Senin, 06 Maret 2017

SURABAYA: C20 LIBRARY & COLLABTIVE









dalam sekali pandang, aku langsung tahu, inilah perpustakaan langka di pusat kota Surabaya. deretan buku-buku Komunitas Bambu di dekat pintu sudah langsung menjelaskan tempat yang kini aku sedang berada di dalamnya. dalam artian banyak, aku bagaikan melihat bayang-bayang Freedom Institu di sini. walau tak sebagus Freedom Institut tapi dalam sekali waktu, aku menyukainya.
aku diantar oleh Go-Car untuk sampai di tempat ini. menunggu cukup lama hanya untuk jarak 1,3 kilometer. waktu tunggu yang aku jalani, sudah cukup membuatku sampai lebih dulu dari pada mobil yang tersesat dan bingung mencariku. walaupun begitu, aku memutuskan tetap memesan Go-Car untuk alasan, bagaimana rasanya hidup di dalam mobil nyaris setiap harinya ketika sedang berada di jalan? dan, setelah beberapa percobaan ditambah yang dahulu, aku semakin tahu. di dalam mobil, orang bagaikan berada di tempat yang paling nyaman sehingga lupa akan waktu, lingkungan, dan tak peduli dengan apa yang dilewati. dalam sekali waktu, tiba-tiba mobil sudah berada dekat dengan tujuan. kenyamanan di dalam mobil merusak kenyataan sehari-hari. macet, panas, hujan, dan segala ketidaknyaman sekitar mendadak lenyap. terlebih jika sedang berada di belakang kemudi, samping, dan bukan sebagai pengemudi. jadi inilah alasannya aku melihat sangat banyak perempuan di Tunjungan Plaza kemarin lebih banyak memesan jasa mobil. entah taksi atau berbasis aplikasi. Blue Bird dan Go-Jek telah saling merangkul. ditambah potongan harga menggunakan Go-Pay dan lainnya, membuat orang lupa diri dan berkata cukup karena nantinya akan jadi masalah.

pokoknya sekarang aku sudah di tempat ini, luasnya nyaris seluas IFI. dan disambut oleh seorang penjaga perempuan berbaju warna ungu dan berkacamata. ada seorang tua gendut. perempuan berjilbab. dan seorang perempuan berpakaian hitam, yang gayanya lebih mirip seniman. siapa mereka? aku lagi tak mau tahu. aku lagi agak malas mengeluarkan suara.

di dalam perpustakaan kecil ini, aku langsung mendapatkan harta karun. sebuah buku berwarna oranye berjudul Darwin's Dangerous Idea karya Daniel C. Dennett. nama yang tak asing bagiku. dan buku yang jarang aku temui di manapun kecuali memang di perpustakaan Freedom Institut. 

ada seorang perempuan berjilbab ungu tengah asyik mencari buku-buku. aku lihat sekilas, kebanyakan buku sejarah mengenai Majapahit,Mataram, dan lainnya. setelah aku tanya dari jurusan apa dia, dia pun menjawabnya 'sejarah'. sekali dalam ssminggu dia berada di sini karena keperluan tugas dan semacamnya. dan yah, hanya dia satu-satu orang luar dari lingkaran tempat ini. aku rasa seperti itu. baiklah, tempat semacam ini memang sangat menyenangkan ketika sepi. tapi juga sedikit ironis.

rasa haus menyerangku. aku membei minum air putih dingin di tempat ini. yang ada tinggal yang dingin, mai bagaiamana lagi? aku cepat-cepat meneguknya. sekali waktu, kepalaku bagaikan terserang ombak. berdenyut dan pusing. panas udara Surabaya, kelelahan, dan air dingin, membuatku bagai jatuh tersungkur dan tak bersemangat. perlu waktu cukup lama untuk memulihkan diri dan sedikit menikmat tempat ini. 

konyol rasanya membuat diriku sendiri menjadi tak berguna semacam ini. walau aku sudah tak terlalu berguna sejak dulu. tapi yang ini benar-benar idiot. di tengah tumpukan dan deratan buku bagus, bisa-bisanya aku malah menjadi seperti ini? sakit kepala yang tak mau berhenti samlai menjelang malam tiba. benar-benar tolol.

aku memaksa diriku mengamati rak-rak. banyak yang bagus. aku bilang, inilah perpustakaa terbaik yang sudah aku masuki ketika berada di Surabaya. kota yang panasnya mengerikan. 

aku mendapatkan buku karya Richard Dawkins, The Ancestor's Tale. Nietzsche dengan Human, All Too Human dan Beyond Good and Evil dijadikan satu. ada Krakatao tulisan Simon Winchester, yang bagus, dan membuat aku ingin mencarinya nanti. buku berbahasa inggirs dengan sampul elegan dari Benedict Anderson, Under Three Flags. bahasa Indonesinta juga ada. karena aku lagi tertarik dengan kajian kota, sedang berada di Surabaya, dan sedang ingin ke Malang. aku mengambil buku milik Purnawan Basundoro, Dua Kota Tiga Zaman; Surabaya dan Malang. buku dengan pengarang sama yang buku lainnya sedang ada di dalam tas.

ada juga buku kotarumahkita karya Marco Kusumawijaya. sejak dulu aku ingin memiliki buku ini. tapi tak pernah kesampaian. harga 100 ribu. pertama kali melihatnya di Kedai Kebun. kini ada di C02. aku juga sekilas membaca karya Joss Wibisono, Saling Silang Indonesia-Eropa. dan masih banyak buku bagus lainnya. di antaranya, aku sudah memilikinya. 

aku terpaksa menggeledah isi perpus dan membawa buku-buku ini di depan lampu baca; Kepada Bangsaku; Karya-karya bung karno. sebuah buku bagus milik Jared Diamond, Guns, Germs, and Steel versi bahasa inggris, kecil, dan sangat mudah dibawa di tas. ada juga Memoir dari Bung Hatta. Mengapa Seks Itu Asyik karangan Jared Diamond lagi. Sang Pemula Karya Pramoedya Ananta Toer. dan luar biasa banyak lainnya buku bagus yang membuatku betah.

kepalaku masih berdenyut tak karuan. walau agak sedikit mereda.

aku mengobrol sejenak dengan penjaga perpustakaan mengenai bagaimana aku memasuji kota-kota dan ingin melihat berbagai macam buku. awalnya menarik, sayang dia lagi sibuk kerja jadi tak bisa terarah padaku. akhirnya aku meminta ijin untuk memasuki ruangan yang ada di atas, yang katanya berbayar jika orang butuh ketenangan. wifi di sini juga berbayar. cukup mahal. tapi, rasa-rasanya, semua itu untuk memenuhi kebutuhan akan manajemen perpus ini. 

hari makin gelap. orang berdatangan. lumayan. tapi hanya untuk les, mengobrol, dan hanya aku sendiri yang masih ada di ruangan perpus ini. dinaungi lampu belajar. dan keramangan sekitar yang membuat aku agak hening; bahkan tempat sebagus ini pun sepi dan tak terlalu digemari. yah, apakah era perpustakaan akan berakhir?

aku membaca artikel mengenai sengketa dan kontroversi perpustakaan di lantai atas. mengenai semakin susahnya membiayai berbagai perpustakaan yang ada. keinginan untuk membuka perpustaakan sebagai ruang terbuka yang lebih umum. hingga masalah perubahan dan hukum yang tersangkut di dalamnya. apakah era perpustakaan akan berakhir dan menjadi sekedad kenangan? setidaknya, di negara ini, kematian perpustakaan sudah sangat lama terjadi. perpustakaan sudah sangat lama menjadi ruang publik mirip cafe. apakah itu masalah? ya dan tidak bagiku sendiri. tapi aku juga sangat jengkel karena sedikit menemukan pembaca buku bahkan di perpustakaan itu sendiri. dan kipas angin, berputar-putat tak berarti dan percuma, sekitar dua meter dariku berada. aku pun mematikannya.

aku sedang melihat keruntuhan buku dan dunia intektual tepat di depan mataku dan ketika aku masih muda dunia digital yang kacau dan sangat tak bertanggung jawab memasuki ruang pribadi orang-orang yang tak pernah membaca buku secara utuh dan secara dalam. apa yang akan terjadi dengan masyarakat negara ini kemudian hari? aku tak tahu. tapi aku ingin bilang, negara ini telah menjadi tanah surga yang terbakar. 

Jawa yang tak lagi menjadi surga. dan kota-kota besar di Indonesia yang menyusul menjadi neraka. dunia sekitarku bergerak ke arah yang sangat monoton. semua jenis orang hidup di dalamnya. mempertahankan hidup dan menjalaninya antara enggan dan ingin. dan, kita berakhir dalam keterlupaan yang abadi. buku-buku mengajariku banyak hal. salah satunya, terlalu sedikit dari kita yang akan terus diingat. seperti buku-buku di ruangan ini yang dilupakan dan semakin terpinggirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar