dalam sekali pandang,
aku langsung tahu, inilah perpustakaan langka di pusat kota Surabaya.
deretan buku-buku Komunitas Bambu di dekat pintu sudah langsung
menjelaskan tempat yang kini aku sedang berada di dalamnya. dalam artian
banyak, aku bagaikan melihat bayang-bayang Freedom Institu di sini.
walau tak sebagus Freedom Institut tapi dalam sekali waktu, aku
menyukainya.
aku diantar oleh Go-Car
untuk sampai di tempat ini. menunggu cukup lama hanya untuk jarak 1,3
kilometer. waktu tunggu yang aku jalani, sudah cukup membuatku sampai
lebih dulu dari pada mobil yang tersesat dan bingung mencariku. walaupun
begitu, aku memutuskan tetap memesan Go-Car untuk alasan, bagaimana
rasanya hidup di dalam mobil nyaris setiap harinya ketika sedang berada
di jalan? dan, setelah beberapa percobaan ditambah yang dahulu, aku
semakin tahu. di dalam mobil, orang bagaikan berada di tempat yang
paling nyaman sehingga lupa akan waktu, lingkungan, dan tak peduli
dengan apa yang dilewati. dalam sekali waktu, tiba-tiba mobil sudah
berada dekat dengan tujuan. kenyamanan di dalam mobil merusak kenyataan
sehari-hari. macet, panas, hujan, dan segala ketidaknyaman sekitar
mendadak lenyap. terlebih jika sedang berada di belakang kemudi,
samping, dan bukan sebagai pengemudi. jadi inilah alasannya aku melihat
sangat banyak perempuan di Tunjungan Plaza kemarin lebih banyak memesan
jasa mobil. entah taksi atau berbasis aplikasi. Blue Bird dan Go-Jek
telah saling merangkul. ditambah potongan harga menggunakan Go-Pay dan
lainnya, membuat orang lupa diri dan berkata cukup karena nantinya akan
jadi masalah.
pokoknya sekarang aku
sudah di tempat ini, luasnya nyaris seluas IFI. dan disambut oleh
seorang penjaga perempuan berbaju warna ungu dan berkacamata. ada
seorang tua gendut. perempuan berjilbab. dan seorang perempuan
berpakaian hitam, yang gayanya lebih mirip seniman. siapa mereka? aku
lagi tak mau tahu. aku lagi agak malas mengeluarkan suara.
di dalam perpustakaan kecil ini, aku langsung mendapatkan harta karun. sebuah buku berwarna oranye berjudul Darwin's Dangerous Idea karya
Daniel C. Dennett. nama yang tak asing bagiku. dan buku yang jarang aku
temui di manapun kecuali memang di perpustakaan Freedom Institut.
ada seorang perempuan
berjilbab ungu tengah asyik mencari buku-buku. aku lihat sekilas,
kebanyakan buku sejarah mengenai Majapahit,Mataram, dan lainnya. setelah
aku tanya dari jurusan apa dia, dia pun menjawabnya 'sejarah'. sekali
dalam ssminggu dia berada di sini karena keperluan tugas dan semacamnya.
dan yah, hanya dia satu-satu orang luar dari lingkaran tempat ini. aku
rasa seperti itu. baiklah, tempat semacam ini memang sangat menyenangkan
ketika sepi. tapi juga sedikit ironis.
rasa haus menyerangku.
aku membei minum air putih dingin di tempat ini. yang ada tinggal yang
dingin, mai bagaiamana lagi? aku cepat-cepat meneguknya. sekali waktu,
kepalaku bagaikan terserang ombak. berdenyut dan pusing. panas udara
Surabaya, kelelahan, dan air dingin, membuatku bagai jatuh tersungkur
dan tak bersemangat. perlu waktu cukup lama untuk memulihkan diri dan
sedikit menikmat tempat ini.
konyol rasanya membuat
diriku sendiri menjadi tak berguna semacam ini. walau aku sudah tak
terlalu berguna sejak dulu. tapi yang ini benar-benar idiot. di tengah
tumpukan dan deratan buku bagus, bisa-bisanya aku malah menjadi seperti
ini? sakit kepala yang tak mau berhenti samlai menjelang malam tiba.
benar-benar tolol.
aku memaksa diriku
mengamati rak-rak. banyak yang bagus. aku bilang, inilah perpustakaa
terbaik yang sudah aku masuki ketika berada di Surabaya. kota yang
panasnya mengerikan.
aku mendapatkan buku karya Richard Dawkins, The Ancestor's Tale. Nietzsche dengan Human, All Too Human dan Beyond Good and Evil dijadikan satu. ada Krakatao tulisan
Simon Winchester, yang bagus, dan membuat aku ingin mencarinya nanti.
buku berbahasa inggirs dengan sampul elegan dari Benedict Anderson, Under Three Flags. bahasa
Indonesinta juga ada. karena aku lagi tertarik dengan kajian kota,
sedang berada di Surabaya, dan sedang ingin ke Malang. aku mengambil
buku milik Purnawan Basundoro, Dua Kota Tiga Zaman; Surabaya dan Malang. buku dengan pengarang sama yang buku lainnya sedang ada di dalam tas.
ada juga buku kotarumahkita karya Marco Kusumawijaya. sejak dulu aku ingin memiliki buku ini. tapi tak pernah kesampaian. harga 100 ribu. pertama kali melihatnya di Kedai Kebun. kini ada di C02. aku juga sekilas membaca karya Joss Wibisono, Saling Silang Indonesia-Eropa. dan masih banyak buku bagus lainnya. di antaranya, aku sudah memilikinya.
aku terpaksa menggeledah isi perpus dan membawa buku-buku ini di depan lampu baca; Kepada Bangsaku; Karya-karya bung karno. sebuah buku bagus milik Jared Diamond, Guns, Germs, and Steel versi bahasa inggris, kecil, dan sangat mudah dibawa di tas. ada juga Memoir dari Bung Hatta. Mengapa Seks Itu Asyik karangan Jared Diamond lagi. Sang Pemula Karya Pramoedya Ananta Toer. dan luar biasa banyak lainnya buku bagus yang membuatku betah.
kepalaku masih berdenyut tak karuan. walau agak sedikit mereda.
aku mengobrol sejenak
dengan penjaga perpustakaan mengenai bagaimana aku memasuji kota-kota
dan ingin melihat berbagai macam buku. awalnya menarik, sayang dia lagi
sibuk kerja jadi tak bisa terarah padaku. akhirnya aku meminta ijin
untuk memasuki ruangan yang ada di atas, yang katanya berbayar jika
orang butuh ketenangan. wifi di sini juga berbayar. cukup mahal. tapi,
rasa-rasanya, semua itu untuk memenuhi kebutuhan akan manajemen perpus
ini.
hari makin gelap. orang
berdatangan. lumayan. tapi hanya untuk les, mengobrol, dan hanya aku
sendiri yang masih ada di ruangan perpus ini. dinaungi lampu belajar.
dan keramangan sekitar yang membuat aku agak hening; bahkan tempat
sebagus ini pun sepi dan tak terlalu digemari. yah, apakah era
perpustakaan akan berakhir?
aku membaca artikel
mengenai sengketa dan kontroversi perpustakaan di lantai atas. mengenai
semakin susahnya membiayai berbagai perpustakaan yang ada. keinginan
untuk membuka perpustaakan sebagai ruang terbuka yang lebih umum. hingga
masalah perubahan dan hukum yang tersangkut di dalamnya. apakah era
perpustakaan akan berakhir dan menjadi sekedad kenangan? setidaknya, di
negara ini, kematian perpustakaan sudah sangat lama terjadi.
perpustakaan sudah sangat lama menjadi ruang publik mirip cafe. apakah
itu masalah? ya dan tidak bagiku sendiri. tapi aku juga sangat jengkel
karena sedikit menemukan pembaca buku bahkan di perpustakaan itu
sendiri. dan kipas angin, berputar-putat tak berarti dan percuma,
sekitar dua meter dariku berada. aku pun mematikannya.
aku sedang melihat
keruntuhan buku dan dunia intektual tepat di depan mataku dan ketika aku
masih muda dunia digital yang kacau dan sangat tak bertanggung jawab
memasuki ruang pribadi orang-orang yang tak pernah membaca buku secara
utuh dan secara dalam. apa yang akan terjadi dengan masyarakat negara
ini kemudian hari? aku tak tahu. tapi aku ingin bilang, negara ini telah
menjadi tanah surga yang terbakar.
Jawa yang tak lagi
menjadi surga. dan kota-kota besar di Indonesia yang menyusul menjadi
neraka. dunia sekitarku bergerak ke arah yang sangat monoton. semua
jenis orang hidup di dalamnya. mempertahankan hidup dan menjalaninya
antara enggan dan ingin. dan, kita berakhir dalam keterlupaan yang
abadi. buku-buku mengajariku banyak hal. salah satunya, terlalu sedikit
dari kita yang akan terus diingat. seperti buku-buku di ruangan ini yang
dilupakan dan semakin terpinggirkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar