Selasa, 07 Februari 2017

JOGJA: PERPUSTAKAAN KOTA







hujan jatuh. sangat deras. dan waktu terus bergulir tanpa mau berhenti. ingin sekali menutup mata dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia. sayang, hal semacam itu saat ini tak mungkin. malam ini, hatiku begitu murung. dan aku terjebak di sini. bosan dengan semua hal. perasaan cemas yang tak mampu aku rendakan. ingin sekali menangis tatkala mendengar Chopin atau Evoke karya Steve Gibbs.

malam ini, aku meliputi diriku dengan begitu banyaknya musik instrumental yang hampir meremukkan eksistensiku. aku memutar Evoke berulang-ulang. dunia tiba-tiba begitu dingin. begitu juga The Chopin Variations dari Chad Lawson. membuatku merasakan bau hujan merembes kedalam perasaanku. di dalam batas eksistensiku, aku ingin sekali menyerahkan duniaku pada ketiadaan.

aku membawa Catatan Dari Bawah Tanah karya Fyodor Dostoyevski. membacanya. terus membacanya. berhenti sebentar merasakan tarikan nafasku. keterasinganku. keterikatanku pada dunia yang tak lagi menghiburku ini. halaman demi halaman aku buka dengan jari jemariku yang menahan sakit kehidupan. entah mengapa, kesinisan Dostoyevski sangat dekat dengan diriku. mungkin, kita senasib. dari seluruh buku yang ia tulis, Catatan Bawah Tanah yang begitu sangat intim denganku. seperti sedang membaca Nietzsche. seperti sedang membaca diriku sendiri.

'manusia, ke mana ia bisa pergi,' tanya Dostoyevski. pertanyaan yang sama yang kini melanda sudut-sudut terdalam diriku. 

hari ini aku telah menyelesaikan buku kecilku, Dunia Yang Membosankan. aku berharap, perasaan hampa dalam diriku sedikit terkurangi. tapi nyatanya tidak. kesepian itu masih sangat melekat dalam diriku. aku memandangi diriku sendiri dan berkata, tak seorang pun akan bersedih jika aku menghilang dari dunia ini selamanya. pada akhirnya, gagasan mengenai Dunia Tanpa Ciptaan tergantikan dengan gagasan yang tiba-tiba muncul. aku ingin menulis sebuah buku kecil yang ingin aku beri judul Bunuh Diri atau Suicide. sepertinya, buku itu akan menjelaskan sedikit dari perasaanku. dan keinginanku akan bunuh diri setiap harinya. 

malam begitu lambat. suasana perpustakaan kota kian sepi. aku masih ditemani oleh Chad Lawson. musik yang ia mainkan semakin membuatku terlelap dalam perasaan paling ujung dari segala jenis kesedihan manusia. aku menikmati The Dark Conclusions: The Lore Variations. memejamkan mata. merasakan sentuhan tipis di atas kulitku. kesedihan terbesar seorang manusia adalah ketika tak seorang pun bisa mengerti rasa sakit kita dan meninggalkan diri kita sendirian tanpa siapa-siapa.

aku nyaris selalu ke tempat ini jika memungkinkan. tempat ini bisa dibilang, tempat di mana aku sering mencoba melupakan apa yang aku alami dan ketika aku sudah tak tahu lagi ingin ke mana. terlebih, di kota yang begitu membosankan ini. di saat kian hari aku semakin sadar, bahwa segala jenis orang yang aku temui dan lihat, tak pernah menganggap aku ada. tempat yang terletak di jalan Suroto, di seberang LBC dan Togamas ini, mungkin satu-satunya tempat yang paling banyak aku datangi. bisa dibilang, sebagian besar hidupku di Jogja aku lewatkan di perpus kecil ini. dan Paper Shadows mengalir kencang ke dalam pembuluh gelapku.

ah, dalam kehidupan yang begitu kecil dan tak menentu ini, aku ingin mengucapkan keinginan terakhirku kepada umat manusia. keinginan akan segala bentuk kekosongan yang abadi. di mana, seorang kecil sudah tak lagi memercayai segala-galanya kecuali kepura-puraan. 

apa yang masih tersisa dari umat manusia di saat aku melihatnya sendiri setiap harinya? 

'aku orang sakit,' ujar Dostoyevski. begitu juga diriku. lalu aku memandangi sekitar. begitu kosong. malam ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya. dan setelah menghabiskan seluruh album The Dark Conclusions, aku kembali ke dalam pelukan Nocturne In F Minor-Op. 55, No. 1. lalu aku menutupnya dengan Ash. malam sangat dingin dan lelah. aku ingin menidurkan diriku dalam kesedihan abadi. kekal di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar