tak sengaja aku melihat buku Jenghis Khan yang ditulis oleh John Man dalam bentuk hard cover. Sekian lama susah dicari, ternyata dicetak ulang lagi. Selain itu, yang paling menarik bagiku adalah dari Buku ke Buku karangan P. Swantoro.  Hanya saja cukup mahal. Walau begitu, bagiku, buku yang menarik itu tak terlalu mahal karena kandungan ilmu di dalamnya. Lebih baik membelanjakan uang untuk buku dari pada makanan atau pernak-pernik yang nantinya juga akan rusak atau lenyap dengan mudahnya. Ilmu akan bertahan lebih lama, terlebih jika menjadi sebuah karya. Dan tubuh, atau badan dengan segala kemewahannya ini, hanya sekedar bertahan kurang dari seratus tahun saja. Yah, akhirnya aku ke kasir, menyerahkan The Origin milik Darwin lalu keluar mengamati sekitar. Aku berada di lantai dua.Gedung Kesenian

Aku berjalan. Tap tap tap. Melewati perempuan muda yang kehilangan celananya. Tap tap tap. Payudara bergentayangan ingin keluar. Tap tap tap. Bokong yang nyaris tak tertutupi. Entah itu celana luar atau celana dalam berbahan kain, aku benar-benar tak mengerti. Tap tap tap. Perut dengan pusarnya sudah menjadi biasa di tempat umum. Dan, paha yang tak tertutupi hingga nyaris ke selangkangan, membuat aku sangat heran. Apakah aku sedang berada di rumah bordil atau pelacuran? Sedangkan laki-lakinya, terlihat biasa-biasa saja. Tak terlalu menarik. Banyak laki-laki hari ini lebih bodoh dari pada pihak perempuannya. Tampang pun tak terlalu mengesankan. Lihatlah saja negara ini yang bersifat kelaki-lakian. Negara dibangun laki-laki. Dikuasi laki-laki. Dan dihancurkan oleh para laki-laki. Dengan kekuasaan yang besar beserta budaya patriarkal yang masih kuat, banyak laki-laki yang tak mampu memaksikmalkan kesempatan ini untuk menghasilkan berbagai macam penemuan, paten, inovasi, ide, gagasan atau pemikiran baru dan berguna, dan tak becus mengurus negara ini dengan baik. Laki-laki di negara ini sedang mengalami dekadensi. Kemunduran. Seharusnya, para laki-laki yang hidup di masa ini sangat malu dengan berbagai macam prestasi perempuan baik di bidang ekonomi, akademik, sains, pemerintahan atau olah raga. Walaupun begitu, para perempuan hari ini yang semakin mandiri dan menguasai banyak bidang kehidupan, pun pada akhirnya jatuh dalam mitos kecantikan dan terlalu sibuk bergulat di dalamnya. Banyak dari mereka pun pada akhirnya hidup dalam kehampaan. Kita, baiGedung Keseniank laki-laki maupun perempuan, tercerabut dari akar-akar kita. Tapi, apakah sejak awal kita dilahirkan, kita memiliki akar yang kokoh?

Dan sedikit perempuan modern di negara ini, yang sibuk terlibat dalam gairah intelektual dan ilmu pengetahuan. Sedangkan para laki-lakinya, semakin hari lebih mirip dengan seorang pengemis dan pengangguran yang tak banyak berguna. Coba bayangkan, dengan total lebih dari dua ratus lima puluh juta jiwa, apa yang selama ini kita hasilkan dari mulai pemikiran, ide, teori, penemuan, dan berbagai macam teknologi lainnya? Sejak awal, negara dibentuk oleh para elit yang tak terlalu bernafsu mencerdaskan dan mencerahkan seluruh rakyatnya. Sejak zaman raja-raja, gubernur jenderal hingga para presiden. Kebijakan kita hanya berfokus untuk mendidik rakyat bekerja secara patuh, melancarkan aliran pertukaran barang, uang dan ekonomi. Serta hidup kecukupan dan damai. Sedangkan isi kepala tak terlalu penting. Apalagi isi hati dan nurani.

Apa yang membuat aku jengah dengan perempuan modern, seperti yang aku lihat di mall ini adalah mereka terlalu sibuk dengan penampilan dari pada keinginan kuat untuk menghasilkan berbagai macam penemuan, karya, dan semacamnya. Mereka telah menempati banyak posisi penting di berbagai macam bidang. Mereka mandiri secara ekonomi dan berkecukupan. Apakah mereka kelak akan mengulangi hal yang sama yang telah dilakukan laki-laki? Ketidakbecusan untuk memaksimalkan suatu masa yang relatif damai ini?

“Perempuan bekerja keras, bahkan dua kali lebih keras dibandingkan laki-laki,” seperti itulah yang ditulis Naomi Wolf dalam Mitos Kecantikan. Dan “Perempuan telah menyusup ke dalam tiap wilayah budaya maupun politik yang dikuasi laki-laki. Perempuan menduduki jabatan-jabatan yang semula ‘milik’ lelaki; akademisi perempuan mempertanyakan kesahihan posisi laki-laki di pusat bumi; atlet-atlet perempuan mengejar rekor laki-laki dan bahkan memecahkannya sampai berkeping-keping, reputasi laki-laki sebagai kesatria,” tulis dibukunya yang lain, Gegar Gender. Kita hanya melihat ibu atau mama kita masing-masing, kita akan sadar betapa luar biasanya perempuan. Aku mengakuinya. Hanya saja, perempuan hari ini, yang disokong oleh kemenangan banyak gerakan feminis, sekular, dan liberal, gagal membawa kesempatan ini semakin jauh. Benar-benar gagal. Dan kegagalan itu membawa kaum perempuan berada dalam kesakitan jiwa dan tubuh yang semakin dalam. Jika laki-laki sejak dahulu memang sudah sakit-sakitan. Perang dunia dan berbagai macamnya, para laki-lakilah yang melakukannya. Kini, para perempuan malah mengikuti apa yang dulu mereka kecam dari laki-laki.

Banyak orang tua negara ini, yang cukup kaya, lebih suka anaknya untuk berlibur ke luar negeri; Hongkong, Jepang, Korea, Perancis, Italia, Jerman, Inggris dan Amerika. Ketika banyak orang tua kaya di negara ini merasa terhina dan hilang harga dirinya jika berlibur mengelilingi Indonesia yang membuat kagum banyak penjelajah dan petualang luar negeri dan menjadi rebutan berbagai macam bangsa Barat dan Asia. Apa yang akan terjadi kelak? Terlebih, jika para orang tua ini pun tak tahu banyak tentang kota, daerah, dan geografi negaranya sendiri beserta budaya, bahasa, dan sebagainya. Sedangkan mereka menularkan kecenderungannya kepada anak-anaknya yang juga mungkin tak akan pernah tahu apa itu Macaca, Jalak Bali, hingga sekedar pohon Waru dan Bambu. Jadi generasi muda yang modern dan berwawasan luas ini, menjelajahi dunia dengan kehilangan pengetahuan akan negaranya sendiri. Dan jika kelak kecenderungan ini terus berlanjut di tengah internasionalisasi Asean dan dunia, dan perang atau keguncangangan ekonomi. Maka masyarakat negara ini akan runtuh dan kehilangan pegangan. Runtuh? Siapa yang hari ini perduli akan hal itu? Ah para pejabat publik kita saja tak perduli akan negara ini.

Aku pun melangkah melewati deretan gerai cepat saji yang sangat penuh. Dari anak kecil, remaja, hingga para orang tua. Melewati McD, KFC, Pizza Hut, Horapa, Solari, dan tak ada yang memegang satu buku pun. Dan akhirnya aku menaiki tangga menuju lantai tiga sambil melihat gerai Excelso yang dipenuhi oleh orang-orang berduit dengan wajah putih, tampan, cantik dan beberapa berwajah Tionghoa. Dan tak ada pembaca buku juga di situ. Tap tap tap. Kaki menaiki tangga. Sampailah di Blendukbioskop 21, sambil memegang buku The Origin di tangan. Aku pun masuk. Terlihat banyak orang yang menunggu di deretan kursi kecil berwarna hitam. Suasananya telah berganti. Aku melangkah. Melangkah. Tiba di depan toilet yang di dekatnya terdapat dua remaja dengan pakaian elegan seksi. Sangat cantik. Tapi sayang, yang dia pegang hanyalah handphone. Tipe biasa. Aku pun masuk toilet. Menuntaskan air seni. Lalu keluar melewati remaja seksi yang tadi, yang masih tetap sibuk menyembah handphonenya. Dan aku berani bertaruh, kita selama ini lebih banyak menundukkan kepala untuk gadget dari pada tuhan, orang tua, atau pasangan hidup kita.

Aku keluar dari bioskop. Lalu berjalan keliling lantai tiga. Melewati Pazzo Pancake, Tong Tji Tea Bar, dan tak ada pembaca juga di situ. Memimpikan orang membaca di mall itu bagaikan memimpikan ikan paus bungkuk jatuh dari langit. Dan karena mall pada akhirnya membosankan dan hanya sekedar itu. aku pun keluar. Berjalan menuju lantai satu. Membawa The Origin di tangan. Sesekali ada seorang perempuan Tionghoa muda yang melirik apa yang ada di tangan aku. Aku akan senang, jika dia tahu siapa itu Darwin. Maksud aku membawa buku di jalan-jalan, tempat umum, dan berbagai macam tempat adalah untuk membuat buku tidak dijadikan sebagai sebuah aib dan hal yang memalukan. Agar buku memiliki ruang bernafas di tempat-tempat semacam ini. Itulah impianku. Di umurku yang sekarang, aku masih belum melihatnya. Tapi aku akan terus mencoba.

Aku pun melewati gerai McD yang ramai di pintu masuk menghadap Matahari. Sangat ramai. Lebih ramai dari pada sebuah gereja ketika Misa atau malam Paskah. Dengan hati sedih karena nyaris tak ada perkembangan selama bertahun-tahun lamanya. Aku pun berhenti, duduk, di dekat halte BRT yang penuh dengan anak sekolahan, yang dibelakangnya sesak dengan sepeda motor. Di sebelahku, ada bapak-bapak bertopi angkatan laut. Membuang puntung rokok sesuka hatinya di bawah sebuah pohon. Begitu juga laki-laki yang ada di belakang diriku. Sekarang waktu menunujukkan angka 16:12, dan masih cukup panas. Banyak puntung rokok berserekan dan beberapa sampah terlihat. Dan Simpang Lima didominasi oleh Asam Jawa dan Glodokan. Sesekali Sawo Kecik, Angsana dan juga sawit terlihat. Semilir angin terkadang lewat menembus ruang sesak di berbagai macam tempat. Dan seperti inilah suasana Simpang Lima Semarang. Tak ada pembaca buku sedikit pun di tempat umum.

Sesekali aku membaca The Origin. Lalu aku menuju tempat paarkir. Bergegas ke kota lama. Pengemis yang tadi siang, masih menunduk dengan memelas di aspal yang tak kunjung dingin. Dan seperti biasanya, semua orang sudah kebal terhadap hal semacam itu. Mereka pun hanya sekedar lewat. Perasaanku tiba-tiba agak sendu. Aku rindu seseorang.


Melewati pasar Johar yang hangus dan bagai diledakan pesawat pengebom dari angkasa. Sisa kebakaran membuat bangunan itu mirip hunian hantu. Dan, toko buku yang pernah aku datangi hampir setiap hari entah sekarang ada di mana. Setidaknya, jalanan kini tak seburuk dan seberantakan dulu. Kebakaran membuat jalanan kini semakin lebar dan tak terlalu sibuk dengan kemacetan. Orang Indonesia, terlebih Jawa, entah kenapa, lebih suka terkena bencana lebih dahulu baru mau berubah. Berubah secara terpaksa. Itulah moto besar hampir semua kota besar yang ada di Indonesia. Dan mungkin juga masyarakat dan pemerintah yang ada di pusat sana. Besok kita harus memiliki jadwal rutin bencana alam dan manusia atau dijadikan kurikulum baru mengenai peningkatan kesadaran para siswa. Bahwa bencana adalah baik untuk orang Indonesia. Dan sangat baik untuk orang Jawa yang lambat kalau sudah terlalu kenyang. Bencana yang rutin akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan lingkungan, keselamatan, dan membawa perubahan seketika. Jadi, bencana alam dan manusia itu lebih cepat sasaran dari pada Undang-Undang, Peraturan Presiden, atau bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hal menyadarkan penduduk. Tidakkah masyarakat Riau dan Sumatra baru menganggap penting kebersihan udara saat hutan mereka terbakar? Dan mungkin, seandainya tak ada perang dunia kedua, masyarakat lebih suka hidup di bawah Belanda dari pada merdeka. Dan seandainya Jepang baik hati, mungkin masyarakat akan sangat bahagia memilih Jepang sebagai tuan mereka. Dan tak perlu repot-repot memikirkan kemerdekaan.


Di depanku, kini terdapat gereja tua, Blenduk, yang menjadi ikon kota tua Semarang. Dan taman Srigunting yang menjadi pusat kota lama milik Hindia-Belanda. Aku berada di dalam Little Netherland. Sebuah kota yang dulu dikelilingi benteng dan kanal. Sebuah kota Belanda di tanah tropis. Dan sebuah kota yang sangat tak terawat, berantakan, dan kini terkesan bagaikan sehabis ditimpa perang. Kota tua adalah kota yang terlantar. Sama halnya kota lama Jakarta yang sangat mengerikan untuk sekedar dilihat. Sudah tak mampu membuat bangunan, tata kota dan lingkungan yang lebih bagus. Bisanya menelantarkan apa-apa yang sudah ada dan lebih baik dari pada sekarang. Itulah pemerintah kota. Dan seperti itulah Indonesia. Dan kerjaan anak muda dan wisatan hanyalah sekedar selfie dan mengambil foto. Aku pun memarkir motorku di samping gereja.

Kaki melangkah ke belakang Gereja. Melewati pasar barang antik. Memandang Semarang Contemporary Art yang pintunya terkena musibah seniman yang gagal. Dan berjalan menuju jalan Garuda. Ada sebuah taman kecil yang dibangun cukup indah beserta kursi-kursi. Baru-baru ini dibangun. Aku pun duduk. Melihat bangunan yang kini dimiliki PT Waringin Jati dan ada tulisan di bangunan itu, BOOSUMY. Membaca sebentar Nusantara. Mengamati sekitar. Semua orang, anak muda, sedang merayakan berfoto ria. Taman mungil yang seharusnya indah ini, tak akan menyenangkan jika tak ada sampah berserakan. Sama halnya dengan galeri seni tadi dan area kota tua ini. Sampah adalah warga kota yang kelak harus diberi kartu penduduk. Karena langit sudah mulai gelap, aku pun berjalan ke arah Tawang. Melewati bangunan yang hendak rubuh. Ditumbuhi berbagai macam tanaman rambat. Sampah. Sampah. Dan sampah di selokan. Sampah di sudut-sudut. Sampah dibakar. Sampah digenangan air. Dan sampah di aliran air menuju polder. Sampah di bawah tiang listrik. Sampah di jalan raya. Sampah di gorong-gorong.

Kota ini tidak hanya terancam oleh penurunan tanah, air rob serta banjir atau pemanasan global serta perubahan ilkim. Tapi juga terancam oleh warga Semarang itu sendiri dengan kepala mereka yang isinya entah apa selama ini.

Melewati bangunan Gabungan Koperasi Batik Indonesia yang dibawah namanya, sampah menjadi hal yang wajar. Aku pun berjalan. Menyaksikan jembatan Mberok yang memiliki sungai yang kotornya sangat terkenal. Sampah berkerumunBlenduk bagaikan kawanan ikan. Dan menunggu kendaraan yang seolah bagai tiada habisnya. Menyeberang pun butuh kesabaran. Aku berada di bawah tatapan bangunan terlantar milik PT. Perkebunan XV, menyaksikan suara walet yang ribut dan menyenangkan. Lalu memasuki gang yang biasanya dijadikan tempat untuk berjualan dan adu ayam jago. Bangunan-bangunan tampak suram. Lebih suram dari pada kastil vampire yang terdapat di layar bioskop. Dan sampailah di Gereja Blendek dan Taman Srigunting yang berisikan sampah Oreo, Nii Greentea, Puntung Rokok, Plastik dan sedotannya, botol Aqua, tisu, dan lainnya. Karena ini hari minggu, banyak muda-mudi sedang asyik memadu kasih.

Aku pun bergegas ke tempat parkir. Menyalakan motor. Membayar dua ribu. Melewati kendaraan yang banyaknya bagaikan semut. Dan tibalah di Gramedia jalan pemuda yang kini diubah menjadi Gramedia Balaikota. Gramedia yang sepinya mirip kuburan. Benar-benar sangat sepi dan hampir tak ada orang sama sekali kecuali para pekerjanya sendiri. Gramedia ini banyak berubah. Lantai dua diubah menjadi tempat buku dan banyak sekat kaca yang terlihat tak menyenangkan. Lantai tiga tertutup sudah. Padahal, dulu tempat ini cukup menyenangkan untuk melepas bosan sambil membaca dengan duduk atau tiduran. Dan sesekali melihat anak-anak SMA keluar dan menunggu di halte bus. Gramedia Pandanaran saja sepi. Apalagi di sini? Walau di sekelilingnya banyak gedung pemerintahan, gedung sekolah dan sangat dekat dengan Tugu Muda. Sepinya toko buku ini memang sangat miris dan cukup dijadikan asalan bahwa tak banyak pencinta buku di kota ini. tapi, kelebihannya, aku bisa tiduran di bawah rak-rak yang ada di toko buku ini. karena nyaris tak ada orang kecuali satu dua yang akhirnya datang.  Karena bosan dan lelah, aku mengambil buku Negeri Para Roh. Hanya aku pegang sebentar saja. Lumayan. Lalu aku taruh lagi di rak. Lalu mengambil manga My Little Monster dan menghabiskannya dengan riang.

Karena suasana sangat suram di tempat ini, aku pun keluar menuju Simpang Lima. Melewati Tugu Muda, Lawang Sewu dan bangunan kuno bekas Res Republica. Dan Taman KB yang ramainya mirip pasar malam. Macet. Motor dan mobil terparkir di mana-mana. Aku pun sudah berada di angkringan yang biasa aku nikmati yang berada di depan masjid Baiturrahman. Tak lama kemudian, sehabis maghrib datang, aku langsung ke tempat teman aku yang berada di perbatasan Semarang-Demak, yaitu Sayung. Menginap di sana. Berbincang mengenai banyak hal tentang pendidikan Indonesia yang kacau. Susahnya menjadi orang baik di masyarakat. bertukar cerita tentang sejarah masa lalu. Candi sukuh. Politik di Indonesia. Hingga akhirnya tertidur pada jam 03:00 pagi. Aku pun esok harinya malas untuk bangun. Lelah. Terbangun jam 06:00 lalu mencoba untuk tidur kembali. Dan akhirnya, harus siap-siap untuk melihat Semarang. Makan. Dan akhirnya pergi ketika waktu menunjukkan 11;36. Temanku itu adalah salah satu orang baik yang tak akan aku lupakan.

Aku pun melewati jalan Kaligawe yang rumah-rumahnya tenggelam dan hancur ditinggalkan. Benar-benar mirip kota yang bakal ditenggelamkan oleh air dan tanah. Masa depan yang suram untuk bagian utara kota Semarang.

Melewati Universitas Sultan Agung yang yang benar-benar bodoh. Tanah terus turun dan nyaris tenggelam, tapi pohon-pohon ditebangi dan cekungan air ditimbun untuk membuat berbagai macam bangunan yang menjulang tinggi yang jelas akan menekan permukaan tanah yang sudah sangat labil itu. Biarlah. Itu urusan mereka. Aku pun melewati jalan Tenggang, Kaligawe Raya, Sawah Besar, Tlogosari, hingga Gajah yang yang rumah-rumahnya amblas ke tanah. Jalannya rusak dan ditinggikan berkali-kali. Sementara itu sungai yang mengalir nampak mengerikan. Berisikan berbagai macam sampah dan berwarna tak karuan. Semarang Utara benar-benar kota yang hancur.

Aku kini berada di Masjid Agung Jawa Tengah yang sangat ramai. Baru mau masuk saja mata sudah disuguhi sampah di mana-mana. Masuk di tempat parkir, sampah berkerumun di bawah tanaman hias dan di berbagai macam tempat. Di pelataran masjid, di tangga, di kolam dan di mana-mana. Dan Masjid yang baru dibangun beberapa tahun ini, sudah mirip bangunan kuno berabad-abad yang lalu. Lantai retak, dinding retak, kusam dan seolah bagaikan tak terawat dengan baik. Benar-benar bagaikan rumah Tuhan yang terlantar yang kini hanya dijadikan sebagai tempat wisata dan berfoto ria. Dulu, biasanya tempat ini digunakan untuk bermesraan dan berpacaran. Ada petugas untuk menertibkan mereka. Tapi kini, tempat ini bagaikan bangunan kuno yang baru ditemukan beberapa abad kemudian. Sangat ramai. Malah luar biasa ramai. Dan sampah pun sangat ramai menghiasi semua tempat. Tong sampah pun hanya segelintir di tempat seluas ini. Orang Islam tak pernah memiliki kepandaian untuk membersihkan rumah ibadahnya. Dan kesadaran akan lingkungan mereka sangat rendah. Itu adalah fakta dan harus diakui. Tak ada masjid yang cukup bersih yang pernah aku lihat. Semua masjid selalu bersampah dan tak terawat dengan benar. Itu juga berarti, pola kesadaran dan kecerdasan banyak dari mereka sangat rendah. Apakah itu juga berarti ilmu pengetahuan mereka juga rendah? Mungkin.

Gerimis. Lalu hujan. Dan gerimis lagi. Aku pun segera mencari makan di sekitar Peleburan Undip. Di tempat biasa yang aku datangi dan aku gunakan untuk membaca; Waroeng Si Boy. Ini adalah tempat kesukaanku sejak dulu. Aku sering berlama-lama di sini. Membaca buku sambil makan. Yah, aku adalah seseorang yang sangat suka membaca buku dengan tangan memegang sendok. Dan tempat makan yang paling aku sukai selain tempat ini adalah kantin Universitas Sultan Agung. Aku sangat betah membaca di kantin itu. Cukup lama aku di sini Menikmati Nusantara karya Bernard H. M. Vlekke. Dan merenungkan kehidupanku yang terasa kosong dan hampa.

Perjalanan adalah kesepian yang begitu dingin. Perasaanku sangat tak menentu. aku sangat kesepian. Dan udara, terasa melemahkan nafasku. Aku rindu seseorang. Perempuan Tionghoa yang aku cintai. Dan kini, aku harus menekan perasaan ini dalam-dalam. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang