kereta berguncang.
bergerak. dari lamban lalu semakin cepat. perlahan-lahan Jogja semakin
menjauh. me jauh. dan terus menjauh. aku kembali meninggalkan Jogja.
seperti Max ketika meninggalkan Kairo. kota itu, entah mengapa, harus
aku jauhi lagi setelah aku terhisap dalam kebosanan berulang-ulang.
mungkin, aku harus terus
bergerak. berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. lari dari
kebosanan, kejiwaan yang buruk, kepala yang tak berhenti berpikir, tubuh
yang sakit-sakitan, dan masa depan yang, entah kenapa, masih saja
selalu buram bagiku
'tak ada cara yang lebih baik selain mengemas ransel lalu berkala,' ujar Yossi Ghinsberg dalam Lost In The Jungle. aku
mengemas ransel. memasukkan dua buku ke dalamnya. berbagai jenis
pakaian dan celana. ada juga sandal. catatan harian. dan berbagai macam
lainnya yang tak perlu aku jelaskan. seolah-olah aku mengulangi
perjalanan-perjalanan yang lalu.
aku berada di dalam kereta Kahuripan. kereta berangkat pukul tujuh. kedingingan. dan memutuskan membaca Lost In The Jungle. hanya membayar 84 ribu aku sudah bisa kembali melanjutkan pengembaraanku: Mengembara di Tanah Asing.
aku duduk di gerbong 5
kursi nomor 16 E bersama tiga orang lainnya. dua orang, laki-laki
perempuan muda, yang ingin ikut pelatihan HMI. mereka bergantian membaca
buku dan coba untuk tertidur. dan satu bapak-bapak mengenakan topi yang
lebih dulu jatuh terlelap.
karena kursi sebelah
kosong. aku duduk di kursi sebelah, nomor 15. dua orang berusia senja
jatuh tertidur. sang nenek terlelap seperti di dalam kamar rumah.
berbantalkan paha milik si kakek. dan sang kakek beberapa kali terbangun
mencari posisi kaki atau ketika sudah merasa kesemutan. kereta terus
berguncang dan sesekali berhenti. di dalam sebuah perjalanan, aku
kembali sedikit hidup. apakah mungkin aku harus terus bergerak dan
berpindah-pindah?
'kau menjelajahi tempat-tempat memesona -tempat-tempat yang sangat diimpikam turis- tapi kau bukan turis. kau adalah mochilero, pengelana
-itu perbedaan besar. hari ini kau mendatangi suatu tempat, besok sudah
di tempat lain. kau boleh menetap satu hari atau satu bulan, membuat
rencana sendiri. dan setiap hari adalah kejutan," tulis Yossi Ghinsberg
lagi. sayangnya, aku pengembara atau pengelana, yang sedang tak mencari
keindahan, tempat eksotis, dan memesona. aku malah mendatangi tempat
yang jarang didatangi orang-orang dan sedikit diberi perhatian lebih,
yaitu kota-kota. sebuah tempat yang sebisa mungkin ingin dijauhi oleh
para pengembara, backpacker, penjelajah, bahkan mereka yang menyebut
dirinya pencinta alam. entah sudah beberapa kali aku berkata seperti ini
ketika kembali memulai sebuah perjalanan. yang jelas, aku sedang ingin
melihat Jawa dan mungkin seluruh pulau Indonesia. menyaksikan inti dari
setiap kota yang aku masuki dan sedikit merenung tentang masa yang akang
datang.
aku hidup dalam masa
yang cukup beruntung. malam ini aku tak mengalami saat-saat yang pernah
dirasakan Elien Utrecht saat di tahun 60an melakukan liburan atau
perjalanannya di masa yang penuh gejolak. 'perjalanan dengan kereta api
tahun-tahun itu sangat tidak nyaman, dan ini diungkapkan secara lunak
karena ia kendaraan yang murah, maka kereta api itu biasanya penuh
sesak. para pelajo, pedagang pasar dengan barang dagangannya, anak-anak
sekolah (jadi pelajo juga), orang-orang pergi berlibur, dan
kadang-kadang juga pengemis. para pengemis yang seringkali puntung
anggota badannya itu pada jarak pendek tanpa bayar ikut naik. mereka
terhuyung-huyung atau merangkak masuk gerbong di sebuah stasiun kecil,
berjalan sambil mengemis ke depan atau ke belakang di tengah penumpang
yang penuh sesak, lalu merangkak atau terhuyung-huyung keluar dari
kereta api lagi di stasiun berikutnya. bukan perkecualian kalau kita
berjam-jam lamanya terpaku duduk di tengah lautan manusia. penumpang
kadang-kadang di stasiun kecil memanjat keluar lewat jendela karena
penuh sesaknya orang, jalan lewat pintu terhalang. di WC pun orang duduk
dengan barang bawaanya, dan itu untuk sesama penumpang cukup
menyesakkan,' gambaran yang kini sudah tak ada lagi dari peristiwa masa
lalu Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman.
saat sedang mengembara
atau ingin lebih dekat dengan tanah negara ini, mendadak berbagai macam
memoar perjalanan, catatan harian, atau kisah mengalami berbagai macam
kota sangatlah begitu penting. sedikit orang yang menganggap perjalanan
bermakna khusus untuk generasi berikutnya. entah sebagai pembanding atau
kajian yang lebih dalam. dan aku rasa, aku ingin menulis sebuah
perjalanan untuk merekam sebuah kota yang terus berubah dan mudah
terhapus gambarannya.
udara semakin dingin.
kereta berguncang pelan, menandakan masih berada di jalur yang tepat.
mungkin akan sangat menyenangkan, sesekali ada tabrakan dan semacamnya.
biar ada sesuatu yang cukup menegangkan untuk aku catat.
pendingin udara yang ada
sangat keterlaluan kejamnya. hidungku sudah mulai mengeluh. begitu juga
kaki dan punggungku. 23 derajat celcius dalam udara malam yang sangat
tak memiliki kepekaan. baiklah, ini kelas ekonomi. bolehkah aku mulai
mengeluh dari sekarang?
memasuki pukul dua belas
malam, punggungku sudah terasa kesakitan. begitu juga sekitar perutku.
tanda-tanda ketidaknyamanan sudah mulai bermunculan. aku kesusahan untuk
tidur. pada akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk membaca, bermain
game, dan mendengarkan beberapa lagu dari Aurora, Efek Rumah Kaca, dan
beberapa musik instrumental. kereta terus melaju. dan yah, orang-orang
sudah bertumbangan ke alam mimpi mereka. tidur dengan gaya suka-suka.
ada yang memakai sarung. kain batik. selonjoran. atau beberapa terlihat
tak sengaja tidur dengan kepala menunduk sampai ke sekitar perut. kereta
bergetar, berguncang, dan terus melaju. laju yang terkesan pelan. udara
masih begitu dingin. kaca hanya berisi warna gelap, sesekali
bintik-bintik putih bermunculan.
aku melahap cemilanku,
sesekali. ampyang rasa jahe yang tanpa ampun aku habisi dan bakpia yang
ternyata tak cukup tepat dijadikan teman perjalanan malam ini. sesekali
juga, mereka terlempar keluar dari mulutku karena tersedak. tak mengapa.
aman. tak ada yang melihatnya. kecuali Tuhan yang selalu mengintip
segala sesuatunya.
perjalanan adalah
menghibur diri sendiri, untuk sesaat, dari kehidupan sehari-hari yang
menjemukan. membosankan. bahkan brengsek. perjalanan tak membuat dunia
berubah menjadi lebih baik kecuali sedikit di hadapan sejarah yang
terbentang di belakang ingatan umat manusia. dan berjalan, hanyalah
sekedar mengurangi rasa sakit, penderitaan, ketidakmenentuan,
keterasingan, kehampaan, hingga mencoba untuk menolak dunia keseharian.
perjalanan adalah wujud dari pemberontakan terhadap keteraturan.
kegilaan akan keteraturan.
lalu kita mengemas
ransel. membuat beberapa rencana. memilih beberapa tempat yang dikira
cocok. lalu mulai melangkahkan kaki, atau berkendara, berharap ada suatu
tempat atau kesan yang membuat kita sedikit menikmati apa itu yang
dinamakan kebahagiaan atau sedikit perasaan hidup. paling sedikit, kita
menemukan kesenangan atau pengalaman tak terlupakan di dalamnya. 'setiap
pengembara mengerti perasaan ini: mendambakan agar setiap tempat yang
hendak ditinggalkannya menawarkan semangat untuk mendatangi tujuan baru,
sekalu yakin bahwa tempat berikut pasti lebih bagus, lebih
menyenangkan,' ujar Yossi Ghinsberg lagi. namun, adakalanya, bahkan
sering, perjalanan selalu berakhir mengecewakan. dan akhirnya kita
bertanya-tanya, apakah untuk sekedar ini kehidupan itu? akhir perjalanan
seringkali berujung keputusasaan. bahkan terlalu sering.
'tercerabut dari
lingkungan yang biasa, saya pun merasa telah kehilangan jalan saya di
dalam sebuah dunia yang tak berarti apa-apa bagi saya,' ucap Karen
Armstrong, yang juga sama dengan nyaris keadaan seluruh generasiku hari
ini. dan aku, mungkin, salah satu yang jelas, mewakili keadaan jiwa
zamanku. itulah yang membawaku berpindah dari satu kota ke satu kota
lainnya.
kereta terus melaju. tujuan hanya tinggal satu setengah jam lagi. aku memutuskan membaca Lost In The Jungle dan
merasa sangat menikmatinya. kalau boleh dibilang, itu tak ubahnya
dengan novel. memoar, catatan atau kisah perjalan, apa bedanya dengan
novel? beberapa waktu yang lalu, sempat berkali-kali aku berpikir untuk
membuat novel jenis semacam itu. yang jelas, aku akan membuat sebuah
atau beberapa jenis novel. dari yang beberapa puluh halaman hingga
ratusan. tapi untuk saat ini, novel sangat jauh dari apa yang aku
inginkan.
kereta berhenti
sesekali. lalu melaju lagi. aku memandang menembus kaca. terlihat
bintik-bintik kecil dari bawah ke atas. aku sudah berada di ketinggian
yang cukup. lampu-lampu menandakan rumah berada di dataran tinggi. dan
jalur kereta api tepat sedikit di atasnya. di manakah aku sekarang?
aku membuka Google Map.
dan mencari letak posisiku berada. ternyata, kereta berada di antara
Tasikmalaya dan Garut. dan aku tak tahu itu berada di mana. melakukan
perjalanan saat malam dengan kereta kadang terasa menjemukan. tak ada
pemandangan dunia luar yang nyaris bisa terlihat. yah, maka jika sudah
seperti itu, mengamati para manusialah akhirnya.
sambil memutar beragam
musik instrumental dari Soundcloud, perasaanku menjadi semakin hanyut
dalam kesunyian. dari Chad Lawson, Ash, Fabrizio Paterlini, hingga
beragam musik baru yang membuatku terasa bagai tersayat-sayat di dalam
kereta. untuk apa perjalanan umat manusia? aku pun memutuskan ke toilet.
mengeluarkan isi dan mengamati sekitar. dunia manusia yang begitu
lembut dan aneh. dan terkadang sangat berdarah dan rusak.
ingin sekali aku memiliki buku milik Pisani dan Vltcek. membacanya. dan membayangkan perjalanannya.
waktu terus bergerak.
semua orang terasa berhenti bicara. diam. dalam diamlah dunia terkadang
tak terlalu begitu dingin. diam menuju semua yang dipejamkan. dalam
tidurnya, manusia terasa menjadi jinak dan tak terlihat buas. aku
memutar berulang-ulang Historiette#5 dari Paterlini. rasanya ingin memejamkan mata. melupakan segala hal yang ada di kepala dan hatiku.
tak lama kemudian,
kereta sudah berada di kawasan pemukiman. waktu menunjukkan 02:59. udara
begitu sangat dingin. bahkan keterlaluan dingin dan semakin dingin
rasanya.
aku mencoba untuk
memejamkan mata. gagal. dan kereta pun akhirnya sampai juga di stasiun.
aku pun turun. membeli popmie. mengisi baterai di tempat biasanya yang
kini sudah cukup banyak berubah. memandangi seekor kucing putih
berbelang di sekitar leher dan kepala. mencari kos yang mungkin cocok.
dan menunggu pagi memaksa matahari tampak dari sisi timur.
perjalanan, hanyalah rasa sakit dan kosong yang coba kita pindahkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar