hujan jatuh. sangat
deras. dan waktu terus bergulir tanpa mau berhenti. ingin sekali menutup
mata dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia. sayang, hal semacam
itu saat ini tak mungkin. malam ini, hatiku begitu murung. dan aku
terjebak di sini. bosan dengan semua hal. perasaan cemas yang tak mampu
aku rendakan. ingin sekali menangis tatkala mendengar Chopin atau Evoke karya Steve Gibbs.
malam ini, aku meliputi diriku dengan begitu banyaknya musik instrumental yang hampir meremukkan eksistensiku. aku memutar Evoke berulang-ulang. dunia tiba-tiba begitu dingin. begitu juga The Chopin Variations dari
Chad Lawson. membuatku merasakan bau hujan merembes kedalam perasaanku.
di dalam batas eksistensiku, aku ingin sekali menyerahkan duniaku pada
ketiadaan.
aku membawa Catatan Dari Bawah Tanah karya
Fyodor Dostoyevski. membacanya. terus membacanya. berhenti sebentar
merasakan tarikan nafasku. keterasinganku. keterikatanku pada dunia yang
tak lagi menghiburku ini. halaman demi halaman aku buka dengan jari
jemariku yang menahan sakit kehidupan. entah mengapa, kesinisan
Dostoyevski sangat dekat dengan diriku. mungkin, kita senasib. dari
seluruh buku yang ia tulis, Catatan Bawah Tanah yang begitu sangat intim denganku. seperti sedang membaca Nietzsche. seperti sedang membaca diriku sendiri.
'manusia, ke mana ia bisa pergi,' tanya Dostoyevski. pertanyaan yang sama yang kini melanda sudut-sudut terdalam diriku.
hari ini aku telah menyelesaikan buku kecilku, Dunia Yang Membosankan.
aku berharap, perasaan hampa dalam diriku sedikit terkurangi. tapi
nyatanya tidak. kesepian itu masih sangat melekat dalam diriku. aku
memandangi diriku sendiri dan berkata, tak seorang pun akan bersedih
jika aku menghilang dari dunia ini selamanya. pada akhirnya, gagasan
mengenai Dunia Tanpa Ciptaan tergantikan dengan gagasan yang tiba-tiba muncul. aku ingin menulis sebuah buku kecil yang ingin aku beri judul Bunuh Diri atau Suicide. sepertinya, buku itu akan menjelaskan sedikit dari perasaanku. dan keinginanku akan bunuh diri setiap harinya.
malam begitu lambat.
suasana perpustakaan kota kian sepi. aku masih ditemani oleh Chad
Lawson. musik yang ia mainkan semakin membuatku terlelap dalam perasaan
paling ujung dari segala jenis kesedihan manusia. aku menikmati The Dark Conclusions: The Lore Variations. memejamkan
mata. merasakan sentuhan tipis di atas kulitku. kesedihan terbesar
seorang manusia adalah ketika tak seorang pun bisa mengerti rasa sakit
kita dan meninggalkan diri kita sendirian tanpa siapa-siapa.
aku nyaris selalu ke
tempat ini jika memungkinkan. tempat ini bisa dibilang, tempat di mana
aku sering mencoba melupakan apa yang aku alami dan ketika aku sudah tak
tahu lagi ingin ke mana. terlebih, di kota yang begitu membosankan ini.
di saat kian hari aku semakin sadar, bahwa segala jenis orang yang aku
temui dan lihat, tak pernah menganggap aku ada. tempat yang terletak di
jalan Suroto, di seberang LBC dan Togamas ini, mungkin satu-satunya
tempat yang paling banyak aku datangi. bisa dibilang, sebagian besar
hidupku di Jogja aku lewatkan di perpus kecil ini. dan Paper Shadows mengalir kencang ke dalam pembuluh gelapku.
ah, dalam kehidupan yang
begitu kecil dan tak menentu ini, aku ingin mengucapkan keinginan
terakhirku kepada umat manusia. keinginan akan segala bentuk kekosongan
yang abadi. di mana, seorang kecil sudah tak lagi memercayai
segala-galanya kecuali kepura-puraan.
apa yang masih tersisa dari umat manusia di saat aku melihatnya sendiri setiap harinya?
'aku orang sakit,' ujar
Dostoyevski. begitu juga diriku. lalu aku memandangi sekitar. begitu
kosong. malam ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya. dan
setelah menghabiskan seluruh album The Dark Conclusions, aku kembali ke dalam pelukan Nocturne In F Minor-Op. 55, No. 1. lalu aku menutupnya dengan Ash. malam sangat dingin dan lelah. aku ingin menidurkan diriku dalam kesedihan abadi. kekal di sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar