Senin, 06 Maret 2017

BANDUNG: DISPUSIPDA







Letak yang sangat jauh. menunggu yang terlalu lama. pengalaman yang tak menyenangkan sejak pertamakali. menit demi berlalu. gojek tak kunjung datang. untuk sekedar mencapai perpustakaan, aku menunggu lebih dari 20 menit. pengendara yang menolak dan membatalkan pesananku berulang-ulang hingga membuatku cukup sebal. akhirnya ada seorang Tua, pengendara gojek yang mau mengantarku. aku berhutang budi padanya! 

jarak antara stasiun Kiaracondong ke Dispusipda kira-kira 3,6 km. aku tak mungkin berjalan kaki ke arah situ. tempat yang tak aku kenal dengan kondisi jalan yang tak begitu menyenangkan. dan gerimis juga sudah berjatuhan. apalah daya seorang pengembara yang sendirian seperti aku ini?

aku pun masih harus menunggu gojek 10 menit lagi. setelah itu pun, gojek yang sudah aku naiki, terseok-seok melewati jalanan Bandung yang sebagiannya sempit dan padat. melewati jalan PSM yang mirip dengan Jakarta tapi masih enak dipandang. jalan menyempit dan sedikit susah kalau sudah dua mobil berpapasan. dan oh ya, pak Gojek pun nyaris bingung mengenai tempat yang ingin aku tuju padahal sudah sering ke situ. lalu, sebuah bangun besar mencuat dari kejauhan dengan warna kaca birunya yang menyolok. itu dia! pikirku. aku pun berkata nyaris semacam itu ke gojek yang sedang mengantar aku. 

tak perlu waktu lama, sampailah aku di perpustakan besar yang mirip gedung perkantoran atau apartemen di kota-kota besar. ada seorang remaja sekolah menengah atas cantik yang berdiri terpaku di depan gerbang. aku menanyainya tapi dia tak menjawab. sial pikirku. aku pun berjalan terseok-seok ke dalam, bertanya ke penjaga untuk sekedar meyakinkan. lalu menitipkan tas di loker. membawa barang-barang yang aku anggap penting semacam gadget, buku, catatan harian, dan charger ke dalam totebag. setelah agak ribet membongkar tas, meletakkannya ke dalam loker, aku berjalan mencari toilet. pertama kali masuk, suasananya sudah mirip lobi hotel. bangku-bangku yang dinamis dan warna-warni. lift dan eskalator yang semakin menambah kesan semacam itu. dan ketika aku berjalan menuju toilet ada semacam museum atau galeri tokoh-tokoh yang berjasa terhadap Kota Bandung, Jawa Barat, orang Sunda, dan Indonesia. sangat bagus pikirku. kawasan ini bergerak lebih jauh dari kota-kota lainnya dengan memberi penghargaan semacam itu. penghargaan yang jarang sekali diterima oleh seniman, tokoh publik, olahragawan, dan lainnya yang berjasa dan menginspirasi. ah, toiletnya pun lebih bagus dari pada Grahatama Pustaka milik Jogjakarta yang mirip seperti terserang ledakan terorisme. setelah dari toilet aku pun buru-buru ke atas. menaiki lift dan tersesat di lantai 3 yang tak aku inginkan yang berisi ruang majalah, koran, dan remaja. di lantai ini pun aku cukup jengkel karena diingatkan untuk menitipkan totebagku yang mereka, petugas, samakan dengan tas biasa. 

aku mendesis. tambah geram saat mencoba berbagai macam colokan yang ternyata tak dialiri listrik. oh perpustakaan brengsek! apagunanya kau bertubuh besar dan seolah modern jika listrik untuk proses mengisi baterai hampir susah ditemukan! di dalam ruangan buku pun, ketika aku berada di lantai dua, colokan listrik yang hidup susah ditemukan. ini perpustakaan macam apa sih? dan ketika berbincang sedikit dengan seorang pengunjung, katanya, wifi pun tak jalan jika berada di dalam ruangan buku. oh hebat! 

aku menanyai beberapa pengunjung, menanyakan soal perpus ini. seorang laki-laki muda berjaket hitam mengatakan kalau dulu sangat ramai dan colokan semua teraliri listrik. dan kini, yah, seperti inilah bentuknya. bangunan di lantai bawah yang sudah mulai kusam mirip kamar kos yang dindingnya digunakan untuk bersandar. dan pengunjung yang tak terlalu ramai dengan bangunan sebesar ini. saat aku mencoba melihat buku-buku, juga sangat tak terlalu menarik. isinya nyaris sama dengan perpus yang ada di Jogja dan lainnya. terlebih, keeleganan sebuah perpus jadi mustahil dengan cetakan buku, yang kebanyakan tak terlalu enak untuk dipandang. mungkin itulah sebabnya aku lebih nyaman berada di perpustakaan semacam IFI, Goethe Institut, atau yang dulu aku sukai, Freedom Institut. 

buku cetakan Indonesia, seringkali buruk dan mahal. serta sangat tak enak dipandang dan menyebalkan jika ditaruh ke dalam rak. dan tentunya sangat mahal!

aku menemukan Kata-Kata milik Jean Paul Satre. dan sebuah buku yang ingin aku miliki, Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika: Petualangan Hidup Richard P. Feynman. buku keluaran Mizan ini, mungkin adalah penemuan lainnya yang masuk daftar yang kelak akan aku cari. kalau aku masih hidup tentunya. ruangan sedikit ramai dan kebanyakan diisi oleh para perempuan. mereka mengobrol. mengerjakan tugas. berselfir ria. dan jarang yang serius membaca buku. kegunaan perpustakaan tak ubahnya sekedar perluasan dari ruang kelas, cafe, dan rumah. 

nyaris di mana pun, ketika aku mengisi daftar tamu, para perempuanlah yang lebih sering memenuhi daftar tamu tersebut. tanda-tanda dekadensi laki-laki Indonesia Modern pun terlihat di sini dengan cukup mudah. oh, apakah para laki-laki di negara ini merasa tersudut jika para perempuan semakin cerdas dan mengambil banyak tepat? jawabannya ya dan tidak. dan menyoal buku, laki-laki harusnya mulai malu dengan perempuan. di sebuah perjalanan atau ruang publik. aku lebih sering melihat perempuan memegang buku dari pada laki-laki yang memegang buku. era yang tragis bagi para laki-laki. 

di perpustakaan ini, perempuanlah yang menjadi pengunjung terbanyak. dan malam ini, aku lebih banyak melihat sosok perempuan dari pada laki-laki. dan sedikit buku menarik yang bisa menghibur hatiku. 

aku menitipkan jaket di penjaga ruang dewasa 1. lalu setelah kesal dan putus asa mengenai colokan listrik, pada akhirnya aku meminta ijin untuk mengisi baterai di tempat mereka. dan waktuku habis hanya sekedar untuk gadget yang perlahan-lahan mulai menggerogotiku. baterai yang habis, lama kelamaan menjadi beban mental para petualang dan pengembara. terlebih mereka yang menulis semacam aku. sejujurnya, aku sudah sangat resah akan hal itu. keberadaan gadget dengan baterainya, semakin membatasi sebuah pengembaraan. memangkas waktu eksplorasi. dan sialnya, ketergantungan yang akut. 

karena buku-buku tak menarik, dan yang menarik sudah aku miliki, aku hanya membawa dua buku, Kata-Kata dan Cerdas Jenaka ke atas meja. menghabiskan waktu berlama-lama untuk menulis perjalananku dan membuka-buka buku yang isinya cukup menyita waktuku. waktu berjalan, orang-orang berganti. lagi-lagi perempuan dan perempuan. sangat mirip melihat kaumku sendiri semakin tertinggal di dalam wacana,ilmu pengetahuan, dan dunia buku-buku. dan ketika aku berganti ruangan, ke ruangan dewasa 2, suasanya ruangnya terlihat lebih elegan dan luas. benar-benar seolah berada di sebuah hotel. lagi-lagi, yang mengisi ruangan ini kebanyakan perempuan. ya perempuan. dan suasana sudah cukup sepi. hanya ada beberapa puluh orang. dan ah, akhirnya aku mendapatkan tempat listrik mengalir! 

di tempat ini pun, colokan listrik tak banyak. tempat yang memang agak konyol bagi pembaca buku modern. buku-bukunya pun tak menggugah selera. setelah melihat-lihat, kebanyakan bukan buku intelektual dan digunakan untuk berpikir bebas. tapi lebih banyak pada buku teks atau modul. filsafat tak seberapa. psikologi sedikit. sastra juga begitu. apalagi seni yang segelintir. intinya tak memuaskan. yah, sebelum jam 8, aku pun sudah harus keluar karena perpustakaan akan tutup. dan, di sinilah titik paling menjengkelkannya.

di luar, hujan turun cukup deras. semua orang sudah mulai pergi dan tinggal aku sendiri dan para penjaga. Go-Car tak kunjung datang. bahkan seringkali membatalkan pesananku. sial, sampai kapan aku harus tertahan di sini? jam 9, Go-Car tiba. dan aku sangat berterimakasih kepada dia yang mau menjemputku! 

dalam artian banyak, bagi seorang pengembara, atau yang tak memiliki kendaraan, datang dan pulang sama-sama menjengkelkannya. dan aku sudah cukup jengkel dengan DISPUSIPDA. hingga akhirnya aku sampai di Kiaracondong. membeli nasi padang. dan tidur hingga esok hari di Stasiun yang akan membawaku ke Surabaya.

BANDUNG: TAMAN BALAI KOTA







Di sekitar taman ini, terlihat ada yang baru. Dari depan terlihat tulisan Bandung Planning Gallery. Dan tulisan agak besar, SEJARAH BANDUNG DI ERA WIRANATA KUSUMAH. Beserta semacam diorama dan foto-foto kaca seluruh walikota Bandung semenjak era kolonial. Taman Sejarah Bandung, yang diresmikan sejak 4 Februari yang lalu, yang disambut antusias warga, di malam hari tampak sekarat.

Aku membaca Merebut Ruang Kota dari Purnawan Basundoro. Setidaknya, sedikit memberi informasi mengenai sejarah singkat kota Jogja. Mengenai rakyat miskin yang jadi fokus pembahasan utama, cukup menarik. Tapi aku tak akan menulis hal yang terlalu akademis semacam itu. Biarlah dia dan orang lain yang menuliskannya.

Tadi malam, aku membaca hingga larut malam sebelum melangkah ke Telkom untuk merebahkan badan. Sekitar jam 10-12, taman mulai sepi. Dua orang Tionghoa cantik sedang bermain-main dengan skateboard ditemani mamanya untuk sekedar melihat. Beberapa pasangan muda-mudi terlihat memadu kasih. Dan sekumpulan laki-laki bercanda tak jauh dari tempatku berada. Sekumpulan yang lain, muda-mudi, kebanyakan berjilbab, sibuk dengan urusan mereka lalu terlihat berfoto bersama. Aku sedikit merenung. Betapa bangganya warga Bandung dan Ridwan Kamil akan sejarah Bandung itu sendiri. Yang bangunan, wilayah, dan beberapa hal lainnya, pihak kolonial lah yang telah membangun dan mengawalinya. Bandung tak akan menjadi besar tanpa Daendels dan Belanda. Wiranatakusumah hanya sekedar menjalankan perintah Daendels. Dan oh ya, kedudukannya tidak di taman yang kini menjadi Taman Sejarah atau lingkungan Balai Kota!

Tempat ini, khusus untuk orang-orang Belanda dan segala gedung pemerintahan mereka. Tapi setidaknya, pemerintah kota Bandung mulai sadar diri akan sejarah kelahiran kotanya. Walau dengan agak konyol. 

Aku melangkah pergi setelah merasa cukup membaca. Melihat-lihat sekitar yang berisi sampah-sampah dan sampah-sampah. Tempat baru pun langsung retak dan tampak menjijikkan. Sampah, adalah kekonyolan warga Bandung yang terdidik. Di banyak tempat sudah disediakan tong sampah. Untuk apa kegunaan tong sampah itu? Sampah dan kemacetan, adalah hal yang akan jadi beban besar kota ini beserta ledakan penduduknya.

Pagi ini aku melangkahkan kakiku menuju IFI. Melewati Taman Balai Kota atau Badak yang terlihat damai dan sejuk. Bisa dibilang salah satu taman indah yang dibanggakan Bandung tapi hasil dari arsitek Belanda masa lalu. Setidaknya Bandung bisa menjaganya dan membuatnya lebih nyaman. Tempat ini, jadi tempat publik yang paling sukses banyak bagiku di era Bandung modern abad 21. Aliran air dari sungai kecil yang jernih dan kebersihan karena tukang sapu yang digaji. Tak apalah. Kesadaran publik soal itu masih cukup lama memang. Masalahnya, saat melewati Taman Sejarah, hari Senin adalah hari penutupan taman untuk proses bersih-bersih. Kebersihan taman, jalan, dan semacamnya bukan dari kesadaran langsung warga tapi dari berbagai petugas kebersihan yang ditugaskan memang untuk itu. Sayangnya, aku tak pernah menemukan papan yang berisi denda serius mengenai membuang sampah sembarangan. Hukuman denda saat terlihat membuang sampah di tempat. Harus ada efek jera semacam itu. Kalau tidak, Ridwan Kamil setelah lengser akan membuat Bandung kembali menjadi kota yang lebih sialan lagi. Dan kolam anak-anak yang sering digunakan oleh banyak anak kecil, akan lebih buruk dari sekarang. Musuh tersebar akan selalu terletak pada masyarakat yang tidak sadar. Berganti walikota dan gubernur, akan percuma jika kesadaran tidak dibina sejak kecil. Setidaknya, Bandung dengan Balai Kotanya tak terlalu buruk dan masih cukup menyenangkan, teduh, segar, dan pohon-pohon yang masih menjulang tinggi. 

Aku melangkahkan kakiku menuju jalan Purnawarman. Dan meninggalkan tempat yang, bagiku sendiri, akan runtuh, tapi entah kapan.

BANDUNG: INSTITUT FRANCAIS D'INDONESIA









Sial, ternyata tempat ini terletak di belakang Gramedia jalan Merdeka yang sering aku datangi. Kenapa tak dari dulu aku sadar? Bodohnya aku! Dan lebih sialnya lagi, aku berjalan meniti pinggiran jalan Purnawarman yang retak-retak, diambil oleh sekian banyak mobil di pinggir jalannya, yang terletak berada lebih ke atas. Setelah tanya sana dan sini, aku pun baru tahu, jalan di belakang Gramedia ternyata juga jalan Purnawarman. Dan IFI ada di situ. Sungguh laki-laki bodoh!

Aku langsung bergegas dan kecewa setelah tahu bahwa hari senin, semenjak Januari Mediatek tutup di hari itu. Ada laki-laki ceriwis yang mencecar berbagai macam pertanyaan ke seorang perempuan muda yang dengan tabah menanganinya. Laki-laki yang mengingatkan akan diriku, yang ingin bertanya sampai detail mengenai les di lembaga ini. 

Saat tahu perpustakaan tutup, agak lemas rasanya. Padahal nanti pagi, aku akan pergi meninggalkan kota ini. Akhirnya aku memutuskan meminta ijin untuk memasuki perpustakaan sebentar. Perempuan muda cantik yang sedang diserang pertanyaan itu pun mengijinkan. Ah, tidak, aku pun bergembira walau hanya sebentar. Dengan mata berbinar, aku tinggalkan tasku dilobi, sekedar membawa gadget dan mulai menyisir buku-buku. 

Pertamakali melihat ruangannya aku langsung jatuh hati. Lebih besar dan luas dari IFI Jogja. Lagian, aku nyaris sendirian. Waktunya untuk bersenang-senang!
Aku menemukan buku berjudul Ke Livre de L'echelle de Mahomet. Buku yang sepertinya menarik. Ada rak kecil khusus menyoal Islam. Aku rasa, Perancis mencoba ingin lebih mengenal agama ini terlebih ketika pengeboman dan terorisme kian gencar bahkan mengguncang Perancis itu sendiri. Ada banyak buku Victor Hugo. Lalu ada Dumas. Aku menemukan Candide karya Voltaire. Le Crime de Lord Arthur Savile milik Oscar Wilde. Buku-buku Jean Paul Satre. Buku-buku Albert Camus semacam Caligula. Dan aku juga menemukan Theatre, Revitalisasi, Nouvelles. Sebelum aku pulang, aku tak sengaja melihat Ke mythe de Sisyphe. Dan oh karya Balzac! Voyage de Paris A Java. Dan sekian banyak buku lainnya yang tak aku kenal siapa pengarangnya. Semuanya dalam bahasa Perancis. 

Apakah aku paham dengan bahasa Perancis? Tidak. Tapi hanya sekedar melihat dan merasakan suasana perpustakaan. Melihat buku-buku bagus ada di sana, di rak-rak yang menjorok, benar-benar nikmat rasanya. Apalagi menemukan buku langka yang tak ada di mana pun dan ada di sini atau di tempat lain yang sedikit orang yang tahu. Itu benar-benar menggembirakan. 

Aku berjalan ke sana kemari. Sendirian. Menikmati kekuasaan hening perpustakaan mungil tapi sangat teduh dan nyaman. Arsitektur model lama dan agak bergaya Eropa klasik memang cukup menenangkan dari pada perustakaan modern akhir-akhir ini yang lebih mirip kafe atau lobi hotel. Cahaya matahari yang jatuh. Hembusan udara dari mulut dan hidungku sendiri. Jejak langkah dari kaki-kakiku yang menggema. Dan bau buku-buku serta bangunan yang menenangkan dan khas. Perasaan yang tak aku bisa miliki ketika menikmati perpustakaan milik pemerintah yang serba kaku, kehilangan jiwa, walau coba ingin terkesan elegan. 

Saat kau sangat menyukai atau mencintai buku, kau akan merasakan bagaimana yang aku rasakan. Perasaan berdebar dan meluap saat berjumpa dengan buku-buku. Terlebih jika buku itu sangat menarik dan kau inginkan. 

Mungkin aku konyol. Mungkin aku terlalu mabuk dengan buku sehingga memutuskan berjalan dari kota ke kota. Memasuki Setiap ruang yang berisi buku-buku. Dan sangat nyaman menikmati membaca buku dalam perjalanan. Dan hal yang paling tak bisa dimaafkan, menulis mengenai perjalanan yang berkaitan dengan buku-buku.

Ada Ayu Utami berbahasa perancis, Saman, di tempat ini. Di Goethe Institut kemarin aku juga menemukannya. Rasa-rasanya, Ayu sudah melalang ke berbagai macam negara. Pramoedya Anantara Toer dengan Gadis Pantai-nya bisa mudah dilihat di balik kaca di ruang lobi sewaktu menginjakkan diri ke dalam lembaga ini. Ah, jika dilihat dari depan, tempat ini lebih mirip kedutaan. Setidaknya, IFI adalah kedutaan budaya dari pemerintah Perancis yang lebih mudah dikenal dan diterima masyarakat dari pada Goethe Institut yang bisik-bisik, lebih agak sepi peminat. 

Sebelum menghambur pergi menuju Kiaracondong untuk membeli tiket. Aku bertanya kepada pustakawati berbatik merah dan sudah cukup tua mengenai berapa jumlah pengunjung setia harinya. Dia mengatakan, dengan ragu, kira-kira tiga puluhan. Kebanyakan anak-anak yang les atau dari beberapa universitas sekitar Bandung. Setidaknya lebih agak banyak dari pada IFI Jogja yang lebih mirip kuburan mayat. Yah, Jogja, tempat budaya, seni, pendidikan, dan buku murah saja, hanya sedikit yang bisa dilihat di ruangan semacam itu. 

Waktu sudah semakin siang-malam aku pun buru-buru melangkahkan kskiku. Mencari angkutan kota yang membawaku ke Kiaracondong dan setelah itu melihat Perpustakaan besar yang terlalu jauh ke dalam; DISPUSIPDA. Perpustakaan yang terlalu konyol didirikan jauh di sana.

BANDUNG: SELASAR SUNARYO









Menuju tempat ini benar-benar membuatku terasa konyol dan menguji kesungguhanku ke sana. Letak yang begitu jauh dan tak seorang pengemudi Gojek pun mau menerima keinginanku untuk pergi ke sana. Aku bermaksud mencapai tempat itu sekitar jam 11-12an setelah Pameran Lukisan Akbar, Sejuta Bunga di Kota Kembang Bandung, yang nyaris tak begitu menarik dan biasa saja. Jalan Asia-Afrika penuh dengan orang-orang dan juga sampah. Acara konser akan digelar. Dan aku tak begitu peduli. Lalu hujan tiba-tiba turun ketika aku baru sampai di jalan ABC. sambil menunggu di sebuah batu bulat, seorang gadis kecil berusia sekolah dasar sangat sering memandangiku. Baiklah dek, kamu kecil tapi cantik. Tapi aku bukanlah pedofil. Seperti itulah kepalaku berdengung. Mengatakan pembelaan yang aneh. Apakah mungkin wajahku bisa berubah menjadi senasib dengan tokoh Lolita? Humbert. Oh, tidak. Aku pun mengeluarkan bukuku, Merebut Ruang Kota, membacanya. Aku sudah cukup pesimis mengenai Selasar Sunaryo. Aku nyaris memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Dan sialnya, anak kecil itu malah semakin sering memandangiku. Oh buku terkutuk! Keluarga mereka, yang berada di sampingnya, nyaris tak mengetahuinya. Ingat umur dek. Ingat umur. Tolonglah, jangan buat wajahku semakin tambah berdosa! Sudah banyak dosa yang menggencetku hingga Tuhan pun semakin menghilang dalam diriku. Oh jangan, jangan teruskan. Aku pun segera pergi. Duh anak kecil sekarang sudah cepat dewasa. Apakah aku masih cukup menarik bagi anak kecil yang beranjak remaja itu? Yah, aku tak peduli. Wanita, memang lebih mudah jatuh cinta bahkan di usia mereka yang kelihatan lugu. Bahaya bagi orang tua. Dan tentu saja, pesta bagi para laki-laki dewasa.

Aku memutuskan pergi ke Selasar Sunaryo dengan cukup nekat. Sudah hampir setengah tiga sore. Sementara itu, jam buka selasar pustaka hanya sampai jam lima. Aku bertanya ke sana kemari, mengikuti petunjuk jalan yang diberikan, dan bingung, harus naik apa. Ada yang menyuruhku naik angkutan kota arah Dago. Ada yang menganjurkan naik DAMRI. Orang-orang yang aku tanyai menunjukkan jalan ke tempat angkutan yang harus aku tuju. Aku pun jalan kaki ke arah Stasiun Bandung. Menyusuri bangunan yang beberapa kali aku lalui, masih terasa bagaikan mau roboh dan sangat bersampah. Aku pun bertanya lagi. Lalu bertanya lagi. Hingga sampai di Balaikota, tepatnya di depan SMKN 1, aku kembali mencoba peruntungan dengan Gojek. Sialnya, sekali lagi tak ada yang mau menerimanya. Singkat cerita, aku memutuskan menaiki angkutan kota warna hijau menuju terminal Dago Pakar dan memanggil ojek untuk mengantarkan aku ke sana. 

Alasanku agak bimbang menggunakan angkutan kota karena jalanan luar biasa macet. Angkutan yang aku naik tersendat-sendat dan melaju dalam keadaan pelan karena mencari penumpang. Sedangkan Selasar Sunaryo berada jauh di Bukit Pakar Timur. Dan aku takut waktuku yang sangat sedikit habis sekedar di jalan. Pada akhirnya aku sampai sekitar jam 3, setelah melewati jalanan kecil menanjak yang kemacetannya benar-benar gila. Dan oh ya Iblis! Apa jadinya jika tadi aku memutuskan berjalan kaki dari terminal ke Selasar Sunaryo? Mengingat medan yang menanjak dan sedikit terpencil jauh, bisa-bisa kakiku akan langsung mati rasa. Sedangkan keraguanku dengan Gojek karena takut hujan akan turun lagi. Setidaknya aku telah sampai di Selasar Sunaryo dan langsung merasa nyaman walau baru sampai di lahan parkirnya saja. 

Dari Balaikota sampai Terminal, aku hanya mengeluarkan empat ribu rupiah. Sementara ojek ke Selasar, cukup dengan sepuluh ribu. Dan oh ya, tukang ojeknya yang masih muda tentunya sedikit mengeluh dan tak terima ketika aku membayarnya dengan uang pecahan sepuluh ribu. Dia menginginkan lima belas.
'Lima belas bang,' keluhnya.

'Tadi kan aku nawar sepuluh ribu? Masak sekarang lima belas. Ya sudah aku minta nomor telponnya saja, nanti lima belas deh kalau mau nganter aku lagi dari sini,' kilahku. Dan caraku cukup efektif. Mengingat aku belum begitu mengenal kawasan ini dan jaga-jaga jika nanti aku tak bisa pulang karena tak menemukan ojek yang mau mengantarku ke bawah. Lagian tempatnya yang cukup terpencil dan naik turun, benar-benar meneror kaki dan otakku. Jelas, aku tak akan kuat berjalan kaki dengan keadaan kakiku yang masih cukup nyeri dan sakit. Dan di sinilah aku. Selasar Sunaryo. Tempat seniman ternama dan tempat yang cukup elegan dan terlihat mahal. 

Hari ini Minggu, 26 Februari 2017, aku menginjakkan kakiku di Selasar Sunaryo.

Aku pun mengacuhkan pameran Tata Boga. Tujuan utamaku kemari ingin melihat isi perpustakaannya. Dan aku sangat membutuhkan toilet. Sempat sedikit tersasar setelah diberi petunjuk oleh sebuah keluarga yang sedang bersantai di Selasar Kopi. Begitu kelelahannya diriku hingga aku tak begitu fokus. Betapa memalukannya. Tapi hal semacam itu tak banyak berlaku. Aku dalam keadaan antusias melihat sebuah tempat yang sekitarnya cukup hijau, rindang, dan udara yang sangat nyaman dan segar. Lingkungannya pun bersih dan nyaris bebas dari sampah. Nyaris. Sayangnya, jalan menuju sini, Dago Pakar, sampah benar-benar menjijikkan. Terlihat di mana-mana. Seolah tak cukup membuat kotor Bandung Bawah. Bandung atas pun kekotorannya nyaris sebanding. Setidaknya Selasar Sunaryo sangat bersih dan indah.

Aku berjalan tertatih-tatih. Tap tap tap. Melihat ke sana-kemari. Menemukan Selasar Pustaka, ternyata tutup, penjaganya sedang keluar, dan akhirnya memutuskan melihat pameran setelah bertanya kepada seorang perempuan muda yang cukup cantik. Aku pun tersesat di ruang pameran milik Sunaryo, bukan Tata Boga,  yang cara penyajiannya, sial, sekelas dengan Museum Geologi Bandung. Jelaslah, seniman miskin tak akan mampu membuat yang semacam ini. Ya, siapa yang mau jika dia seorang miskin? Seniman lagi?

Aku melihat-lihat sebentar. Karya-karya instalasi yang cukup bagus dan ada beberapa yang menggugah. Sunaryo, memang benar-benar memiliki kepekaan sosial cukup tinggi dalam karya-karyanya. Lalu, aku tertarik dengan penjelasan mengenai Wot Batu. Seniman asal Banyumas itu, bagiku sendiri, cukup menarik.
Aku tak menyelesaikan membaca semua penjelasan karya milik Sunaryo. Tak banyak waktu lagi. Aku pun segera kembali ke Selasar Pustaka. Pintu masih tertutup. Aku memaksa masuk. Dan melihat ruang kecil yang dikelilingi rak buku dan meja kayu yang berplitur kecoklatan kayu. Banyak tumpukan katalog di meja dan kursi. Hingga akhirnya, dalam kebebasan kesendirian, aku pun mengobrak-abrik isi perpustakaan yang tak seberapa banyaknya, tapi cukup nyaman untuk ditempati.

Secara mengejutkan aku menemukan buku langka dan bagus milik Irving Stone, Dear Theo: The Autobiografinya of Vincent Van Gogh. Buku bagus yang benar-benar ingin aku culik dan bawa kabur. Dan buku lainnya yang sangat membuatku begitu ingin adalah 500 Self Potraits. Ah, betapa inginnya. Ada juga buku langka milik Andy Warhol, Potraits. Tapi bagiku, tak terlalu menarik. Aku pun menemukan beberapa buku yang aku anggap layak untuk aku pelajari dan seharusnya ada di pasaran umum; Pesta Seni 1976 dari Dewan Kesenian Jakarta. Prahara Budaya; Kilas-Balik ofensif Lekra/PKI dkk karangan B. S Moeljanto dan Taufik Ismail. Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik Dengan Kacamata Budaya karya Agus Dermawan T. Politik Kebudayaan di Seni Rupa Kontemporer dari Kenneth M. George. Yogya Dalam Pesta Seni Rupa Indonesia cetakan Yayasan Cemeti. Taring Padi; Seni Membongkar Tirani, yang anehnya dicetak atas dana Ford Foundation. Oh, dunia seni yang plin-plan. Ada buku Raden Saleh; Awal Seni Lukis Indonesia. The Story of Affandi. Goya kepunyaan Robert Hughes. Exploring Modern Indonesia Art. Melacak Jejak Perkembangan Seni Indonesia dari Claire Holt. Dan ada dua buku yang mudah ditemukan dan cukup akrab, Kurasi dan Kuasa yang ditulis A. Hujatnikajennong. Dan Kekerasan Budaya kepunyaan almarhum Wijaya Herlambang. Dan aku sudah agak malas mencatat.

Aku berlama-lama di ruangan kecil dengan beberapa buku berbobot. Seorang laki-laki muda, yang terlihat panik dan sendu karena komputernya sedang rusak, menemaniku di ruangan yang sangat sepi. Dialah pustakawan di tempat ini, Selasar Pustaka. Aku agak iba dengan masalahnya tapi tak bisa berbuat apa-apa. Isi komputer yang patut membuat tegang karena berisi data kuliah, proyek, dan segala hal yang dia anggap penting. Dua kali dia memanggil atau meminta dua bantuan perempuan atau sesekali keluar. Sedang aku sendiri, masih sibuk dengan duniaku. Mencari buku-buku menarik yang terlewat.

Tiba-tiba dia menyarankanku untuk melihat Pameran Tata Boga. Letaknya di bagian sayap. Tutup jam lima sore. Jadi masih ada setengah jam lagi karena sekarang setengah lima. Aku pun memutuskan ke sana, melihat-melihat, dan sangat kecewa. Tak menarik. Tak ada yang perlu diceritakan. Terlebih karya yang hanya sekitar lima buah saja. Kalau tak salah. Aku kembali ke perpustakaan, melanjutkan mencari, dan menemukan beberapa lagi yang menarik. 

Aku selalu nyaman dengan buku-buku. Sendirian. Menikmatinya di bermacam kota yang berbeda.

Aku pun menanyakan berapa jumlah kira-kira pengunjung perpustakaan ini dalam sehari. Rata-rata lima orang atau tak ada sama sekali, katanya. Alasannya jelas, tempat jauh, dan kegairahan membaca di Indonesia juga minim. Ah, tempat senyaman ini sedikit yang melihatnya. Setidaknya, cukup banyak orang di Selasar Kopi. Baik bule atau lokal. Jam lima kurang sedikit, Selasar Pustaka ditutup. Dan aku meminta ikut membonceng pustakawan yang ramah tapi otaknya sedang bingung masalah komputer yang rusak. Dari pada tak bisa pulang dari sini, aku memutuskan segera pergi. Dan beruntung pustakawan di Selasar Sunaryo sangat ramah dan baik hati. Orang Jakarta yang sudah lama tinggal di Bandung, mengambil design tapi kini menjadi pustakawan. Rejeki dan pengalaman jangan ditolak, singkat cerita dari perkataanya.

Ingin rasanya berlama-lama. Tapi aku harus pergi secepat mungkin. Tenggoret sudah mulai berisik dan menguasai segenap tempat. Kami berdua keluar lewat pintu belakang. Berjalan kaki di tanjakan menuju tempat parkir. Membonceng dia di belakang. Dan motor pun semakin menjauhi sebuah bangunan yang kelak sangat ingin aku datangi kembali. Setidaknya aku pernah ke sini dan tahu cara sampai dengan murah dan cepat. 

Dan perjalanan menuruni Bandung sungguh menggelisahkan dan menjengkelkan.

BANDUNG: BRAGA/ASIA AFRIKA

tulisan menyusul...

BANDUNG: TELKOM LEMBONG







udara luar biasa dingin. angin mulai bertiup. dahan-dahan pohon bergoyang. aku tak tidur sejak kemarin siang. tubuhku benar-benar lelah. mata ingin sekali terpejam dan membalas dendam dalam kadar waktu yang pastinya akan sangat lama. dan tiba-tiba, sekarang sudah hari minggu. suara adzan subuh berkumandang di kompleks Telkom ini. nyaris seperti yang ada di Telkom Pusat Jogja. dan kakiku, ya ampun, rasanya luar biasa nyeri!

sejak kisaran jam 12 malam aku berada di sini. mengurungkan niat ke Braga atau Masjid Raya Bandung. bermain game. mencari informasi seputar kota ini. dan melihat-lihat kosan di Surabaya. aku sangat lelah. luar biasa lelah. pada akhirnya, aku memutuskan untuk memesan mie instan rebus dengan telur beserta air putih panas. aku hanya membayar sembilan ribu rupiah. cukup murah untuk ukuran pusat kota. lagian, penjual yang mirip angkringan itu sangat jarang ada di kota ini. 

yang menjaga adalah seorang ibu-ibu. saat aku bertanya kapan dia akan pulang? 'pagi dek,' jawabnya. tak banyak yang membeli ketika waktu memasuki pagi semacam ini. dan udara sangatlah mengerikan. mungkin aku akan berkata, bagaimana bisa? seperti itulah hidup. 

hari ini, rasanya aku ingin terus tidur. tapi di mana? akhirnya aku memutuskan untuk berpura-pura sholat. inilah kelebihan membawa sarung. membasuh diri tanpa niat. dan melakukan gerakan tanpa niat juga walau mulutku mengucapkan ayat-ayat seperti biasanya dulu. hanya ada sedikit orang. tak lebih dari kisaran lima. aku menunggu mereka semua keluar. lalu ada satu dua yang datang. seorang tua denhab gerakan sholat super kilat membuatku nyaris tercengang. lalu aku bergumam dalam hati, tidakkah hal semacam itu sudah biasa? 

aku pun mencari tempat untuk membaringkan diri. tepatnya di dekat pintu masuk yang bagai tertutup oleh pandangan mata sekilas. beberapa waktu aku nyaris tak bisa tidur. menimbang ingin pergi ke Selasar Sunaryo, perpustakaan Museum Asia Afrika, melihat Pameran di sekitar Gedung merdeka, atau Perpustakaan Daerah? Selasar Sunaryo terlalu jauh. apakah aku bisa sampai ke sana hari ini atau tidak. aku tak tahu. 

entah bagaimana caranya, aku sudah tertidur lumayan pulas dan bangun sekitar jam 9 lebih. menimbang sejenak keadaan. lalu pergi mandi. sempat, tadi malam aku susah memejamkan mata karena takut diusir. tubuhku sudah nyaris remuk. dan aku jelas tak mampu untuk berjalan terlalu lama lagi dan membuka mata sampai pagi berikutnya. tapi beruntunglah, tubuhku lumayan segar walau akhirnya, baru dua jam berselang sudah terasa nyeri di punggung. 

aku memutuskan mengisi baterai gadgetku. sekitar satu jam lamanya. lalu aku bergerak ke arah Braga dan akhirnya Asia Afrika. 

aku ingin melihat, seberapa kuat diriku ada di jalanan.

BANDUNG: BANDUNG INDAH PLAZA








'kakiku menolak mematuhi kemauanku, bahkan hampir menolak membawa tubuhku karena tak sanggup lagi menahan tekanan,' keluh Yossi Ghinsberg. aku pun mengeluhkan hal yang sama. kakiku terasa sakit jika aku haruskan untuk melangkah. pergelangan kakiku sudah pada tahap nyeri. dan kepalaku sudah mulai minta diperhatikan. dengan tubuhku yang mudah sakit-sakitan, aku benar-benar merasa lelah. aku hanya mampu berjalan beberapa kilometer perhari. dan hujan seringkali mengancam keberadaanku. oh, semoga aku tidak jatuh sakit. aku berjalan di lngku

aku mulai mempertimbangkan lagi keberadaanku di kota ini. satu bulan rasa-rasanya terlalu lama untuk sebuah kota semacam Bandung. kurang dari seminggu mungkin aku akan sudah jatuh bosan. sebulan? di Bandung? sial, kenapa aku bisa sangat keterlaluan tolol dengan berpikir semacam itu? seminggu di Jogja saja, dengan berbagai macam acara keseniannya, aku harus mati-matian agar tidak mengutuki kota itu. sebulan, di Bandung lagi? hayulah Merah, apa kau ini termasuk orang waras yang sudah terlanjur beranak-pinak memenuhi setiap inci kota? yang jelas, malam ini, aku lelah. 

aku sudah berkali-kali di kota ini. dan aku tahu, kota ini memiliki ragam acara dan gairah intelektual yang tak terlalu semenarik Jogja. apakah aku sedang berlagak bunuh diri di kota ini?

sekarang aku terlantar di Bandung Indah Plaza. tepatnya, di McD. terlantar di tempat mewah, sungguh sangat kejam bagi seorang pengembara terperangkap nyaman di tempat semacam itu. peduli Tuhan! aku hanya ingin menghabiskan satu malam di kota terkutuk ini dan selamat melewati pagi tanpa harus terjangkiti sakit. aku pun mulai berlama-lama. mencari colokan charger tapi selalu penuh. dan yang terpenting, aku tak memesan apa-apa. perutku sudah terlalu kenyang sehabis memakan batagor kuah di seberang tempat ini. 

'maaf, sudah memesan sesuatu?,' seorang laki-laki kurus berkacamata, dengan logat ramah tiba-tiba menanyaiku.

'oh, sudah tadi, di lantai atas. sedang mencari tempat charger tapi sudah penuh semua,' jawabku singkat. dan tentunya sambil tersenyum meyakinkan.

'itu di sana ada,' jawabnya balik. membuatku sedikit tersudut. sial, apa orang ramah ini tak tahu aku sedang dalam keadaan kesal dengan kota ini? aku ingin cepat-cepat mengenyahkannya.

'iya, nanti aku akan ke sana,' seketika, dia pun pergi. meninggalkanku tersudut nyaman di sebuah pojok, sambil mengamati orang-orang yang sedang lewat atau menghabiskan waktunya di tempat makan yang harganya mengerikan. 

halaman 267, Lost In The City karya Yossi Ghinsberg. aku akhirnya membuka buku itu lagi, dan ingin segera menyelesaikannya di tempat ini. 

kota ini dipenuhi gadis Tionghoa. entah mereka masih gadis atau tidak, yang jelas banyak dari mereka belum menikah. bergentayangan di kota ini. hingga seorang perempuan tengah baya, dengan anak dan suaminya, mengenakan baju yang sangat ketat dan minim. dan jika sedang dalam posisi merunduk, bokongnya mencuat keluar hingga aku kehabisan kata lagi untuk melanjutkannya. banyak orang lalu lalang. mengingat ini hari sabtu, banyak mereka yang berpacaran terlihat di mana-mana. melakukan teror secara terang-terangan bagi mereka yang sedang sendiri. atau tidak laku. atau memang sangat jelek sehingga tak seorang pun yang menginginkan. atau sekeluarga, warga Bandung atau yang sekedar kerja atau liburan di kota ini, mereka terlihat di berbagai tempat: dari Gramedia, mal, hingga tempat makan di pinggiran jalan. kota ini, salah satu kota dengan biaya hidup yang sangat mahal.

tak ada angkringan. seandainya ada, itu pun pastinya sedikit. sejauh ini aku belum melihatnya. harga makanan pun jauh lebih mahal dari pada di sekitar Jawa Tengah. yang aku lihat, dan ini hampir di mana pun, adalah para pengemis.

ketika aku melangkahkan kaki terseok-seok di pedestrian jalan R.E. Martadinata. aku melihat nenek berjilbab yang berjalan pelan sambil mendekati satu persatu orang yang sedang berkerumun. menengadahkan tangan dengan gelas plastik bening berharap ada yang akan memberi empati atau sekedar empati. tapi tak seorang pun yang memberikan hal semacam itu. bahkan diriku sendiri. alasanku sudah cukup jelas. dan aku bisa bertahan dengan alasan ini. seorang filsuf nihilis dengan keuangan yang buruk, bosan terhadap apa pun, dan jelas akan langsung bangkrut jika terus-menerus memberikan uangnya hanya karena merasa malu dan sok berperikemanusiaan. tapi, kerumunan orang-orang itu membawa nama Tuhan dan agama dengan atribut yang mereka kenakan secara jelas: jilbab, baju, dan tubuh yang terkesan islami. saat mereka menolak nenek itu. secara lantang mereka juga menolak Tuhan mereka sendiri.

'ada sesuatu yang hilang dalam diri saya. saya gagal untuk mempersembahkan diri saya kepada Tuhan,' ucap Karen Armstrong. dan sudah 2 tahun ini, aku tak lagi memiliki Tuhan. bahkan agama. aku sudah tak lagi terikat dengan norma dan semacamnya. itulah kenapa, orang bisa bebas membunuhku kapan saja mereka mau. tapi, dengan simbol agama yang jelas mereka kenakan, apakah mereka serius bertuhan atau sekedar main-main? entahlah, aku lelah. aku pun menghindari seorang anak kecil yang menawarkan tisu kepadaku di saat aku ingin menyeberang jalan. menghindari lagi nenek-nenek buta yang entah kenapa bisa berdiri dan bertahan sangat lama di depan Gramedia dengan tongkatnya. menghindari berulang-ulang anak kecil yang tergeletak, entah pura-pura atau nyata, di sebuah jembatan penyeberangan. dan terus menghindari berbagai macam orang yang jelas mereka sangat lebih berkesusahan dariku secara ekonomi. tiba-tiba aku jadi teringat dengan perempuan gila kemarin, usia tengah baya, yang berjalan di sekitar Trans Bandung, berbicara dan tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan masa depan kota ini secara nyata di depanku.

aku melihat bateraiku sudah berada di kisaran 50%. tempat yang ada colokannya pun sudah kosong. secepat kilat aku berganti tempat. membenamkan charger ke dalam lubang. lalu melanjutkan membaca.

tak sengaja aku membuka akun instagram dan menemukan artikel atau berita yang mengatakan bahwa banyak pengemis di kota Bandung bukanlah berasal dari Bandung. mengemis sebagai profesi. dan apakah penggarukan adalah hal yang sudah tepat? entah di kota mana pun, pengemis sudah menjadi hal rutin di jalan-jalan. entah mereka warga suatu kota itu atau tidak. jika dia terlihat mengemis di sebuah kota itu, aku menganggap dia adalah pengemis milik kota itu. terlepas dia bukan berasal dari kota ini atau kota lain yang aku kunjungi ketika sedang melihat para pengemis. ketika mereka mengemis di jalan-jalan. atau ruang-ruang tertentu di sebuah kota. itu berarti kota itu secara tak langsung mengijinkan, entah dengan alasan apapun. ketidakbecusan birokrasi dan semacamnya, hanyalah sekedar alasan ketidakmampuan. yah, malam semakin larut. aku juga tak ingin lekas beranjak dari tempat ini. tepatnya, apakah aku sedang menunggu untuk diusir? aku pun melanjutkan membaca di saat orang-orang mulai meninggalkan tempat duduknya dan ruangan ini menjadi lebih sepi. 

aku sangat menikmati membaca di ruang terbuka.

waktu terus berjalan. orang-orang semakin menguap. kursi-kursi ditumpuk. lantai dibersihkan. dan musuh terbesarku adalah keinginan kencing yang tertahan. kencing dan buang air besar adalah musuh para pengembara yang sedang menjelajah kota. di hutan atau alam yang tak banyak hunian dan orang-orang, kita bisa kencing dan buang air besar sesuka hati kita. di sebuah kota yang padat, kita akan kesulitan melakukannya. seperti itulah keadaanku hari ini. angka waktu semakin mendekati tengah malam. berarti sudah hampir lima jam aku berada di tempat ini. dan sialnya, tempat colokan cas sudah tak lagi mengalirkan listrik. sungguh sial, tempat ini sangat tahu waktunya mengusir orang.

rasa-rasanya aku harus bergerak ke Braga. berjalan kaki. ya, dengan berjalan kaki. mencoba memaksa mataku untuk tetap menyala. dan mungkin juga kakiku yang cukup memiliki banyak waktu untuk beristirahat. aku harus mencari tempat untuk mengisi bateraiku. menghabiskan sisa halaman buku. dan sedikit melihat Bandung di hari sabtu tengah malam dan awal sebuah minggu. tapi entah mengapa, kakiku terasa sangat enggan untuk berjalan.