Senin, 06 Maret 2017

MENINGGALKAN SURABAYA








'setelah mengunjungi semua yang bisa diselidiki di Singa Sari, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Malang,' jelas Thomas Stamford Raffles dalam perjalanannya pada tahun 1815. Sekarang 2017, berarti sudah sangat lama sekali. Dan aku sedang tidak kembali ke Malang atau berusaha meninggalkan Singa Sari. Aku sedang kabur dari Surabaya yang sudah tak menarik. Dan tak terlalu berharap dengan perjalanan John C. Dyke di tahun 1929 dan kegemparannya menjelaskan keindahan kota Malang. Kota buatan kolonial yang agak mirip dengan Bandung. Aku sudah pesimis sejak awal. Mungkin tak jauh beda dengan Bandung dan Surabaya hari ini. 

'Perjalanan saya di Jawa sangat nyaman tetapi mahal. Satu-satunya alat transportasi ialah sebuah kereta,' ungkap Alfred Russel Wallace di tahun 1869. Dan kini alat transportasi sangat beragam dan masih saja mahal. Kecuali jelas ekonomi yang cukup murah, yang aku naik dari Bandung ke Surabaya. Naik tingkatan sedikit saja, harganya sudah melambung tinggi. Dan sekarang aku sedang menuju Malang dengan sebuah bus ber-AC yang tak kebal dari beragam pengamen dan penjual makanan.

Suasana di sekitar Purabaya mirip dengan Semarang atas atau ketika melewati tol. Mirip juga dengan kisaran Bogor, Jakarta, Bandung, dan lainnya. Warna hijau dan beberapa pohon menguasai lahan. Dan pastinya rumah yang bertumpuk-tumpuk. 

Aku menggunakan Gojek untuk sampai di terminal Purabaya yang lebih dekat dengan Sidoarjo. Jalanan cukup sesak walau tak sampai macet. Banyak mal dan universitas berdiri di sepanjang jalan. Pohon-pohon yang menjulang dan tanaman di berbagai tempat hingga di pinggirannya, membuatku memberikan beberapa tepuk tangan bagi kota ini. Tertata dan rapi. Sedikit sampah terlihat. Kota paling bersih sejauh aku melihatnya dibandingkan beragam kota lainnya. 

Di dekat jl Ahmad Yani, kalau tak salah. Ada sawah kecil dikelilingi bangunan. Seolah menandakan akhir dari pertanian di Jawa kelak. Surabaya nyaris keseluruhan telah menjadi kota. Berbagai bangunan yang baru dibangunan menjulang sangat tinggi. Becak motor juga sudah berkeliaran di mana-mana. Udara yang panas. Nyamuk-nyamuk keparat. Gairah intelektual yang menyedihkan membuat aku mencoret Surabaya sebagai daftar tempat kelak aku tinggal cukup lama.

Bus melewati Pasuruan yang penuh sampah dan diisi bangunan-bangunan yang tak enak dipandang. Lebih mirip dengan Magelang, Kebumen, dan Jogja. Atau lebih tepatnya, Kartosuro. Sukorejo tak jauh berbeda. Beberapa penumpang mulai naik. Begitu juga dengan pengamen tua berambut sedikit gondrong. Banyak pohon mangga, kresen, dan asam di sepanjang jalan. Sawah-sawah yang masih banyak membentang. Dan langit panas yang mulai menggelap. 

Sampai di Purwosari, suasana lebih banyak diisi oleh sawah sebagai latar belakang bangunan-bangunan. Sawah atau ladang? Entahlah. Yang jelas, kondisi rumah di pinggir jalan nyaris serupa dengan kota Pasuruan. Tak banyak bangunan menjulang tinggi. Bisa dibilang, Jawa Timur sedikit memiliki kota besar. Hanya Surabaya dan Malang yang paling besar.

Kondisi bus agak tersendat di jalan Raya Purwosari. Bangunan kusam berada di sisi kanan dan kiri. Sampah dan sampah. Beragam warung makan. Dan penjaja makanan kecil berupa jahe bergerilya di dalam bus. Akhirnya bus mendapati diri berada di tanjakan. Perjalanan menjadi semakin pelan. Masih cukup banyak pohon. Anehnya, jaringan seluler malah lebih kencang ketika meninggalkan Surabaya. Di Surabaya, mencari jaringan data sungguh sangat menyakitkan. Betapa susahnya!

Udara semakin dingin. Di sisi kiri sangat indah. Di sisi kanan seperti tempat yang mau rubuh. Rasa-rasanya aku sudah memasuki daerah pegunungan. Sangat jelas dari balik kaca, pegunungan berjejer dalam selimut putih kabut dan mendung. Dan cerobong asap terlihat dari kejauhan merusak suasana keindahan yang baru saja ingin aku kagumi. Betapa brengseknya industrialisasi. Yah, sayang aku juga hidup di dunia industri. Dilema konyol dan tak pernah selesai dalam diri anak muda seperti aku. 

Kini, bus memasuki jalan Lawang-Malang yang menanjak. Suasananya sangat mirip seperti Ambarawa. Kontur tanah dan lanskapnya sangat mirip. Begitu juga bangunannya. Asap cerobong masih saja mengganggu mataku. Sangat menyebalkan. Kalau dilihat sekilas, Lawang lebih mirip sebagian dari Ungarang dan Ambarawa. Atau aku yang sudah salah menilai?

Suasananya tak jauh beda dengan Pasuruan. Dan yang penting, terlihat masakan Padang. Itu sudah cukup menggiurkan. Suasana perutku sudah pada tahap keroncongan. Aku benar-benar lapar. Waktu mendekati angka 11:- siang hari. Dan yang agak bermasalah, aku melihat pohon Pinus mulai bergoyang. Begitu juga spanduk warung yang aku lihat, dari Soto Ayam Lombok dengan warna kuning yang sangat mencolok. Bus pun kembali menanjak dengan pelan. Merayap di jalan Dr. Wahidin. Oh ya, aku lagi bosan mencatat sampah dan bangunan yang ada. Ada tempat karaoke, les, beberapa bangunan terlantar, dan gapura Puri Kencana Lawang. Puri? Meragukan memang.

Sangat banyak bangunan tua yang dirobohkan. Ditinggalkan. Di sekitar Bedali, sepanjang jalan, semuanya seolah menjelma toko. Persis seperti yang pernah dikatakan oleh Rhadar Panca Dahana mengenai betapa tak kreatifnya kita dalam dunia usaha. 

Sepertinya aku telah memasuki kawasan industri. Aku berada di kawasan Singo Sari.  Yang isi bangunan dan fisiknya tak jauh beda. Perutku sudah mulai melilit, minta diisi dengan segera. 

Ruko-ruko yang sepi. Beberapa dijual. Pusat pakaian murah. Wilayah tinggal tentara. Jalan yang mulai lambat dengan menumpuknya mobil dan kendaraan angkut. Nasib Malang yang terlihat menyedihkan jika dipandang dari jalanan menuju kota itu. Aku bagaikan melihat kembaran Semarang atas.

Pohon mahoni. Angsana. Asam Jawa. Preh. Sesekali durian. Kresen. Mangga. Menguasai sepanjang jalan ini. Ada juga beringin. Pepaya. Dan beragam jenis tanaman hias yang penataannya tak seindah Surabaya. Malang dikenal sebagai Kota Taman atau The Garden City. Aku ingin tahu, apakah kota itu bisa sebaik Surabaya dalam penataan tamannya. 

Sial, Singo Sari terasa lambat dan menyebalkan. Benar-benar macet. Bus bergerak begitu lambat. Kemacetan selalu saja mengurangi kesenangan para pejalan dan pengembara. Dan wahai kambing muda! Aku lapar!

Hari ini hari Sabtu. Aku sampai lupa akan hal itu. 4 Maret 2017. Aku masih sedang bergerak menuju kota Malang. Terjebak di Singo Sari. Tempat Ken Arok berkuasa di abad pertengahan dan memulai kerajaan yang kelak akan menjadi cikal bakal Majapahit. Aku mengagumi masa lalu itu. Tapi jalanan sekarang ini, apa yang harus bisa dikagumi? Heh?

Kalau boleh, aku ingin melempar semua jenis sampah jalanan di depan sana atau mengebomnya agar cepat menyingkir. Aku bukan sedang ingin menuju Jogja atau Bandung. Aku hanya ingin menuju Malang. Tapi kenapa keadaannya nyaris serupa?! Benar-benar kemacetan panjang yang sangat sialan.

Sesampainya di Malang, aku sudah menyiapkan umpatan yang lebih banyak lagi. Sangat banyak. Aku sendiri bahkan tak bisa menghitungnya. 

Deretan penjual topi, sandal, handphone, barang bekas, buah-buahan, motor dan mobil yang berderet terparkir di pasar Singo Sari, membuat aku ingin tidur dan memenuhi panggilan kantukku. Dan bus bergerak sama lambatnya dengan beberapa puluh menit yang lalu. Aku pun menghela nafas. Bosan. Lelah. Kurang tidur. Dan keinginan jahat ingin menghapus peta Singo Sari dan hanya sekedar menjadikannya jalan lebar tanpa perumahan dan penduduk. Igauan konyol yang layak aku kagumi. 

Melihat jalanan yang macet tiada ujung. Aku benar-benar malas dan bosan. Mobil-mobil tak tahu diri yang sangat mengganggu mata dan pikiranku. Lebih baik aku tidur dan mengisi tenagaku kembali. 

Taman Ken Dedes. River Side. Masih juga macet. Aku sudah sampai di bagian Malang. Oh aku sudah sampai di Malang. Terminal Arjosari. Terlambat hampir satu jam. Aku pun berjalan membawa kantukku dan mulai memasuki kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar