keberadaan golongan menengah yang terdidik
adalah baru. urbaninasi adalah sesuatu yang baru.
orang yang hidup di perkotaan pun orang baru.
dengan kata lain, keadaan yang seluruhnya baru
tiba-tiba muncul dalam waktu singkat, dan orang
meraba-raba untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan itu. mereka belum mempunyai budaya
untuk menghadapinya. kebudayaan ranah publik
mereka sedang terbentuk.
Niels Mulder
Wacana Publik Indonesia: Kata Mereka Tentang Diri Mereka
Jogja bergerak sangat lambat, membosankan, dan bisa membawa orang kepada kesintingan yang berjalan terlalu pelan dan menyiksa. kadang, ketika aku sedang merenung dan mengingat-ingat tentang rasanya hidup di kota ini, sebagian dari diriku persis seperti apa yang dialami Nile Mulder dalam kisahnya, Di Jawa: Petualangan Seorang Antropolog.
bagiku, kota ini adalah keramaian yang sangat menyiksa. itulah Jogja.
beberapa waktu ini aku berpikir, betapa tololnya dan tak bergunanya kehidupanku ini. dan, entah kenapa, aku hanyalah bagian dari statistik yang membosankan dan tak penting dari milyaran manusia di dunia. sungguh-sungguh keberadaan tak penting dan bahkan tak perlu ditangisi atau diingat.
sekian lama aku mencoba memasuki dunia para diktator, perang besar di berbagai dunia, kematian yang mirip pembantaian entah oleh wabah atau politik, atau bencana alam yang menghapus manusia dengan sangat mudahnya. dan dari sekian banyak itu, sedikit sekali nama yang muncul, dicatat dan diingat bahkan dikagumi. lalu aku mengambil kesimpulan bahwa mayoritas besar manusia dan bahkan hampir secara keseluruhan tak berguna, tak penting dan tak perlu ditangisi.
di depan sejarah, waktu, dan manusia sendiri yang berada di masa sekarang terlebih di masa depan yang jauh, dan di hadapan tuhan, bagi mereka yang mempercayai, atau di bawah alam yang buta; dari sekian banyak manusia semenjak adam atau hominid pertama, hampir semua manusia adalah keberadaan absurd dan tak penting.
akhir-akhir ini, ketika aku mengayuh sepedaku, atau melangkahkan kakiku menyusuri jalanan Malioboro dan menuju Shopping, ruko buku di kawasan Jogja, dan menuju toko yang sering aku datangi, berita-berita baru yang datang kepadaku terasa aneh dan kadang membuatku ingin tertawa. benar-benar ingin tertawa.
dulu, aku seringkali berceloteh sambil bergurau tapi dengan niatan yang serius bahwa sebentar lagi, tak lama, buku-buku kiri atau yang berkaitan dengan komunisme akan ditarik atau berada dalam situasi genting dan berbahaya. tentunya beserta para simpatisan, aktivis dan mereka yang secara terang-terangan menyukai dan mendukungnya. dan beberapa hari terakhir ini, kondisi Jogja dan Indonesia dalam keadaan yang cukup buruk mengenai isu kemunculan lagi komunisme. banyak toko buku ketakutan dan akhirnya mereka memilih tak menjual buku-buku semacam itu untuk jangka waktu entah. dulu, apa yang aku omongkan ini dianggap biasa saja, tak terlalu penting dan diremehkan begitu saja. tapi aku tak perduli. aku hanya ingin sekedar tertawa.
kadang jika aku memikirkan komunisme di Indonesia, Partai Komunisme Indonesia atau peristiwa 65, orang yang berjumlah antara setengah juta hingga mungkin tiga juga itu, nyaris tak penting. orang sebanyak itu hanyalah statistik. yang akan dilupakan dengan mudah. tak perlu diingat. dan seketika terhapus dari hadapan sejarah. hidup manusia terlalu sangat singkat, absurd dan tak penting. dan dari sekian banyak yang mati, semenjak Gadjah Mada ingin menyatuhkan Nusantara hingga perang Aceh, Diponegoro terus revolusi 45 sampai peristiwa 65 pun kinidan bahkan menuju reformasi, entah berapa juta yang sudah mati itu, keberadaan mereka semua tak penting. dari sekian banyaknya yang mati, yang diingat dalam sejarah hanyalah segelintir orang. benar-benar segelintir orang.
Begitu juga saat aku membolak-balik berbagai macam buku, Jerusalem, Stalin; Kisah-Kisah yang Takpun kini Terungkap, Stalin Muda, yang semuanya karya Simon Sebag Montefiore. dan bukunya yang lain, Tokoh Kontroversial Dunia. lalu Attila, The Terracotta Army, Kubilai Khan, Jenghis Khan, The Last Samurai, Samurai, yang semuanya milik John Man. Istanbul karya John Freely. Kairo karangan Max Rodenbeck. 1453 milik Roger Crowley. Paris; Sejarah yang Tersembunyi dari Andrew Hussey. Sejarah Dunia Kuno tulisan Susan W. Bauer. Babilonia-nya Paul Kriwaczek. Sejarah Umat Manusia Arnold Toynbee, Dua Belas Kaisar Suetonius hingga Benturan Antar Peradaban Samuel Huntington, In The bName of Identity Amin Maalouf, Kekerasan dan Identitas Amartya Sen, Arab Israel untuk Pemula Ron David, Sejarah Teror Lawrence Wright dan tiga buku milik Jared Diamond; Bedil, Kuman dan Baja. Collapse. The World Until Yesterday, dan hampir semua buku milik Karen Armstron serta banyak lainnya yang tak perlu aku jelaskan.
aku sedang membangun perpustakaan pribadiku sendiri walau sangat tertatih. dan sebagai seorang pembaca buku, atau pencinta buku, aku dihadapkan pada kisah suram manusia kebanyakan. manusia kebanyakan, dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan, penguasa, atau entah siapa pun itu dan bagi orang kebayakan sendiri di masa kini atau mungkin di masa depan; apa yang disebut orang kebanyakan sangatlah tidak penting. di depan sejarah yang merentang jauh ke belakang, orang umum atau kebanyakan, entah mereka disebut rakyat, warga sipil atau siapa pun itu, keberadaan mereka terlupakan begitu saja dengan sangat mudahnya tanpa perasaan kehilangan yang berarti.
sejarah kebanyakan manusia adalah sejarah yang tak berarti.
di saat kebanyakan manusia hanya dihitung secara statistik, angka, maupun sekedar korban secara umum, maka secara individu, para petualang, penjelajah, backpacker, traveler, pendaki dan entah siapapun mereka yang tak melakukan hal yang luar biasa, akan dengan mudahnya dihapus. selama orang-orang yang hari ini berkeliaran di jalanan, gunung-gunung, lembah dan mengelilingi setiap inci bumi, tak melahirkan sebuah karya yang patut diingat dan penting, penemuan atau penelitian yang bisa diberi tepukan secara nasional maupun internasional. maka kebanyakan orang-orang ini, jika pada suatu saat negara mengalami krisis politik, perang saudara atau kawasan, dan wabah penyakit serta bencana, keberadaan mereka tak terlalu berarti. generasi baru akan menggantikan mereka. dan keluarga mereka yang umurnya tak lebih dari seratus tahun itu, cepat atau lambat akan juga berhenti memikirkannya.
sedangkan bagi mereka yang mempercayai tuhan, aku sungguh sangat kasihan; hidup seenaknya di dunia, bersenang-senang menikmati alam atau lautan, melanggar semua tabu, tak berpikir untuk berkarya atau meneliti, baru saja berumur sangat muda sudah mati dan langsung disiksa di kubur atau neraka. kehidupan menyedihkan yang selama ini nyaris tak terpikirkan oleh mereka yang menyebut dirinya petualang atau backpacker.
dan jika memang tuhan itu ada dan agama memang benar. maka, kebanyakan petualang dan backpacker di Indonesia akan masuk neraka. terserah mereka mau mengabaikannya dan berpura-pura untuk bersenang-senang di alam liar atau bukit-bukit. terserah mereka mau mengelilingi dunia dan memasuki berbagai macam tempat. setelah hidup tanpa karya dan prestasi mononjol; mati, dilupakan, langsung disiksa oleh tuhan. kehidupan konyol yang menggelikan.
dan seandainya seorang dikator muncul atau perang dan wabah besar melanda, mereka semua hanya sekedar statistik. dihadapan tuhan mereka nyaris tak penting. dihadapan waktu, sejarah, dan dunia manusia sangat tidak penting lagi. tak ada yang perduli jika mereka semua mati. siapa yang perduli dengan korban perang dunia, perang Eropa, perang Asia, hingga perang modern di Burundi, Kongo, Suriah dan Irak. dari sekian banyak yang mati itu, berita, media, dan buku, hanya menyebut mereka ratusan ribu jiwa meninggal, jutaan jiwa melayang, setengah juta orang mengungsi. seperti itulah derita orang kebanyakan. ketika mereka mati, apa yang mereka kerjakan dan lakukan, entah sebagai arsitek, insinyur, dokter, seniman, novelis, penyair, pegadang, pebisnis, atau pegawai negeri dan karyawan, politisi, negarawan, pegiat hukum dan berbaga macam jenis petualang, backpacker dan traveler, keberadaan mereka tak akan diingat siapapun lagi selama mereka hanya sekedar menjadi manusia biasa dan umum.
selama ini, siapa yang perduli dan ingat dengan berbagai macam petualang dan pendaki yang mati digunung dan lautan? siapa yang mengingat mereka? bahkan sesama petualang dan pendaki sendiri kemungkinan besar tak tahu ada kejadian yang merenggut hampir sesama dari mereka itu. setelah mereka mati, yang tersisa hanyalah terlupakan, tak dianggap, dan nyaris keberadaan yang tak ada di dunia ini walau dalam kehidupan singkat mereka telah mendaki berbagai macam jenis gunung dan kota-kota di dunia.
keberadaan hidup yang hanya sebagai statistik dan mudah dilupakan ini, seandainya mayoritas besar para backpacker dan pendaki kita mati seketika; aku sangat yakin, hanya segelintir kecil di antara mereka yang kelak akan sering dikutip atau pengetahuan dan karyanya dijadikan berbagai rujukan entah secara nasional mau pun internasional.
selama mereka tak mampu menulis atau menghasilkan sesuatu yang mempesona, beda, baru, atau mampu bertahan cukup lama dan penting, apa yang selama ini mereka lakukan dengan suka cita, penuh kebanggaan, dan seolah luar biasa itu, nyaris tak berarti apa-apa.
jika dia orang beragama, akan langsung disiksa dan masuk nereka. karena mayoritas orang bergama di negara ini hanyalah kepura-puraan dan itu berarti menentang tuhan mereka secara langsung dalam setiap harinya hingga dosa mereka menumpuk dan susah dihapuskan selain dimurnikan lewat siksaan. sedang bagi mereka yang ateis, jika tuhan tak ada, mereka pun akan sekedar menjadi keberadaan hampa tak berguna. mereka mati hari ini atau besok pun, alam tak akan pernah menyesal. seluruh umat manusia pun tak akan perduli. dan mereka akan dengan mudah terlupaka seolah-olah keberadaan mereka tak pernah ada.
dan para penulis yang kini terpajang di Gramedia pun, hanya segelintir saja yang kelak, yang mampu melewati seratus tahun, yang akan diingat dan dikenang. selama seseoarang tak mau berpikir besar dan berpikir serta berkarya jauh melewati waktu dan abad, keberadaan mereka tak terlalu penting dan akan kembali sekedar sebagai statistik dan keberadaan yang tak perlu diingat.
entah dia adalah orang tua yang baik, kakak yang baik, pengusaha yang baik, mahasiswa yang baik, olah ragawan yang baik, pencinta alam yang baik, dan banyak lainnya yang baik dan berprestasi tapi sekedar biasa-biasa saja. semua hal itu tak berguna dan penting.
orang boleh hidup bersenang-senang hari ini, mengelilingi tiap inci bumi dan berbangga diri dengan berbagai macam foto dan catatan perjalanannya. selama itu hanya biasa-biasa saja, maka dia orang tak berguna di hadapan sejarah, waktu, manusia dan tuhan itu sendiri.
begitu juga diriku. jika aku mati hari ini pun, tak akan ada yang menyesalinya. dan aku juga bagian dari statistik orang konyol dan bodoh. orang idiot yang mempertahankan hidup dan berpura-pura bersenang-senang sedang dirinya sendiri tahu, di depan sana, setelah acara senang-senang usai, menunggu ketiadaan atau api nereka. itu berarti, nyaris semua pencinta alam, backpacker, petualang, penjelajah, traveler, dan banyak lainnya itu, yang sudah bangga dengan kehidupan dan pencapaian yang biasa-biasa saja, sebenarnya keberadaan yang tak penting dan mudah dihapus.
seandainya benar tuhan itu ada, Einstein mungkin kini sedang disiksa tuhan. apalagi orang macam aku dan orang kebanyakan lainnya? sungguh kehidupan dan masa depan yang menggelikan dan penuh ironi.
aku mengayuh sepedaku, berhenti di dekat lampu merah 0 km Jogja, membuka Dua Belas Kaisar karya Suetonius, dan mengamati berbaga jenis kendaraan yang bergerak dan berhenti serta orang yang duduk atau lalu-lalang. melihat mereka semua, seolah-olah sedang melihat keberadaan yang hampa dan tak berarti. seandainya mereka semua mati, nyaris dunia akan dengan mudah mengabaikannya sebagai individu. mereka semua akan tercatat sebagai statistik atau orang banyak. hanya sedikit dari mereka mungkin yang akan dianggap penting dan perlu diingat.
saat aku merenungkan dunia ini, sejauh apapun aku memasuki berbagai macam dunia dan melihat berbagai macam hal, diriku sendiri pun keberadaan yang tak berguna. kadang aku bingung, di depan sejarah dan tuhan yang absurd, seorang manusia tanpa penemuan dan karya besar, masih bisa berbangga diri dan ceria dengan petualang hidupnya yang sebentar lagi akan terhapus dan tak tersisa.
mungkin, berjalan adalah menipu diri sendiri dari kenyataan dan masa depan. dan petualangan adalah cara terbaik untuk membohongi diri sendiri; berpura-pura bahagia, dan berpura-pura telah menaklukan dunia.
sebentar lagi, negara ini akan jatuh dalam perang, kebrutalan, dan kengerian yang saling menjatuhkan. dan dalam kubangan kematian yang banyak itu, orang-orang akan hilang dan lenyap sebagai bukan apa-apa.
kedamaian yang semu ini hanyalah sebentar. semua orang sibuk membohongi diri mereka sendiri dengan kenyamanan dan kedamaian dengan cara membuang apapun; nurani dan tuntutan moral.
saat aku memandang langit, betapa kecil dan tak berartinya manusia. betapa kecil dan tak berartinya diriku ini. dan para diktator besar yang aku baca, dan jenius besar yang ada, lebih tahu akan hal itu.
sejarah kebanyakan manusia adalah sejarah yang tak berarti.
di saat kebanyakan manusia hanya dihitung secara statistik, angka, maupun sekedar korban secara umum, maka secara individu, para petualang, penjelajah, backpacker, traveler, pendaki dan entah siapapun mereka yang tak melakukan hal yang luar biasa, akan dengan mudahnya dihapus. selama orang-orang yang hari ini berkeliaran di jalanan, gunung-gunung, lembah dan mengelilingi setiap inci bumi, tak melahirkan sebuah karya yang patut diingat dan penting, penemuan atau penelitian yang bisa diberi tepukan secara nasional maupun internasional. maka kebanyakan orang-orang ini, jika pada suatu saat negara mengalami krisis politik, perang saudara atau kawasan, dan wabah penyakit serta bencana, keberadaan mereka tak terlalu berarti. generasi baru akan menggantikan mereka. dan keluarga mereka yang umurnya tak lebih dari seratus tahun itu, cepat atau lambat akan juga berhenti memikirkannya.
sedangkan bagi mereka yang mempercayai tuhan, aku sungguh sangat kasihan; hidup seenaknya di dunia, bersenang-senang menikmati alam atau lautan, melanggar semua tabu, tak berpikir untuk berkarya atau meneliti, baru saja berumur sangat muda sudah mati dan langsung disiksa di kubur atau neraka. kehidupan menyedihkan yang selama ini nyaris tak terpikirkan oleh mereka yang menyebut dirinya petualang atau backpacker.
dan jika memang tuhan itu ada dan agama memang benar. maka, kebanyakan petualang dan backpacker di Indonesia akan masuk neraka. terserah mereka mau mengabaikannya dan berpura-pura untuk bersenang-senang di alam liar atau bukit-bukit. terserah mereka mau mengelilingi dunia dan memasuki berbagai macam tempat. setelah hidup tanpa karya dan prestasi mononjol; mati, dilupakan, langsung disiksa oleh tuhan. kehidupan konyol yang menggelikan.
dan seandainya seorang dikator muncul atau perang dan wabah besar melanda, mereka semua hanya sekedar statistik. dihadapan tuhan mereka nyaris tak penting. dihadapan waktu, sejarah, dan dunia manusia sangat tidak penting lagi. tak ada yang perduli jika mereka semua mati. siapa yang perduli dengan korban perang dunia, perang Eropa, perang Asia, hingga perang modern di Burundi, Kongo, Suriah dan Irak. dari sekian banyak yang mati itu, berita, media, dan buku, hanya menyebut mereka ratusan ribu jiwa meninggal, jutaan jiwa melayang, setengah juta orang mengungsi. seperti itulah derita orang kebanyakan. ketika mereka mati, apa yang mereka kerjakan dan lakukan, entah sebagai arsitek, insinyur, dokter, seniman, novelis, penyair, pegadang, pebisnis, atau pegawai negeri dan karyawan, politisi, negarawan, pegiat hukum dan berbaga macam jenis petualang, backpacker dan traveler, keberadaan mereka tak akan diingat siapapun lagi selama mereka hanya sekedar menjadi manusia biasa dan umum.
selama ini, siapa yang perduli dan ingat dengan berbagai macam petualang dan pendaki yang mati digunung dan lautan? siapa yang mengingat mereka? bahkan sesama petualang dan pendaki sendiri kemungkinan besar tak tahu ada kejadian yang merenggut hampir sesama dari mereka itu. setelah mereka mati, yang tersisa hanyalah terlupakan, tak dianggap, dan nyaris keberadaan yang tak ada di dunia ini walau dalam kehidupan singkat mereka telah mendaki berbagai macam jenis gunung dan kota-kota di dunia.
keberadaan hidup yang hanya sebagai statistik dan mudah dilupakan ini, seandainya mayoritas besar para backpacker dan pendaki kita mati seketika; aku sangat yakin, hanya segelintir kecil di antara mereka yang kelak akan sering dikutip atau pengetahuan dan karyanya dijadikan berbagai rujukan entah secara nasional mau pun internasional.
selama mereka tak mampu menulis atau menghasilkan sesuatu yang mempesona, beda, baru, atau mampu bertahan cukup lama dan penting, apa yang selama ini mereka lakukan dengan suka cita, penuh kebanggaan, dan seolah luar biasa itu, nyaris tak berarti apa-apa.
jika dia orang beragama, akan langsung disiksa dan masuk nereka. karena mayoritas orang bergama di negara ini hanyalah kepura-puraan dan itu berarti menentang tuhan mereka secara langsung dalam setiap harinya hingga dosa mereka menumpuk dan susah dihapuskan selain dimurnikan lewat siksaan. sedang bagi mereka yang ateis, jika tuhan tak ada, mereka pun akan sekedar menjadi keberadaan hampa tak berguna. mereka mati hari ini atau besok pun, alam tak akan pernah menyesal. seluruh umat manusia pun tak akan perduli. dan mereka akan dengan mudah terlupaka seolah-olah keberadaan mereka tak pernah ada.
dan para penulis yang kini terpajang di Gramedia pun, hanya segelintir saja yang kelak, yang mampu melewati seratus tahun, yang akan diingat dan dikenang. selama seseoarang tak mau berpikir besar dan berpikir serta berkarya jauh melewati waktu dan abad, keberadaan mereka tak terlalu penting dan akan kembali sekedar sebagai statistik dan keberadaan yang tak perlu diingat.
entah dia adalah orang tua yang baik, kakak yang baik, pengusaha yang baik, mahasiswa yang baik, olah ragawan yang baik, pencinta alam yang baik, dan banyak lainnya yang baik dan berprestasi tapi sekedar biasa-biasa saja. semua hal itu tak berguna dan penting.
orang boleh hidup bersenang-senang hari ini, mengelilingi tiap inci bumi dan berbangga diri dengan berbagai macam foto dan catatan perjalanannya. selama itu hanya biasa-biasa saja, maka dia orang tak berguna di hadapan sejarah, waktu, manusia dan tuhan itu sendiri.
begitu juga diriku. jika aku mati hari ini pun, tak akan ada yang menyesalinya. dan aku juga bagian dari statistik orang konyol dan bodoh. orang idiot yang mempertahankan hidup dan berpura-pura bersenang-senang sedang dirinya sendiri tahu, di depan sana, setelah acara senang-senang usai, menunggu ketiadaan atau api nereka. itu berarti, nyaris semua pencinta alam, backpacker, petualang, penjelajah, traveler, dan banyak lainnya itu, yang sudah bangga dengan kehidupan dan pencapaian yang biasa-biasa saja, sebenarnya keberadaan yang tak penting dan mudah dihapus.
seandainya benar tuhan itu ada, Einstein mungkin kini sedang disiksa tuhan. apalagi orang macam aku dan orang kebanyakan lainnya? sungguh kehidupan dan masa depan yang menggelikan dan penuh ironi.
aku mengayuh sepedaku, berhenti di dekat lampu merah 0 km Jogja, membuka Dua Belas Kaisar karya Suetonius, dan mengamati berbaga jenis kendaraan yang bergerak dan berhenti serta orang yang duduk atau lalu-lalang. melihat mereka semua, seolah-olah sedang melihat keberadaan yang hampa dan tak berarti. seandainya mereka semua mati, nyaris dunia akan dengan mudah mengabaikannya sebagai individu. mereka semua akan tercatat sebagai statistik atau orang banyak. hanya sedikit dari mereka mungkin yang akan dianggap penting dan perlu diingat.
saat aku merenungkan dunia ini, sejauh apapun aku memasuki berbagai macam dunia dan melihat berbagai macam hal, diriku sendiri pun keberadaan yang tak berguna. kadang aku bingung, di depan sejarah dan tuhan yang absurd, seorang manusia tanpa penemuan dan karya besar, masih bisa berbangga diri dan ceria dengan petualang hidupnya yang sebentar lagi akan terhapus dan tak tersisa.
mungkin, berjalan adalah menipu diri sendiri dari kenyataan dan masa depan. dan petualangan adalah cara terbaik untuk membohongi diri sendiri; berpura-pura bahagia, dan berpura-pura telah menaklukan dunia.
sebentar lagi, negara ini akan jatuh dalam perang, kebrutalan, dan kengerian yang saling menjatuhkan. dan dalam kubangan kematian yang banyak itu, orang-orang akan hilang dan lenyap sebagai bukan apa-apa.
kedamaian yang semu ini hanyalah sebentar. semua orang sibuk membohongi diri mereka sendiri dengan kenyamanan dan kedamaian dengan cara membuang apapun; nurani dan tuntutan moral.
saat aku memandang langit, betapa kecil dan tak berartinya manusia. betapa kecil dan tak berartinya diriku ini. dan para diktator besar yang aku baca, dan jenius besar yang ada, lebih tahu akan hal itu.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar