Senin, 06 Maret 2017

JOGJA: MENINGGALKAN JOGJA










kereta berguncang. bergerak. dari lamban lalu semakin cepat. perlahan-lahan Jogja semakin menjauh. me jauh. dan terus menjauh. aku kembali meninggalkan Jogja. seperti Max ketika meninggalkan Kairo. kota itu, entah mengapa, harus aku jauhi lagi setelah aku terhisap dalam kebosanan berulang-ulang. 

mungkin, aku harus terus bergerak. berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. lari dari kebosanan, kejiwaan yang buruk, kepala yang tak berhenti berpikir, tubuh yang sakit-sakitan, dan masa depan yang, entah kenapa, masih saja selalu buram bagiku 

'tak ada cara yang lebih baik selain mengemas ransel lalu berkala,' ujar Yossi Ghinsberg dalam Lost In The Jungle. aku mengemas ransel. memasukkan dua buku ke dalamnya. berbagai jenis pakaian dan celana. ada juga sandal. catatan harian. dan berbagai macam lainnya yang tak perlu aku jelaskan. seolah-olah aku mengulangi perjalanan-perjalanan yang lalu. 

aku berada di dalam kereta Kahuripan. kereta berangkat pukul tujuh. kedingingan. dan memutuskan membaca Lost In The Jungle. hanya membayar 84 ribu aku sudah bisa kembali melanjutkan pengembaraanku: Mengembara di Tanah Asing.

aku duduk di gerbong 5 kursi nomor 16 E bersama tiga orang lainnya. dua orang, laki-laki perempuan muda, yang ingin ikut pelatihan HMI. mereka bergantian membaca buku dan coba untuk tertidur. dan satu bapak-bapak mengenakan topi yang lebih dulu jatuh terlelap. 

karena kursi sebelah kosong. aku duduk di kursi sebelah, nomor 15. dua orang berusia senja jatuh tertidur. sang nenek terlelap seperti di dalam kamar rumah. berbantalkan paha milik si kakek. dan sang kakek beberapa kali terbangun mencari posisi kaki atau ketika sudah merasa kesemutan. kereta terus berguncang dan sesekali berhenti. di dalam sebuah perjalanan, aku kembali sedikit hidup. apakah mungkin aku harus terus bergerak dan berpindah-pindah?

'kau menjelajahi tempat-tempat memesona -tempat-tempat yang sangat diimpikam turis- tapi kau bukan turis. kau adalah mochilero, pengelana -itu perbedaan besar. hari ini kau mendatangi suatu tempat, besok sudah di tempat lain. kau boleh menetap satu hari atau satu bulan, membuat rencana sendiri. dan setiap hari adalah kejutan," tulis Yossi Ghinsberg lagi. sayangnya, aku pengembara atau pengelana, yang sedang tak mencari keindahan, tempat eksotis, dan memesona. aku malah mendatangi tempat yang jarang didatangi orang-orang dan sedikit diberi perhatian lebih, yaitu kota-kota. sebuah tempat yang sebisa mungkin ingin dijauhi oleh para pengembara, backpacker, penjelajah, bahkan mereka yang menyebut dirinya pencinta alam. entah sudah beberapa kali aku berkata seperti ini ketika kembali memulai sebuah perjalanan. yang jelas, aku sedang ingin melihat Jawa dan mungkin seluruh pulau Indonesia. menyaksikan inti dari setiap kota yang aku masuki dan sedikit merenung tentang masa yang akang datang. 

aku hidup dalam masa yang cukup beruntung. malam ini aku tak mengalami saat-saat yang pernah dirasakan Elien Utrecht saat di tahun 60an melakukan liburan atau perjalanannya di masa yang penuh gejolak. 'perjalanan dengan kereta api tahun-tahun itu sangat tidak nyaman, dan ini diungkapkan secara lunak karena ia kendaraan yang murah, maka kereta api itu biasanya penuh sesak. para pelajo, pedagang pasar dengan barang dagangannya, anak-anak sekolah (jadi pelajo juga), orang-orang pergi berlibur, dan kadang-kadang juga pengemis. para pengemis yang seringkali puntung anggota badannya itu pada jarak pendek tanpa bayar ikut naik. mereka terhuyung-huyung atau merangkak masuk gerbong di sebuah stasiun kecil, berjalan sambil mengemis ke depan atau ke belakang di tengah penumpang yang penuh sesak, lalu merangkak atau terhuyung-huyung keluar dari kereta api lagi di stasiun berikutnya. bukan perkecualian kalau kita berjam-jam lamanya terpaku duduk di tengah lautan manusia. penumpang kadang-kadang di stasiun kecil memanjat keluar lewat jendela karena penuh sesaknya orang, jalan lewat pintu terhalang. di WC pun orang duduk dengan barang bawaanya, dan itu untuk sesama penumpang cukup menyesakkan,' gambaran yang kini sudah tak ada lagi dari peristiwa masa lalu Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman. 

saat sedang mengembara atau ingin lebih dekat dengan tanah negara ini, mendadak berbagai macam memoar perjalanan, catatan harian, atau kisah mengalami berbagai macam kota sangatlah begitu penting. sedikit orang yang menganggap perjalanan bermakna khusus untuk generasi berikutnya. entah sebagai pembanding atau kajian yang lebih dalam. dan aku rasa, aku ingin menulis sebuah perjalanan untuk merekam sebuah kota yang terus berubah dan mudah terhapus gambarannya. 

udara semakin dingin. kereta berguncang pelan, menandakan masih berada di jalur yang tepat. mungkin akan sangat menyenangkan, sesekali ada tabrakan dan semacamnya. biar ada sesuatu yang cukup menegangkan untuk aku catat.
pendingin udara yang ada sangat keterlaluan kejamnya. hidungku sudah mulai mengeluh. begitu juga kaki dan punggungku. 23 derajat celcius dalam udara malam yang sangat tak memiliki kepekaan. baiklah, ini kelas ekonomi. bolehkah aku mulai mengeluh dari sekarang?

memasuki pukul dua belas malam, punggungku sudah terasa kesakitan. begitu juga sekitar perutku. tanda-tanda ketidaknyamanan sudah mulai bermunculan. aku kesusahan untuk tidur. pada akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk membaca, bermain game, dan mendengarkan beberapa lagu dari Aurora, Efek Rumah Kaca, dan beberapa musik instrumental. kereta terus melaju. dan yah, orang-orang sudah bertumbangan ke alam mimpi mereka. tidur dengan gaya suka-suka. ada yang memakai sarung. kain batik. selonjoran. atau beberapa terlihat tak sengaja tidur dengan kepala menunduk sampai ke sekitar perut. kereta bergetar, berguncang, dan terus melaju. laju yang terkesan pelan. udara masih begitu dingin. kaca hanya berisi warna gelap, sesekali bintik-bintik putih bermunculan. 

aku melahap cemilanku, sesekali. ampyang rasa jahe yang tanpa ampun aku habisi dan bakpia yang ternyata tak cukup tepat dijadikan teman perjalanan malam ini. sesekali juga, mereka terlempar keluar dari mulutku karena tersedak. tak mengapa. aman. tak ada yang melihatnya. kecuali Tuhan yang selalu mengintip segala sesuatunya. 

perjalanan adalah menghibur diri sendiri, untuk sesaat, dari kehidupan sehari-hari yang menjemukan. membosankan. bahkan brengsek. perjalanan tak membuat dunia berubah menjadi lebih baik kecuali sedikit di hadapan sejarah yang terbentang di belakang ingatan umat manusia. dan berjalan, hanyalah sekedar mengurangi rasa sakit, penderitaan, ketidakmenentuan, keterasingan, kehampaan, hingga mencoba untuk menolak dunia keseharian. perjalanan adalah wujud dari pemberontakan terhadap keteraturan. kegilaan akan keteraturan. 

lalu kita mengemas ransel. membuat beberapa rencana. memilih beberapa tempat yang dikira cocok. lalu mulai melangkahkan kaki, atau berkendara, berharap ada suatu tempat atau kesan yang membuat kita sedikit menikmati apa itu yang dinamakan kebahagiaan atau sedikit perasaan hidup. paling sedikit, kita menemukan kesenangan atau pengalaman tak terlupakan di dalamnya. 'setiap pengembara mengerti perasaan ini: mendambakan agar setiap tempat yang hendak ditinggalkannya menawarkan semangat untuk mendatangi tujuan baru, sekalu yakin bahwa tempat berikut pasti lebih bagus, lebih menyenangkan,' ujar Yossi Ghinsberg lagi. namun, adakalanya, bahkan sering, perjalanan selalu berakhir mengecewakan. dan akhirnya kita bertanya-tanya, apakah untuk sekedar ini kehidupan itu? akhir perjalanan seringkali berujung keputusasaan. bahkan terlalu sering.

'tercerabut dari lingkungan yang biasa, saya pun merasa telah kehilangan jalan saya di dalam sebuah dunia yang tak berarti apa-apa bagi saya,' ucap Karen Armstrong, yang juga sama dengan nyaris keadaan seluruh generasiku hari ini. dan aku, mungkin, salah satu yang jelas, mewakili keadaan jiwa zamanku. itulah yang membawaku berpindah dari satu kota ke satu kota lainnya.

kereta terus melaju. tujuan hanya tinggal satu setengah jam lagi. aku memutuskan membaca Lost In The Jungle dan merasa sangat menikmatinya. kalau boleh dibilang, itu tak ubahnya dengan novel. memoar, catatan atau kisah perjalan, apa bedanya dengan novel? beberapa waktu yang lalu, sempat berkali-kali aku berpikir untuk membuat novel jenis semacam itu. yang jelas, aku akan membuat sebuah atau beberapa jenis novel. dari yang beberapa puluh halaman hingga ratusan. tapi untuk saat ini, novel sangat jauh dari apa yang aku inginkan. 

kereta berhenti sesekali. lalu melaju lagi. aku memandang menembus kaca. terlihat bintik-bintik kecil dari bawah ke atas. aku sudah berada di ketinggian yang cukup. lampu-lampu menandakan rumah berada di dataran tinggi. dan jalur kereta api tepat sedikit di atasnya. di manakah aku sekarang? 

aku membuka Google Map. dan mencari letak posisiku berada. ternyata, kereta berada di antara Tasikmalaya dan Garut. dan aku tak tahu itu berada di mana. melakukan perjalanan saat malam dengan kereta kadang terasa menjemukan. tak ada pemandangan dunia luar yang nyaris bisa terlihat. yah, maka jika sudah seperti itu, mengamati para manusialah akhirnya.

sambil memutar beragam musik instrumental dari Soundcloud, perasaanku menjadi semakin hanyut dalam kesunyian. dari Chad Lawson, Ash, Fabrizio Paterlini, hingga beragam musik baru yang membuatku terasa bagai tersayat-sayat di dalam kereta. untuk apa perjalanan umat manusia? aku pun memutuskan ke toilet. mengeluarkan isi dan mengamati sekitar. dunia manusia yang begitu lembut dan aneh. dan terkadang sangat berdarah dan rusak. 

ingin sekali aku memiliki buku milik Pisani dan Vltcek. membacanya. dan membayangkan perjalanannya. 

waktu terus bergerak. semua orang terasa berhenti bicara. diam. dalam diamlah dunia terkadang tak terlalu begitu dingin. diam menuju semua yang dipejamkan. dalam tidurnya, manusia terasa menjadi jinak dan tak terlihat buas. aku memutar berulang-ulang Historiette#5 dari Paterlini. rasanya ingin memejamkan mata. melupakan segala hal yang ada di kepala dan hatiku.

tak lama kemudian, kereta sudah berada di kawasan pemukiman. waktu menunjukkan 02:59. udara begitu sangat dingin. bahkan keterlaluan dingin dan semakin dingin rasanya. 

aku mencoba untuk memejamkan mata. gagal. dan kereta pun akhirnya sampai juga di stasiun. aku pun turun. membeli popmie. mengisi baterai di tempat biasanya yang kini sudah cukup banyak berubah. memandangi seekor kucing putih berbelang di sekitar leher dan kepala. mencari kos yang mungkin cocok. dan menunggu pagi memaksa matahari tampak dari sisi timur. 

perjalanan, hanyalah rasa sakit dan kosong yang coba kita pindahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar