ada keajaiban di sini, kepuasan karena tak sepenuhnya tersesat, namun juga tidak sepenuhnya dekat - Ken Otterbourg
Senin, 06 Maret 2017
JOGJA: WARUNG IJO
Warung Ijo, seperti
itulah namanya. letaknya di dekat kampus UKDW. selalu ramai dan sering
penuh sesak. warung yang berdiri sejak 1945, katanya, dan terus bertahan
melewati zaman, mengingatkanku dengan berbagai macam warung tradisional
di penjuru Jawa Tengah. yang hari ini semakin tergantikan dengan warung
padang, tegal, angkringan, atau semacam restoran.
rasa-rasanya sudah empat
atau lima kali aku mencoba menikmatinya. terlebih melihat Jogja adalah
kota yang miskin kuliner, bumbu, dan rempah, jelas-jelas sangat senang
menemukan gorengan yang cukup renyah, soto dengan harga murah, dan
suasana yang mirip di masa kecilku. di mana para orang tua dari berbagai
macam usia dan pangkat, makan dengan lahap tanpa menghiraukan tempat
yang seadanya. suasanya sangat kekeluargaan. hangat. dan tak perlu repot
dengan menjaga citra diri. suasana yang dikembalikan oleh Bentara
Budaya. suasana yang hampir hilang digantikan oleh angkringan yang
semakin menjamur.
angkringan, sebenarnya
semakin dikuasai oleh anak-anak muda. nasi yang sedikit dan tak
bervariasi, membuat orang-orang tua seperti di warung Ijo jarang
terlihat. terlebih tempat yang sangat terbatas dan makanan yang sangat
buruk dan hambar. walaupun begitu, ada beberapa titik di mana angkringan
dijadikan tujuan makan para orang berusia tua, seperti angkringan di
dekat stadiun Kridosono dan yang lainnya.
bagiku sendiri,
angkringan Jogja berkualitas sangat rendah. berbagai macam gorengannya
sangat keras dan miskin bumbu. seolah dikasih pengawet dan semacamnya.
dan nasi bungkusannya hanya sekedar tumis tempe dan sambal seadanya.
dalam hal kuliner saja, Jogja sangat menyebalkan. Gudeg pun terasa
hambar dan hanya terasa manis kecap. berbeda dengan Semarang sekitarnya
yang angkringan, nasi tegal, warung biasa dan lainnya sangat kuat akan
bumbu, rasa pedas, dan kerenyahannya. Jogja dalam hal kuliner, termasuk
sangat miskin dan menandakan kurangnya kreativitas. bahkan mangutnya pun
nyaris tak terasa dan hanya sekedar ikan lele yang tak begitu
menggairahkan dibandingkan mangut pesisir yang pedas dan terbuat dari
ikan pari.
warung tegal pun susah
dicari. begitu juga warung semacam Warung Ijo. angkringan lebih banyak
menjamur beserta penyetan yang menggurita. jika hidup di Jogja sangatlah
pas-pasan, pilihan makanan yang ada sangat kekurangan gizi dan
meresahkan. aku harus mencari tempat-tempat khusus untuk mencari warung
yang menjual berbagai macam jenis sayuran dan cukup banyak pilihan menu.
setiap hari makan nasi
angkringan, mie ayam atau bakso, nasi goreng, bakmie, dan masakan
Padang, jelas-jelas membosankan. masakan Jepang, Korea, Eropa, dan
lainnya, bukanlah jenis masakan yang bisa dinikmati setiap hari atau
menu yang pas. dan bagiku sendiri sangat tak cocok. lagian, aku juga tak
banyak uang akhir-akhir ini. yah, setidaknya, Warung Ijo-lah, tempat
yang seharusnya semakin banyak dikembangkan, dilindungi, dan
dilestarikan bukanya angkringan yang miskin bumbu dan dimasak dengan
kondisi sangat buruk.
saat melihat Warung Ijo,
dengan para orang tua yang usianya ada di atas 80 an, hingga kadang
mendekati 100 tahun. benar-benar terasa menenangkan. terkadang aku
melihat beberapa anak muda seusiaku. dari perempuan hingga laki-laki.
tapi jumlahnya tak seberapa. yah, bisa dibilang Warung Ijo adalah tempat
para orang tua berkumpul dan juga mungkin bernostalgia.
soto seharga lima ribu
rupiah dan gorengan renyah yang dijual lima ratusan, sudah cukup membuat
perut kenyang. air putih gratis tentunya. dibandingkan makan di
angkringan sebenarnya lebih memuaskan di Warung Ijo.
suasananya begitu hangat dan bersahabat.
Jogja semakin tenggelam
oleh beragam cafe dan burjo. yang suasananya terkesan mirip di berbagai
macam galeri seni. ada semacam kekakuan dan keasingan di dalamnya.
itulah kenapa, aku tak terlalu betah di cafe dan sejenisnya. ada jarak
yang terlalu lebar di tempat-tempat semacam itu. yang mencerminkan
kondisi kejiwaan kita sendiri.
dan jika berbicara
mengenai Jogja, tumbuh pesatnya cafe dan semakin menghilangnya semacam
Warung Ijo. menandakan pergeseran norma hidup yang sangat besar. pada
akhirnya, kita semakin konsumtif, individual, sibuk mengurusi citra
diri, kejiwaan rentan, dan anak muda perkotaan yang tak lagi akrab
dengan satu dan lainnya.
tempat makan menandakan kejiwaan dan sikap sosial diri kita. dan Jogja berkembang semakin terpecah dan kehilangan arah dirinya.
JOGJA: PKKH UGM
suasana sangat ramai. segala jenis usia nyaris ada di sini. dari anak kecil hingga yang sudah tua. Sastra Lawas, seri
berkumpulnya orang-orang lama di sastra UGM. di tempat ini pun, tak
semua orang yang datang dari UGM. setelah berbagai macam acara musik
yang entah, aku sudah merasa bosan rasanya. tempat ini adalah yang salah
satu sering aku datangi. tapi malam ini, kepalaku sudah terasa
linglung. lebih baik aku membaca Ecce Homo.
aku bosan. tak ada yang
menarik. aku membaca Nietzsche, menggarisbawahi apa yang penting, dan
merasa murung. aku sangat bosan dengan dunia. musik yang hingar bingar.
suara yang memekakkan telinga. udara yang dipenuhi asap rokok. waktu
yang terasa mencekikku perlahan-lahan. aku ingin melarikan dari sini.
omong kosong dan ketidakjelasan ini.
sial, kenapa aku begitu pesimis dan murung?
ada Frau. tapi sayang,
lagu yang ia bawakan bersama-sama tidaklah menarik minatku. aku lebih
memilih menyumpal telingaku dengan Aurora. meneruskan membaca, dan
mengamati kenyataan bahwa aku tak lagi mudah terhibur.
frau tiba-tiba
sendirian. dia akan membawakan tiga lagu. dan aku berpikir, berapa
banyak musisi yang pada akhirnya diingat? musik adalah hal yang paling
lemah diingat dan tak berusia panjang. menjadi musisi berarti sedang
menggali kubur sendiri. sedikit musisi atau musikus yang sanggup
bertahan melewati milenia.
suara Frau cukup bagus.
begitu juga alunan musiknya yang khas. tapi dia hanya sampai sejauh itu.
tak lebih. hanya untuk telinga-telinga yang paling rendah. seperti
sebagian dari telingaku. yang terakhir adalah Sepasang Kekasih, lagu yang cukup mudah disukai generasi muda sepertiku. tapi sekali lagi, hanya sampai sejauh itu.
rasa-rasanya, aku harus pergi sekarang. sudah tak ada lagi yang menarik. yah, ingin cepat-cepat lari meninggalkan kota ini. malam ini 18 februari 2017. aku sudah sangat bosan. benar-benar bosan.
Sabtu, 18 Februari 2017
JOGJA: SASTRAWAN ANTI GALERI SENI?
saat di IVAA, aku kembali menimbang-nimbang hal yang sudah lama sangat aku pikirkan dan pernah aku bicarakan dengan beberapa temanku. ketika aku memasuki berbagai macam galeri seni, di pameran seni rupa dan semacamnya. sedikit sekali aku melihat orang-orang yang menyebut dirinya penyair atau sastrawan hadir atau menampakkan diri. apakah mereka terlalu sibuk dan begitu sibuknya, selama dua tahun, aku nyaris jarang melihat mereka berada sama denganku ketika sedang memandangi berbagai macam instalasi atau lukisan di dinding galeri? satu dua kali mungkin aku melihatnya. tapi mengingat para penyair dan sastrawan jumlahnya sangat berlebihan di kota ini, mengingat berbagai macam acara kesenian luar biasa banyak. sangat aneh dan janggal jika aku tak berpikir semacam ini; apakah banyak orang yang hidup dalam ranah sastra terlalu sempit jangkauan berpikir dan kesukaannya sehingga seni saja, yang sejatinya sastra bagian dari seni itu sendiri, nyaris dipisahkan dan tak terlalu dianggap?
di lain sisi, banyak anak seni pun yang jarang terlihat di berbagai macam acara sastra kecuali hanya saat-saat tertentu. seolah-olah, di kota ini, seni dan sastra sangat terpisah jauh. hal yang benar-benar menurutku memalukan.
di IVAA, Sita yang menjadi moderator sekaligus kurator adalah anak sastra. dan aku tak tahu, apakah dia masuk ke ranah seni karena memang menyukai seni atau memiliki bakat menulis, kedekatan dengan berbagai macam seniman dan semacamnya sehingga bisa menjadi kekecualian. kadang, aku juga sering melihat seorang laki-laki bertato, memegang dan mencari buku-buku sastra di Togamas Kota Baru. atau seringkali dia diundang di beberapa kesempatan mengulas dan membedah buku. dan ada beberapa lukisan yang menggambarkan Nietzsche yang aku sukai yang lahir dari buah pikir dan tangannya. yah, dia adalah Andre Tanama. walaupun begitu, seniman yang terlihat di berbagai acara sastra dan intelektual sangatlah sedikit. begitu juga sastrawan dan penyair yang terlihat di galeri-galeri seni juga sangatlah sedikit. menandakan apakah ini? kekonyolan kota Jogjakah?
menyangkut lingkungan hidup dan kesenian, aku sudah cukup lama paham dan memahaminya. saat Greenpeace mengadakan acara. saat ada masalah-masalah lingkungan hidup dan penggusuran. banyak seniman muda, dari Sigit hingga kelompok Taring Padi, seringkali terlihat. dan buku REKA ALAM, sangat jelas menyoal itu. begitu juga Dwi Cipta dan lain sebagainya dari ranah sastra. jumlahnya cukup banyak. tapi jumlah cukup banyak itu sangat tak seberapa.
yang paling aku amati dan sorot adalah minimnya pertukaran dua ranah yang paling umum dan besar di kota ini; sastra dan seni. seolah-olah keduanya saling menjauhi. filsafat, seni, sastra, adalah tiga hal yang seharusnya menjadi satu dalam diri seseorang. ketika seseorang menyukai filsafat, dia pasti akan menyukai hampir semua ilmu dan ranah lainnya. begitu juga orang yang menyukai seni dan sastra. karena semuanya sangat berdekatan dan seringkali menjadi satu. hingga pada akhirnya, seseorang yang hidup dalam dunia itu akan menyukai musik, teater, pagelaran budaya, hingga sains. di Jogja, aku melihatnya tak seperti itu. seolah-olah semuanya sudah sangat terkhususkan. dan untuk sekedar memandang yang lainnya, bagaikan terasa janggal, aneh, dan tak biasa.
banyak anak muda yang hidup dalam ranah kesusastraan di Jogja, entah mereka semua kemana ketika aku sedang berada di galeri seni atau pembukaan pameran kesenian yang paling umum dan konvensional; seni rupa. di dalam sebuah galeri, jelas, sangat mudah untuk melihat, menemukan, dan mengamati seseorang. terlebih wajah-wajah sastrawan muda yang sudah cukup aku kenal di mata dan pikiranku. tapi kemana mereka pergi selama ini? sangat luar biasa sibukkah? keterlaluan sibuknya sehingga aku nyaris malas untuk mereka-reka lagi. yang jelas, sangat jarang ada orang yang hidup di kesusastraan terlihat di berbagai macam galeri seni selama ini. dalam artian, selama aku berada di Jogja.
seandainya pun ada sastrawan yang tak aku kenal ada di galeri seni. setidaknya ada anak-anak muda yang aku kenal, ada di situ. baiklah. sastra di kota ini pun sangat dekaden dan yah, terfokus pada hal-hal yang terlalu sempit. mungkin aku salah. ya, mungkin aku salah dalam merenungkan hal itu karena keterbatasan data dan pengalamanku.
dan mungkin, sedikit orang di ranah sastra dan seni sendiri, mau mengamati perkembangan anak muda dan gairah intelektual di dalam kota kecil ini. sehingga antara satu dan lainnya merasa tak berkepentingan untuk sekedar melihat dan mengamati berbagai macam ruang yang ada. mungkin kita tidak suka dengan acara atau topik yang ada. tapi, kita masih bisa mengamati orang-orang dan suasana yang ada di dalamnya. jika memikirkan kota ini, kedangkalan dan dekandensinya sudah luar biasa sangat mengerikan.
entahlah, mungkin hari ini lebih baik aku membaca Ecce Homo karya Nietzsche. dan mencoba memikirkan ulang atau mencoba tak percaya, kalau kota ini sudah tak lagi menarik dan sangat menjemukan.
JOGJA: INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVE 2
aku memegang sekaligus membaca katalog data IVAA #2 REKA ALAM: PRAKTIK SENI VISUAL DAN ISU LINGKUNGAN DI INDONESIA (DARI MOOI INDIE HINGGA REFORMASI) berbarengan
dengan saat Tia sedang menjelaskan seniman Bali beserta perubahan karya
dan diri mereka. ini keduakalinya aku ke IVAA, setelah kemarin juga
menempatkan diriku di sini dalam sebuah diskusi perihal ke-Balian.
siang atau tepatnya sore
ini, udara begitu panas. keringat berkucuran di balik bajuku. Tia
tertatih-tatih menjelaskan presentasinya. Sita, aku rasa lebih baik jika
menyangkut berbicara di depan publik. mungkin dia, si Tia, masih baru
dalam hal ini atau tak terbiasa. entah kenapa, aku lebih tertarik
meneruskan membaca REKA ALAM.
Sita lebih bagus dalam
merangkum inti pikiran dari Tia. apa yang dibicarakan tak jauh dari
kemarin. bagaimana kita mengenali Bali dalam seni rupa? bagaimana
identifikasi ini berlangsung di Yogyakarta? semacam itulah. dan sekali
lagi, udara begitu panas. kipas angin di belakangku nyaris tak bisa
berbuat apa-apa. oh Jogja!
identitas. identifikasi.
komodifikasi. komersialisasi. inti dari apa yang ingin dibicarakan
pembicara kedua. dan dia mempermasalahkan istilah yang baginya tumpang
tindih atau mencoba menguraikan hal itu.
diskusi hari ini,
pembicaranya tak terlalu menggairahkan. terbata-bata. sangat tak
interaktif. miskin ekspresi. dan terlalu kaku. lebih baik, si Sita atau
moderetornya saja yang kapan-kapan jadi pembicara. banyak seniman yang
tak memiliki bakat untuk bicara di depan publik. apakah ini sejenis
ketidakpercayaan diri yang sudah umum di manapun?
sekarang sampai pada
penjelasan abstrak ekspresionistik Bali. apakah ada kaitan dengan akar
ke-Balian? dijawab oleh pembicara sendiri, terjadi epigonisme dan karena
pasar. aku melihat sekeliling, wajah-wajah lelah dan mengantuk. juga
diriku sendiri. mungkin butuh Eko Prasetyo di sini untuk membuat aku
tertawa sekaligus berpikir.
perempuan dan laki-laki
jumlahnya nyaris seimbang. dalam hal gender, seni sudah cukup merata
walau masih didominasi laki-laki. dan pembicara sangat membuatku bosan.
dia tak pandai bicara. kelak, jika ingin membuat orang lebih tertarik ke
sini, IVAA harus mulai serius mencari pembicara yang bisa menghidupkan
dan menggairahkan suasana.
kelelompok.
ketidakpercayaan diri. pasar. epigonisme. inti dari yang dikatakan
pembicara kedua, Anzieb. saat dia menyudahi yang ia katakan, Sita pun
mencoba menjelaskan dan membuka pertanyaan. sial, tak ada yang
mengangkat tangan. malah perempuan muda, yang tadi ngobrol denganku yang
jadi anggota baru IVAA lah yang memulainya. setelah ini, mungkin aku.
archive showcase, Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa: berdiri di antara... apa?,
dibicarakan oleh penanya di depanku. aku nyaris hampir tak ingat ada
itu. dia mewakili salah satu kebosananku bahwa materi dan presentasinya
tak dalam dan hanya sekedar awal. aku menyetujuinya dan mengangguk. lalu
pembicaraan berputar pada masalah identitas. hingga giliranku bertanya,
mencoba berbicara mengenai posisi kesenian di Indonesia kelak jika
Tiongkok, India, dan negara Asia lainnya tumbuh besar menggantikan
posisi Barat, apa yang akan terjadi dengan posisi seniman dan kesenian
di Indonesia yang mana sekarang kita, di hampir semua bidang hanya
konsumen dan epigon? baru berbicara sangat sedikit, Sita sudah memberi
isyarat waktu akan habis. pertanyaanku dijawab secara singkat oleh
Anzieb dalam logika pasar atau komersialisme. jika seniman hanya ingin
populer dan mendapatkan kehidupan nyaman. pada akhirnya seni hanya
sekedar jatuh pada tujuan materi. itulah inti dari menjawab
pertanyaanku. dan aku, semakin ditelan oleh pesimisme Jogja. kota yang
sangat tak memuaskan secara intelektual. aku semakin bosan dengan
berbagai macam ruang diskusi.
acara selesai,
orang-orang membubarkan diri, dan aku bergabung untuk sedikit
berbincang. sekedar obrolan singkat dan perubahan raut muka sudah
menjelaskan banyak hal kepadaku. orang-orang seni pun kebanyakan buta
terhadap wacana terlebih hal yang lebih dalam dan filosofis. dan mereka
memiliki mimik muka ketakutan jika harus dipaksa untuk membicarakan hal
itu. perbincangan intelektual yang tak terlalu dalam sudah membuat
mereka menjadi bertahan dan sangat tak nyaman. tidak di sastra, bidang
budaya, lingkungan hidup, agama dan lainnya. seni mengalami kasus yang
sama di kepala para senimannya. hal yang berkaitan dengan kedalaman
filosofis dan wacana, semakin menjauh dari kota ini. sudah menjadi
sangat umum dan luar biasa jelas dilihat. namun begitu, sedikit yang
berani mengakuinya. kejujuran dalam hal intelektualitas dan diri, sangat
jarang ditemui di mana-mana. kota ini akhirnya menjadi dekaden.
walaupun begitu,
keberanian anggota baru IVAA untuk membicarakan diri sendiri, atau
pembelaan mereka terhadap acara yang mereka buat dengan alasan masih
belajar dan baru memulainya, masih bisa aku beri tepuk tangan. walau
hanya separuh. dan tentunya tak bisa terus menerus seperti itu jika
berkaitan dengan acara publik yang dilihat dan didatangi beragam jenis
orang.
ah, aku semakin malas
berada terlalu lama di kota ini. kota yang uang sewa kosnya sangat
kapitalis dan kejam. ruang publik yang penuh dengan kegelisahan dan
ketakutan. kedamaian semu yang mudah rusak dan hancur. pembaca buku yang
sangat minim. pesepeda yang semakin sangat susah dicari. kemacetan.
panas. kelebihan penduduk. ketololan universitas-universitas besar.
dunia sastra dan seni yang mengalami kasus yang hampir mirip. dan budaya
yang ditelan oleh globalisasi yang tak tanggung-tanggung diterima
dengan besar-besaran. globalisasi tanpa ciptaan dan inovasi yang kokoh.
sekedar konsumen dan epigon.
apakah yang masih tersisa dari Jogja dan yang perlu dibanggakan darinya?
keramahtamahan. dunia yang masih tak seganas Jakarta. biaya hidup cukup murah. banyak galeri seni, acara budaya dan musik, perbincangan sastra, cafe yang menjamur, dan pemandangan alam. itu pun akhirnya, membuat orang yang cukup sadar diri, pasti akan bosan dibuatnya. hidup hanya untuk ke cafe, galeri seni, pameran, diskusi, ke alam, pacaran, kuliah, mencari uang, dan berputar terus hanya di seputar itu. kehidupan yang sangat monoton dan menjengkelkan.
akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan katalog kecil REKA ALAM. tak
ada tiga jam satu buku kecil telah aku konsumsi dan cerna. itupun
disela oleh berbagai macam hal. dari sekitar jam 15:00-18:00 lebih.
katalog yang sangat menarik dan kelak ingin aku miliki.
aku sudah cukup lama
bosan dengan kesusastraan di kota ini. begitu juga dengan keseniannya.
dengan tertatih aku meminta ijin untuk pulang dan tentunya basa-basi.
dan di kepalaku terngiang-ngiang suatu suara: "seorang filsuf tak akan
mudah diterima di mana pun. bahkan di ruang yang terkesan intelektual di
kota ini".
Kamis, 16 Februari 2017
JOGJA: INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVE (IVAA)
jalanan Jogja di siang hari memang brengsek. yah, seperti itulah kota
yang mulai rusak dan sekarat. macet dan panas benar-benar sangat
menjengkelkan. dari sekitar UGM hingga ke Imogiri Timur, terik matahari
benar-benar membuat kulit terasa terpanggang. kemacetan menggurita di
bundaran UGM, jalan Suroto, kisaran UKDW dan berlanjut hingga membuatku
malas menuliskannya. pohon-pohon yang semakin sedikit dan banyak
ditebang, membuat kondisi jalanan beraspal semakin sengsara. kota kecil
yang hampir tamat.
hari ini, 16 februari 2017, aku berada di IVAA atau Indonesia Visual
Arts Archive yang secara asitektur mengingatkanku pada Kedai Kebun.
cukup nyaman dan teduh dipandang. warna cokelat kayu yang sangat
dominan, ventilasi angin yang menyegarkan, beserta penataan penerimaan
cahaya, membuat tempat ini sejujurnya lebih menyenangkan dari pada
Langgeng. sayangnya, setelah masuk dan sedikit mengamati, tempat ini tak
terlalu terawat. banyak debu dan semacamnya, terlebih di lantai atas.
ciri-ciri kekurangan pendanaan sudah langsung terlihat.
di depan pintu masuk, disediakan teh beserta gula dan gelas. sedikit
cemilan. rasa-rasanya, itu sudah menunjukkan kalau tempat ini mulai
menderita kemiskinan. sebuah tempat yang seharusnya bisa lebih baik
kalau benar-benar didukung oleh banyak pihak. terlebih,sebuah tempat
yang jarang ada di negara ini. tempat yang mencoba mendokumentasikan
segala hal yang berbau seni: visual terkhusus. mirip kisah PDS HB Jassin
yang sekarat di bidang sastra. atau mungkin, tebakanku yang salah.
untuk saat ini, aku lagi tak ingin bertanya-tanya.
tempat ini terlalu menjorok ke dalam dan sangat kurang strategis. dan
jika sangat tak populer, itu memang sangat wajar. hanya para seniman
dan yang tertarik dan berkaitanlah yang tahu letak dan keberadaannya.
seperti halnya anak muda yang tadi aku tanyai di jalan yang benar-benar
tak tahu apa-apa. dan yang lebih tahu selalu para tukang tambal ban.
sungguh mengagumkan peradaban otak baru generasi muda kita! bahkan
banyak anak seni pun jarang atau malas untuk ke sini dengan berbagai
macam hal yang bisa dijadikan alibi. IVAA terletak di jalan Ireda, dan
masuk ke gang kecil Hiperkes. mengingatkanku akan keterpencilan WALHI di
Kotagede. seolah-olah sedang bersembunyi dari kota yang mulai
menggelisahkan.
aku bersama temanku, naik motor, ke Imogiri untuk mengantarkan buku
pak Narto ke rumah pak Adi. lalu secepat kilat sampai di tempat ini.
sekali waktu, aku langsung nyaman dan bertengger di lantai atas setelah
menemukan buku yang menarik, Raden Saleh: The beginning of Modern Indonesia Painting dan sebuah buku tebal dari Martin Suryajaya, Sejarah Estetika.
banyak buku seni yang sangat menarik di sini. rasa-rasanya aku akan
betah jika tinggal di sini atau sekitarnya. menghabiskan waktu untuk
sekedar membaca, menulis, mencari gagasan atau yah, hanya mengigau dan
melamun.
ada buku-buku soal Affandi, sejarah seni, dan katalog. dan tentunya,
lampu sempat mati sebentar. lalu, hampir setengah jam, acara belum
dimulai. yah, yang jelas, itu menandakan bahwa aku masih di Indonesia.
jam karet adalah seni paling populer dan sangat digandrungi masyarakat
Jawa, dan hampir menjadi budaya bangsa ini. oh ya, kamu harus memiliki
kesabaran dan mencoba menghapus pola pikir Barat dan Asia Timur mengenai
ketepatan waktu. ketepatan waktu mungkin dipandang sebagai aib. di mana
orang dirasa kurang sabar dan menganggap segala sesuatunya terlalu kaku
dan terburu-buru. seandainya kau tinggal di sini. kau bisa mati
perlahan-lahan dalam kerjaan yang terbengkalai atau kebosanan yang
lamban. dan jika kau berpikir untuk mencari cara untuk menghabiskan
waktu segila-gilanya dan semalas-malasnya. Jogja mungkin tujuan yang
harus dimasukkan ke dalam daftar paling menarik dari seluruh kota di
Jawa. dan tujuan yang paling menarik untuk bunuh diri dalam kejenuhan
pada akhirnya.
waktu terus bergerak, dan acara seolah-olah bagai diabaikan dengan
begitu bebasnya. kapan acara diskusi akan dimulai? entahlah. Jogja
ditambah seni, paduan berbahaya bagi kemalasan dan keterlambatan.
aku menatap baling-baling kipas angin yang terus berputar tanpa
lelah. mengarahkan mata ke jendela, prohon kresen yang membawakan angin
segar dan teduh. langit sudah agak mendung. aku membolak-balikkan buku
Martin dengan agak malas. buku tebal ini, sedikit menyinggung karya seni
modern atau tokoh-tokoh seni secara langsung dan lebih menjelaskan
pandangan para filsuf mengenai keindahan atau estetika. rasa-rasanya,
aku saat ini lebih tertarik dengan biografinya Raden Salah.
hampir mendekati jam 16:00, acara dimulai. untung aku orang Indonesia!
diskusi atau bisa dibilang perbincangan kali ini, lebih memandang kesenian antara Bali dan Jogja dari Pameran Arus Bawah yang
kebanyakan berkaitan dengan Bali. di Bali, keindahan sangat penting
sehingga berkaitan erat antara ritual, agama, dan kesenian. tapi bagi
salah seorang yang bicara, menganggap orang Bali pun seringkali tak tahu
asal mula atau sejarah yang mereka buat: kue ritual dan lainnya.
Dewo, dengan lukisan Without Predator, secara filosofis sangat
erat dengan konsep ekologi dan gerakan lingkungan hari ini. sedikit
saja makhluk hidup di hilangkan dari lingkaran kehidupan. akan terjadi
masalah besar.setidaknya, dia salah satu yang cukup punya pemikiran di
antara yang lainnya dan cukup pandai dalam menjelaskan gagasan dan pikirannya.
Seni, Bali, dan Identitas Etnis. sekaranglah aku di sini.
dikelilingi banyak anak muda. suara menggema dari pembicara diiringi
layar yang bermunculan dengan karya-karya mereka. dengan bahasa
teraduk-aduk, membuat tawa cukup renyah menguar di sekeliling. bisa
dibilang proses kreatif mereka menarik. yang jelas, unsur seni abstrak
masih kuat menguasai anak-anak dari Bali atau yang pernah berkaitan
dengan Bali.
banyak dari mereka, sejak kecil, unsur seni sudah masuk di dalam
kehidupan. logat Bali mereka sangat kental. ada yang membuatku ingin
tertawa, seperti cerita Putu, yang memutuskan kuliah di ekonomi, dirasa
sulit, dan memutuskan ke Jogja, mengambil seni. seni adalah pelarian.
sebagian orang menganggap seni jalan termudah untuk mengekspresikan diri
dari pada bidang keilmuan lain yang kaku. dan yang paling menarik dari
semuanya adalah kebingungan dalam menyusun atau menggunakan bahasa untuk
mewakili perasaan mereka atau objek yang ingin dibicarakan. secara
garis besar, mereka semua anak muda gelisah yang mudah bosan dengan
teknik dan bentuk kesenian mereka.
kenapa orang Bali pindah ke Jogja? pertanyaan dari seorang perempuan
kecil, mungil, dan cukup cantik. sebuah pertanyaan yang menarik.
orang Bali baru lihat seni sesungguhnya, setelah mereka keluar dari
Bali. seni, lebih dekat dengan ritual dan dekat dengan kehidupan mereka.
ada yang tak betah karena pasar seni membuat keadaan semakin
membingungkan. mana seni yang sesungguhnya, yang syarat dengan wacana
atau sekedar jualan. dan banyak yang tertarik ke Jogja karena Jogja
lebih menarik. dan dianggap sebagai pusat kesenian sesungguhnya.
pertanyaanku, apakah pernah ada yang bosan dengan Jogja? anehnya
tidak ada! dan pertanyaan, atau penjelasan selalu terbatas dan dibatasi.
suatu hal yang menjengkelkan dan sangat terlihat jelas dunia
intelektualitas Jogja. aku bosan di kota ini dan mereka tidak bosan! oh,
mengagumkan!
pertanyaan lainnya, dari seorang perempuan berbaju hitam,
mempertanyakan apakah sejak kecil mereka dipaksa keluarga atau
bagaimana, dalam mengenal kesenian? jawaban mereka karena dipaksa
lingkungan. bukan keluarga. pengaruh lingkungan luar biasa kuat bagi
mereka. sejak kecil mereka sudah masuk dalam dunia itu. entah dalam
ritual, upacara, tari, atau lainnya. lingkungan memengaruhi arah
kesenian mereka dengan begitu kuatnya. ritual seolah menuntut mereka
untuk menguasai minimal satu kesenian, tarian, atau alat musik. dan
semua tergantung daerah, terkadang.
kenapa melukis? jawaban salah satunya, karena yang paling mudah dan menyerah juga pada akhirnya.
dalam hitung jari, aku sudah meninggalkan kota yang tak memuaskan
ini. entah kenapa, orang-orang sudah puas dengan kota yang tak menarik
ini kecuali hanya sekedar makan dan sedikit melupakan dunia.
dengan usia kalian yang masih muda, kemudian sudah dapat suatu ciri
khas dan mungkin posisi sekarang mereka atau teman-teman ini ada di
mana? guna evaluasi pribadi dan lainnya. sebuah pertanyaan dari seorang
perempuan dengan tubuh yang agak gemuk. jawaban mereka, masih tetap
bereksplorasi dan belum menemukan ciri khas. sangat susah bagi mereka
mencari ciri khas bagi mereka. mereka hanya ingin tetap sekedar berkarya
dan semacam itu. dan ada yang masih sangat labil. pernah ada yang ingin
mau masuk ketentaraan dan bolak-balik memikirkan itu. secara
keseluruhan masih tak terlalu memiliki ciri khas atau karakter. di
antara mereka, ada yang tak mau membatasi diri dengan ciri khas. bahkan
ada yang tak mau memikirkannya. dan tak terlalu tahu banyak mengenai
objek yang mereka pamerkan.
kualitas wacana, dan kedalaman filosifis di balik para seniman muda
sangatlah buruk. yah, itulah sebabnya aku bosan dengan kota ini. siapa
pun yang terjerumus di kota ini, tiba-tiba jadi tolol.
karya dulu baru konsep. seperti itulah yang akhirnya dikatakan
kurator mereka, Sita, seorang perempuan cantik yang sama gelisahnya
dengan mereka. dia menjelaskan kegelisan mereka dan kesinisan salah satu
dari mereka yang tak mau disebut seniman Bali. sejujurnya, semuanya
sudah kuduga dari awal. hanya saja pembicaraan terlalu dibatasi dan apa
yang kukatakan selalu sedikit ditangkap.
pertanyaan lagi, pameran barengan itu zona nyaman atau beban? jawaban
di antara mereka, ragu-ragu, susah jawab, dan kesulitan
mengekspresikannya. ada yang nyaman. tak berpikir soal itu. tak ada
beban dan santai saja. dan antara keduanya, nyaman dan beban. ketika
membawa nama Bali, ada yang berkata sangat asyik saja atau malah dapat
pengalaman baru. sebuah tantangan dan mencoba menjadi berbeda saat
berada di pameran kelompok. intinya, biasa saja walau coba ditutupi.
apa sih perspektif kesenian mengenai arus bawah? pertanyaan
lain dari teman laki-laki mereka. dijawab Sita, yang juga pernah
bertanya keseniman, apa itu Bali dan semacamnya kepada mereka. apakah
keseniman Bali itu? jawabannya sangat beragam. bahkan ada yang bingung,
Bali itunya di mana ya? dinamakan arus bawah, yaitu aliran air yang
mengalir di bawah permukaan. yang kedua, aliran bawah sadar atau
perspektif berbeda dari permukaan dan di kedalaman diri mereka.
mereka malah tak ingin identitas ke-Balian mereka terhadirkan di
dalam karya dan diri mereka. aku bilang, baiklah, kita generasi muda
itu, terpecah dan ingin menghapus identitas etnis dan kelokalan kita.
tentunya di dalam pikiran otakku ini.
pameran mereka, secara garis kasarnya karena dipaksa untuk pameran
bersama. ah, dan info, bakal banyak ada pameran orang-orang Bali dan
Seniman Bali bulan ini. aku sudah tak ada di sini. setengah enam,
diskusi ini diakhiri. dan seperti kebanyakan diskusi lainnya, sangat
tidak memuaskan. ah, selalu saja tak memuaskan. apa yang pernah
memuaskan di kota ini selain setengah-setengah?
pada akhirnya, aku memutuskan untuk melihat-lihat rak buku. oh Jogja, kenapa kau begitu membosankan!
aku menemukan sebuah buku dari Dewan Kesenian Jakarta, Seni Rupa Indonesia: dalam Kritik dan Esai.
cukup menarik. aku coba bertanya ke beberapa orang yang sedang asyik
berdiri dan mengobrol, beberapa di antaranya dari IVAA sendiri. ada yang
bilang tak begitu paham buku itu ada di pasaran atau tidak. dan yang
lainnya, aku bertanya perihal apakah ada buku karya seni atau sejarah
seni secara kronologis dari zaman dulu hingga modern sekarang ini,
jawabannya ragu-ragu. itu sudah membuktikan bahwa, wacana,
intelektualitas, kedalaman filosofis tak terlalu dianggap di kota ini.
dan, itu anehnya, terjadi di IVAA, yang membentuk dirinya sebagai tempat
arsip kesenian. oh tidak!
sebelum pergi dan
melangkahkan kaki keluar ruangan, aku dihadang oleh dua orang perempuan
yang menginginkanku besok datang kembali ke IVAA. ada diskusi lagi
menyoal identitas, seni, dan ke-Balian. satu di antaranya dari Kedai
Kebun. pada akhirnya mengobrol dan aku utarakan sudut pandangku mengenai
Jogja. mengenai Jogja yang bukan tempat intelektual. kenapa orang bisa
betah di kota ini. mengenai beragam diskusi yang membosankan. atau
keinginanku mengelilingi Jawa dan kota luar Jawa, untuk melihat para
pembaca buku dan pesepeda. kejujuranku menyangkut ranah seni di kota
ini, membuatnya sedikit mengkerut. sejujurnya nyaris siapa pun yang aku
ajak bicara soal topik semacam itu. para seniman tak terbiasa mendengar
kenyataan kota ini dan apa yang sebenarnya terjadi saat dilihat oleh
orang luar. dan apa yang terjadi di dalam kesenian itu sendiri, sering
dihindari untuk dibicarakan lebih lanjut.
kota ini
terlalu banyak menyimpan ketakutan, kepura-puraan, dan ketidakberanian
menyelami diri sendiri secara mendalam. pada akhirnya, seni dan budaya,
yang paling menjamur dan dibangga-banggakan pun, menjadi hal yang sangat
membosankan dan terkesan dangkal. siapa pun yang memiliki cukup banya
uang dan tahu apa yang aku maksud, pasti akan segera meninggalkan kota
ini atau terpaksa hidup di kota ini karena sudah tak ada lagi kota yang
bisa lebih menarik dari kota ini. ah, pada akhirnya, orang-orang pun
sekedar terpaksa untuk hidup di kota ini atau tak memikirkan banyak hal
sehingga mereka cukup betah dan nyaman.
dan seni, tak lagi cukup menarik kecuali hanya sekedar penghilang rasa jenuh yang juga tak akan hilang untuk setelahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)






























