Senin, 06 Maret 2017

BANDUNG: GOETHE INSTITUT








tempat ini cukup nyaman. setelah kaki terasa ingin putus karena berjalan kaki berkilo-kilo mencari tempat tinggal atau kos, dan masih belum mendapatkannya. aku memutuskan langsung ke Goethe Institut setelah hujan mereda. 

sehari semalam aku berada di hotel dekat alun-alun. jelas suatu pemborosan yang mahal. dan hari ini pun, sabtu 25 februari, aku tak berhasil mendapatkan tempat tinggal yang tak terlalu mahal. hampir semua kos yang aku tak sengaja masuki, bertarif 900 ribu ke atas. sekitar Braga, BIP, Bandung Wetan, dan sekitarnya, sangat mahal bagiku yang memutuskan untuk bacpacking. dan akhirnya, di sinilah aku sekarang, di Goethe Institut, setelah diantar Gojek menebus belukar mobil yang menggurita di jalanan. entah kenapa, mendadak aku berpikir lagi mengenai kebosanan di suatu kota.

saat memasuki Goethe Institut, aku langsung merasa nyaman. tempat ini sangat menyenangkan untuk membaca, merenung, dan sekedar melepas lelah. bisa dibilang, suasananya mirip hotel, cafe, atau tempat-tempat yang harus layak untuk didatangi. sangat bersih. tertata. dan toiletnya pun sangat menyenangkan. sangat terawat. secara psikologis, tempat yang lumayan aku sukai. 

ada beberapa orang ketika aku tiba di sini. seorang laki-laki dan empat orang perempuan. semuanya pengunjung atau lebih tepatnya, mungkin sedang belajar di sini. mengingat mereka menjadi anggota perpustakaan atau bibliotek, dan meminjam buku serta film. tak perlu waktu lama, aku pun menjelajah.

rak-rak yang tertata seperti di IFI Jogja. aku menemukan beberapa buku menarik dari Goethe dan lainnya. terutama sebuah buku lebar dan berat berjudul, The Diary of Sigmund Freud: 1929-1939 A Record Of The Times Of The Final Decade. rasanya ingin sekali aku membawa pulang buku itu. membacanya lahap di perjalanan. atau sebagai obat penahan demam bagi tubuhku yang akhir-akhir ini sangat kurang beristirahat.

ketika sedang sedikit mengacak-acak isi perpustakaan yang sebenarnya tak seberapa. mataku melihat tiga buah buku berbahasa Jerman dari penulis Indonesia. ada Saman karya Ayu Utami. lalu milik Andrea Hirata. dan sebuah buku khas Bali dari Oka Rusmini. tapi aku lebih tertarik dengan diari Sigmund Freud yang dicetak oleh Museum Freud di London. dalam sekali waktu, aku merasa betah di tempat ini.

ruang tengah Goethe Institut Bandung cukup nyaman dan segar. walau ada sebuah bangunan yang menjulang keterlaluan tinggi, mengganggu mata dan sangat menyebalkan. meja-meja di tengah rerumputan. sebuah kantin. dan warna hijau muda dari papan-papan petunjuk nama dan tempat yang terlihat teduh. membuat aku tak ingin beranjak pergi seandainya jam buka sudah berakhir. hari sabtu, jam 6 malam, perpustakaan sudah ditutup.

walau aku tiba saat kondisi dalam keadaan sepi. setidaknya ada anak-anak muda yang les atau sedang belajar. mirip seperti di sebuah universitas. lalu hujan jatuh. aku memutuskan untuk menunggu sejenak di deretan kursi-kursi. menyolokkan charger di dekatnya, tapi tak ada aliran listrik yang menuju baterai gadgetku. baiklah, ini masalah. karena malam ini aku akan bergentayangan di sekitar Braga. dan mungkin memilih tidur di serambi masjid Alun-Alun Bandung. aku masih sedikit tidak rela jika uangku harus habis hanya untuk sebuah tempat tinggal sementara atau kos. sialnya, udara sangat begitu dingin dan hujan yang tadinya agak reda, kini mulai berjatuhan kembali. para nyamuk keparat pun mulai melancarkan serangan. pertempuran pun dimulai. tanganku mulai melayang ke berbagai sudut kaki. plak plak plak. para nyamuk selalu berhasil lolos dan meninggalkan rasa gatal yang harus aku garuk. dalam hati, aku ingin mengutuk kota ini. kota sedingin Bandung, dihinggapi oleh nyamuk-nyamuk? itu berarti, Bandung sudah tak lagi sedingin dulu.

kepalaku mulai terasa berdenyut. aku butuh istirahat, sekedar tiduran, atau semacamnya. tapi aku tak memiliki tempat untuk melakukannya. tertahan di Goethe Institut dan ingin menggampar wajah para nyamuk seandainya mereka punya. aku memutuskan melangkahkan kakiku yang sudah sangat kelelahan dan pegal-pegal, diiringi hujan yang berhenti dan jatuh lagi berulang-ulang, menuju Bandung Indah Plaza. dan di sana, menimbang-nimbang harus ke mana aku setelah ini. 

banyak anak Tionghoa di tempat ini. dan saat aku keluar dari Goethe Institut. macet menggurita dan membuat aku ingin melemparkan tujuh ratus tiga puluh lima ribu bom dari langit dan mengeyahkan mobil-mobil itu dari jalanan. Bandung sangat menyeramkan hari ini. aku pun melangkah di jalan RE Martadinata bersama hujan yang berjatuhan membasahiku.

BANDUNG: SEBUAH KEPUTUSAN

tulisan menyusul

JOGJA: MENINGGALKAN JOGJA










kereta berguncang. bergerak. dari lamban lalu semakin cepat. perlahan-lahan Jogja semakin menjauh. me jauh. dan terus menjauh. aku kembali meninggalkan Jogja. seperti Max ketika meninggalkan Kairo. kota itu, entah mengapa, harus aku jauhi lagi setelah aku terhisap dalam kebosanan berulang-ulang. 

mungkin, aku harus terus bergerak. berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. lari dari kebosanan, kejiwaan yang buruk, kepala yang tak berhenti berpikir, tubuh yang sakit-sakitan, dan masa depan yang, entah kenapa, masih saja selalu buram bagiku 

'tak ada cara yang lebih baik selain mengemas ransel lalu berkala,' ujar Yossi Ghinsberg dalam Lost In The Jungle. aku mengemas ransel. memasukkan dua buku ke dalamnya. berbagai jenis pakaian dan celana. ada juga sandal. catatan harian. dan berbagai macam lainnya yang tak perlu aku jelaskan. seolah-olah aku mengulangi perjalanan-perjalanan yang lalu. 

aku berada di dalam kereta Kahuripan. kereta berangkat pukul tujuh. kedingingan. dan memutuskan membaca Lost In The Jungle. hanya membayar 84 ribu aku sudah bisa kembali melanjutkan pengembaraanku: Mengembara di Tanah Asing.

aku duduk di gerbong 5 kursi nomor 16 E bersama tiga orang lainnya. dua orang, laki-laki perempuan muda, yang ingin ikut pelatihan HMI. mereka bergantian membaca buku dan coba untuk tertidur. dan satu bapak-bapak mengenakan topi yang lebih dulu jatuh terlelap. 

karena kursi sebelah kosong. aku duduk di kursi sebelah, nomor 15. dua orang berusia senja jatuh tertidur. sang nenek terlelap seperti di dalam kamar rumah. berbantalkan paha milik si kakek. dan sang kakek beberapa kali terbangun mencari posisi kaki atau ketika sudah merasa kesemutan. kereta terus berguncang dan sesekali berhenti. di dalam sebuah perjalanan, aku kembali sedikit hidup. apakah mungkin aku harus terus bergerak dan berpindah-pindah?

'kau menjelajahi tempat-tempat memesona -tempat-tempat yang sangat diimpikam turis- tapi kau bukan turis. kau adalah mochilero, pengelana -itu perbedaan besar. hari ini kau mendatangi suatu tempat, besok sudah di tempat lain. kau boleh menetap satu hari atau satu bulan, membuat rencana sendiri. dan setiap hari adalah kejutan," tulis Yossi Ghinsberg lagi. sayangnya, aku pengembara atau pengelana, yang sedang tak mencari keindahan, tempat eksotis, dan memesona. aku malah mendatangi tempat yang jarang didatangi orang-orang dan sedikit diberi perhatian lebih, yaitu kota-kota. sebuah tempat yang sebisa mungkin ingin dijauhi oleh para pengembara, backpacker, penjelajah, bahkan mereka yang menyebut dirinya pencinta alam. entah sudah beberapa kali aku berkata seperti ini ketika kembali memulai sebuah perjalanan. yang jelas, aku sedang ingin melihat Jawa dan mungkin seluruh pulau Indonesia. menyaksikan inti dari setiap kota yang aku masuki dan sedikit merenung tentang masa yang akang datang. 

aku hidup dalam masa yang cukup beruntung. malam ini aku tak mengalami saat-saat yang pernah dirasakan Elien Utrecht saat di tahun 60an melakukan liburan atau perjalanannya di masa yang penuh gejolak. 'perjalanan dengan kereta api tahun-tahun itu sangat tidak nyaman, dan ini diungkapkan secara lunak karena ia kendaraan yang murah, maka kereta api itu biasanya penuh sesak. para pelajo, pedagang pasar dengan barang dagangannya, anak-anak sekolah (jadi pelajo juga), orang-orang pergi berlibur, dan kadang-kadang juga pengemis. para pengemis yang seringkali puntung anggota badannya itu pada jarak pendek tanpa bayar ikut naik. mereka terhuyung-huyung atau merangkak masuk gerbong di sebuah stasiun kecil, berjalan sambil mengemis ke depan atau ke belakang di tengah penumpang yang penuh sesak, lalu merangkak atau terhuyung-huyung keluar dari kereta api lagi di stasiun berikutnya. bukan perkecualian kalau kita berjam-jam lamanya terpaku duduk di tengah lautan manusia. penumpang kadang-kadang di stasiun kecil memanjat keluar lewat jendela karena penuh sesaknya orang, jalan lewat pintu terhalang. di WC pun orang duduk dengan barang bawaanya, dan itu untuk sesama penumpang cukup menyesakkan,' gambaran yang kini sudah tak ada lagi dari peristiwa masa lalu Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman. 

saat sedang mengembara atau ingin lebih dekat dengan tanah negara ini, mendadak berbagai macam memoar perjalanan, catatan harian, atau kisah mengalami berbagai macam kota sangatlah begitu penting. sedikit orang yang menganggap perjalanan bermakna khusus untuk generasi berikutnya. entah sebagai pembanding atau kajian yang lebih dalam. dan aku rasa, aku ingin menulis sebuah perjalanan untuk merekam sebuah kota yang terus berubah dan mudah terhapus gambarannya. 

udara semakin dingin. kereta berguncang pelan, menandakan masih berada di jalur yang tepat. mungkin akan sangat menyenangkan, sesekali ada tabrakan dan semacamnya. biar ada sesuatu yang cukup menegangkan untuk aku catat.
pendingin udara yang ada sangat keterlaluan kejamnya. hidungku sudah mulai mengeluh. begitu juga kaki dan punggungku. 23 derajat celcius dalam udara malam yang sangat tak memiliki kepekaan. baiklah, ini kelas ekonomi. bolehkah aku mulai mengeluh dari sekarang?

memasuki pukul dua belas malam, punggungku sudah terasa kesakitan. begitu juga sekitar perutku. tanda-tanda ketidaknyamanan sudah mulai bermunculan. aku kesusahan untuk tidur. pada akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk membaca, bermain game, dan mendengarkan beberapa lagu dari Aurora, Efek Rumah Kaca, dan beberapa musik instrumental. kereta terus melaju. dan yah, orang-orang sudah bertumbangan ke alam mimpi mereka. tidur dengan gaya suka-suka. ada yang memakai sarung. kain batik. selonjoran. atau beberapa terlihat tak sengaja tidur dengan kepala menunduk sampai ke sekitar perut. kereta bergetar, berguncang, dan terus melaju. laju yang terkesan pelan. udara masih begitu dingin. kaca hanya berisi warna gelap, sesekali bintik-bintik putih bermunculan. 

aku melahap cemilanku, sesekali. ampyang rasa jahe yang tanpa ampun aku habisi dan bakpia yang ternyata tak cukup tepat dijadikan teman perjalanan malam ini. sesekali juga, mereka terlempar keluar dari mulutku karena tersedak. tak mengapa. aman. tak ada yang melihatnya. kecuali Tuhan yang selalu mengintip segala sesuatunya. 

perjalanan adalah menghibur diri sendiri, untuk sesaat, dari kehidupan sehari-hari yang menjemukan. membosankan. bahkan brengsek. perjalanan tak membuat dunia berubah menjadi lebih baik kecuali sedikit di hadapan sejarah yang terbentang di belakang ingatan umat manusia. dan berjalan, hanyalah sekedar mengurangi rasa sakit, penderitaan, ketidakmenentuan, keterasingan, kehampaan, hingga mencoba untuk menolak dunia keseharian. perjalanan adalah wujud dari pemberontakan terhadap keteraturan. kegilaan akan keteraturan. 

lalu kita mengemas ransel. membuat beberapa rencana. memilih beberapa tempat yang dikira cocok. lalu mulai melangkahkan kaki, atau berkendara, berharap ada suatu tempat atau kesan yang membuat kita sedikit menikmati apa itu yang dinamakan kebahagiaan atau sedikit perasaan hidup. paling sedikit, kita menemukan kesenangan atau pengalaman tak terlupakan di dalamnya. 'setiap pengembara mengerti perasaan ini: mendambakan agar setiap tempat yang hendak ditinggalkannya menawarkan semangat untuk mendatangi tujuan baru, sekalu yakin bahwa tempat berikut pasti lebih bagus, lebih menyenangkan,' ujar Yossi Ghinsberg lagi. namun, adakalanya, bahkan sering, perjalanan selalu berakhir mengecewakan. dan akhirnya kita bertanya-tanya, apakah untuk sekedar ini kehidupan itu? akhir perjalanan seringkali berujung keputusasaan. bahkan terlalu sering.

'tercerabut dari lingkungan yang biasa, saya pun merasa telah kehilangan jalan saya di dalam sebuah dunia yang tak berarti apa-apa bagi saya,' ucap Karen Armstrong, yang juga sama dengan nyaris keadaan seluruh generasiku hari ini. dan aku, mungkin, salah satu yang jelas, mewakili keadaan jiwa zamanku. itulah yang membawaku berpindah dari satu kota ke satu kota lainnya.

kereta terus melaju. tujuan hanya tinggal satu setengah jam lagi. aku memutuskan membaca Lost In The Jungle dan merasa sangat menikmatinya. kalau boleh dibilang, itu tak ubahnya dengan novel. memoar, catatan atau kisah perjalan, apa bedanya dengan novel? beberapa waktu yang lalu, sempat berkali-kali aku berpikir untuk membuat novel jenis semacam itu. yang jelas, aku akan membuat sebuah atau beberapa jenis novel. dari yang beberapa puluh halaman hingga ratusan. tapi untuk saat ini, novel sangat jauh dari apa yang aku inginkan. 

kereta berhenti sesekali. lalu melaju lagi. aku memandang menembus kaca. terlihat bintik-bintik kecil dari bawah ke atas. aku sudah berada di ketinggian yang cukup. lampu-lampu menandakan rumah berada di dataran tinggi. dan jalur kereta api tepat sedikit di atasnya. di manakah aku sekarang? 

aku membuka Google Map. dan mencari letak posisiku berada. ternyata, kereta berada di antara Tasikmalaya dan Garut. dan aku tak tahu itu berada di mana. melakukan perjalanan saat malam dengan kereta kadang terasa menjemukan. tak ada pemandangan dunia luar yang nyaris bisa terlihat. yah, maka jika sudah seperti itu, mengamati para manusialah akhirnya.

sambil memutar beragam musik instrumental dari Soundcloud, perasaanku menjadi semakin hanyut dalam kesunyian. dari Chad Lawson, Ash, Fabrizio Paterlini, hingga beragam musik baru yang membuatku terasa bagai tersayat-sayat di dalam kereta. untuk apa perjalanan umat manusia? aku pun memutuskan ke toilet. mengeluarkan isi dan mengamati sekitar. dunia manusia yang begitu lembut dan aneh. dan terkadang sangat berdarah dan rusak. 

ingin sekali aku memiliki buku milik Pisani dan Vltcek. membacanya. dan membayangkan perjalanannya. 

waktu terus bergerak. semua orang terasa berhenti bicara. diam. dalam diamlah dunia terkadang tak terlalu begitu dingin. diam menuju semua yang dipejamkan. dalam tidurnya, manusia terasa menjadi jinak dan tak terlihat buas. aku memutar berulang-ulang Historiette#5 dari Paterlini. rasanya ingin memejamkan mata. melupakan segala hal yang ada di kepala dan hatiku.

tak lama kemudian, kereta sudah berada di kawasan pemukiman. waktu menunjukkan 02:59. udara begitu sangat dingin. bahkan keterlaluan dingin dan semakin dingin rasanya. 

aku mencoba untuk memejamkan mata. gagal. dan kereta pun akhirnya sampai juga di stasiun. aku pun turun. membeli popmie. mengisi baterai di tempat biasanya yang kini sudah cukup banyak berubah. memandangi seekor kucing putih berbelang di sekitar leher dan kepala. mencari kos yang mungkin cocok. dan menunggu pagi memaksa matahari tampak dari sisi timur. 

perjalanan, hanyalah rasa sakit dan kosong yang coba kita pindahkan.

JOGJA: BORJO

tulisan menyusul...

JOGJA: MIE AYAM

tulisan menyusul...

JOGJA: WARUNG IJO










Warung Ijo, seperti itulah namanya. letaknya di dekat kampus UKDW. selalu ramai dan sering penuh sesak. warung yang berdiri sejak 1945, katanya, dan terus bertahan melewati zaman, mengingatkanku dengan berbagai macam warung tradisional di penjuru Jawa Tengah. yang hari ini semakin tergantikan dengan warung padang, tegal, angkringan, atau semacam restoran.

rasa-rasanya sudah empat atau lima kali aku mencoba menikmatinya. terlebih melihat Jogja adalah kota yang miskin kuliner, bumbu, dan rempah, jelas-jelas sangat senang menemukan gorengan yang cukup renyah, soto dengan harga murah, dan suasana yang mirip di masa kecilku. di mana para orang tua dari berbagai macam usia dan pangkat, makan dengan lahap tanpa menghiraukan tempat yang seadanya. suasanya sangat kekeluargaan. hangat. dan tak perlu repot dengan menjaga citra diri. suasana yang dikembalikan oleh Bentara Budaya. suasana yang hampir hilang digantikan oleh angkringan yang semakin menjamur.

angkringan, sebenarnya semakin dikuasai oleh anak-anak muda. nasi yang sedikit dan tak bervariasi, membuat orang-orang tua seperti di warung Ijo jarang terlihat. terlebih tempat yang sangat terbatas dan makanan yang sangat buruk dan hambar. walaupun begitu, ada beberapa titik di mana angkringan dijadikan tujuan makan para orang berusia tua, seperti angkringan di dekat stadiun Kridosono dan yang lainnya. 

bagiku sendiri, angkringan Jogja berkualitas sangat rendah. berbagai macam gorengannya sangat keras dan miskin bumbu. seolah dikasih pengawet dan semacamnya. dan nasi bungkusannya hanya sekedar tumis tempe dan sambal seadanya. dalam hal kuliner saja, Jogja sangat menyebalkan. Gudeg pun terasa hambar dan hanya terasa manis kecap. berbeda dengan Semarang sekitarnya yang angkringan, nasi tegal, warung biasa dan lainnya sangat kuat akan bumbu, rasa pedas, dan kerenyahannya. Jogja dalam hal kuliner, termasuk sangat miskin dan menandakan kurangnya kreativitas. bahkan mangutnya pun nyaris tak terasa dan hanya sekedar ikan lele yang tak begitu menggairahkan dibandingkan mangut pesisir yang pedas dan terbuat dari ikan pari.

warung tegal pun susah dicari. begitu juga warung semacam Warung Ijo. angkringan lebih banyak menjamur beserta penyetan yang menggurita. jika hidup di Jogja sangatlah pas-pasan, pilihan makanan yang ada sangat kekurangan gizi dan meresahkan. aku harus mencari tempat-tempat khusus untuk mencari warung yang menjual berbagai macam jenis sayuran dan cukup banyak pilihan menu. 

setiap hari makan nasi angkringan, mie ayam atau bakso, nasi goreng, bakmie, dan masakan Padang, jelas-jelas membosankan. masakan Jepang, Korea, Eropa, dan lainnya, bukanlah jenis masakan yang bisa dinikmati setiap hari atau menu yang pas. dan bagiku sendiri sangat tak cocok. lagian, aku juga tak banyak uang akhir-akhir ini. yah, setidaknya, Warung Ijo-lah, tempat yang seharusnya semakin banyak dikembangkan, dilindungi, dan dilestarikan bukanya angkringan yang miskin bumbu dan dimasak dengan kondisi sangat buruk. 

saat melihat Warung Ijo, dengan para orang tua yang usianya ada di atas 80 an, hingga kadang mendekati 100 tahun. benar-benar terasa menenangkan. terkadang aku melihat beberapa anak muda seusiaku. dari perempuan hingga laki-laki. tapi jumlahnya tak seberapa. yah, bisa dibilang Warung Ijo adalah tempat para orang tua berkumpul dan juga mungkin bernostalgia. 

soto seharga lima ribu rupiah dan gorengan renyah yang dijual lima ratusan, sudah cukup membuat perut kenyang. air putih gratis tentunya. dibandingkan makan di angkringan sebenarnya lebih memuaskan di Warung Ijo.
suasananya begitu hangat dan bersahabat.

Jogja semakin tenggelam oleh beragam cafe dan burjo. yang suasananya terkesan mirip di berbagai macam galeri seni. ada semacam kekakuan dan keasingan di dalamnya. itulah kenapa, aku tak terlalu betah di cafe dan sejenisnya. ada jarak yang terlalu lebar di tempat-tempat semacam itu. yang mencerminkan kondisi kejiwaan kita sendiri. 

dan jika berbicara mengenai Jogja, tumbuh pesatnya cafe dan semakin menghilangnya semacam Warung Ijo. menandakan pergeseran norma hidup yang sangat besar. pada akhirnya, kita semakin konsumtif, individual, sibuk mengurusi citra diri, kejiwaan rentan, dan anak muda perkotaan yang tak lagi akrab dengan satu dan lainnya. 

tempat makan menandakan kejiwaan dan sikap sosial diri kita. dan Jogja berkembang semakin terpecah dan kehilangan arah dirinya.

JOGJA: PKKH UGM








suasana sangat ramai. segala jenis usia nyaris ada di sini. dari anak kecil hingga yang sudah tua. Sastra Lawas, seri berkumpulnya orang-orang lama di sastra UGM. di tempat ini pun, tak semua orang yang datang dari UGM. setelah berbagai macam acara musik yang entah, aku sudah merasa bosan rasanya. tempat ini adalah yang salah satu sering aku datangi. tapi malam ini, kepalaku sudah terasa linglung. lebih baik aku membaca Ecce Homo.

aku bosan. tak ada yang menarik. aku membaca Nietzsche, menggarisbawahi apa yang penting, dan merasa murung. aku sangat bosan dengan dunia. musik yang hingar bingar. suara yang memekakkan telinga. udara yang dipenuhi asap rokok. waktu yang terasa mencekikku perlahan-lahan. aku ingin melarikan dari sini. omong kosong dan ketidakjelasan ini. 

sial, kenapa aku begitu pesimis dan murung? 

ada Frau. tapi sayang, lagu yang ia bawakan bersama-sama tidaklah menarik minatku. aku lebih memilih menyumpal telingaku dengan Aurora. meneruskan membaca, dan mengamati kenyataan bahwa aku tak lagi mudah terhibur. 

frau tiba-tiba sendirian. dia akan membawakan tiga lagu. dan aku berpikir, berapa banyak musisi yang pada akhirnya diingat? musik adalah hal yang paling lemah diingat dan tak berusia panjang. menjadi musisi berarti sedang menggali kubur sendiri. sedikit musisi atau musikus yang sanggup bertahan melewati milenia. 

suara Frau cukup bagus. begitu juga alunan musiknya yang khas. tapi dia hanya sampai sejauh itu. tak lebih. hanya untuk telinga-telinga yang paling rendah. seperti sebagian dari telingaku. yang terakhir adalah Sepasang Kekasih, lagu yang cukup mudah disukai generasi muda sepertiku. tapi sekali lagi, hanya sampai sejauh itu. 

rasa-rasanya, aku harus pergi sekarang. sudah tak ada lagi yang menarik. yah, ingin cepat-cepat lari meninggalkan kota ini. malam ini 18 februari 2017. aku sudah sangat bosan. benar-benar bosan.