Kamis, 14 April 2016

JOGJA; SUASANA BARU DAN SUASANA LAMA











kota berubah dengan cepat.
diperbaiki dalam waktu yang sangat cepat dan rusak dalam kadar yang sama cepatnya. dan bagi para pejalanan kaki, atau mereka yang sangat suka mengamati, entah itu para penulis dan peneliti, kota selalu sukar untuk ditangkap. itulah hal yang paling menjengkelkan dari sebuah kota untuk orang-orang tertentu. aku juga jengkel dibuatnya.

beberapa waktu yang lalu, ketika aku berada di suatu tempat, melihat sesuatu dan menuliskannya, mungkin hari ini suatu tempat itu sudah berubah total dan tak lagi sama. hal semacam itu, membuat tulisan yang lalu nampak usang seketika. walau ada kadar tertentu dari rekaman akan masa lalu, tapi ada yang tak lagi ditangkap hari ini jika ingin disandingkan dengan masa depan atau yang sekarang. begitu juga dengan Jogja yang sedikit berubah.



hari ini, 14 april, aku ke perpustakaan Grahatama pustaka, di dekat gedung JEC, dan menikmati membaca di sana. petugas perpustakaan yang otaknya bukan pustakawan. selalu begitu. di Indonesia, yang namanya pustakawan murni dan cukup tahu buku itu langka. Negara ini benar-benar sedang krisis pustakawan. dan krisis perpustakaan yang bagus dengan isi yang lumayan.

perpustakaan yang, aku katakan, cukup layak tapi tak terlalu bagus. karena semuanya seolah serba terburu-buru. dari cat yang tak sempurna. internet yang ala kadarnya. stop kontak yang rusak. toilet yang gagang pintungnya menghilang entah dimana. tempat duduk yang berderit-derit dan beberapa sudah tak nyaman. penutup jendela kaca yang kabur entah kemana. hujan yang tumpah dan merembes di beberapa tempat. lahan parkir yang berdebu dan berkerikil. tangga yang ubinnya mengelupas. hingga loker yang kadang susahnya minta ampun untuk dibuka. dan, yah, masih banyak yang lainnya. kebaruan yang dipaksakan dan begitulah hasilnya.

walaupun begitu, ada banyak sofa yang cukup nyaman dan ruangan yang bersih dan enak untuk membaca. buku-buku yang cukup layak walau tak terlalu lengkap. dan yang sangat disayangkan, kenapa pihak perpustakaan atau pemerintah selalu memperkerjakan seorang yang otaknya nyaris tak mengenal buku sama sekali? sebegitu langka dan nyaris tak adakah para perpustakawan dan perpustakawati yang sebenarnya? yang bukan abal-abal? sial, sayang, aku juga memiliki teman, yang dulunya mengambil jurusan perpustakaan dan kini dia sedang mengelilingi Indonesia, dan apa hasilnya? tulisannya biasa-biasa saja. nyaris sisa kepustakawannya hampir tak membekas.

aku pun mencari tempat duduk. bersandar di onggokan hijau yang menggelembung dan cukup nyaman untuk punggung. mengeluarkan buku dari tas, Catatan Pinggir 8 dari Goenawan Mohamad dan bukunya sendiri. lalu mulailah aku membaca dan menemukan kesalahan dalam buku Goenawan di halaman 66, Grand Canyon. Goenawan dalam tulisan itu mengutip ilmuwan yang mengatakan bahwa bumi berusia 4.5 triliun tahun. aku tak tahu ini kesalahan cetak atau Goenawan memang lupa? atau mungkin ini Ilmuwan lainnya dengan metode pengukuran yang berbeda? yah,setidaknya, secara umum, umur bumi itu antara 4.5-4.6 miliar tahun. tidak sampai triliun. bahkan semesta ini hanya berusia sekitar 13.75 miliar tahun saja. entalah, mungkin Goenawan sudah tua. atau perlu mempertebal kaca mata. tapi, hari ini, aku cukup menikmati tulisannya. yah, hanya cukup. karena bagiku, lebih menggigit Catatan Pinggir yang dulu-dulu.



beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 9 april, aku memutuskan meninggalkan motorku di perpustakaan kota dan menuju halte Trans Jogja. suasana buruk membawaku ingin menikmati membaca di dalam bus dan melihat dalam sudut pandang yang berbeda. sudah sering aku membaca di dalam bus. dan aku benar-benar menikmatinya. tapi kali ini benar-benar menyebalkan. dulu juga menyebalkan tapi sekarang lebih menyebalkan lagi.

bayangkanlah, dari jalan Cik Di Tiro, dekat Gramedia Sudirman hingga ujung Gejayan atau Jalan Affandi hingga ring road utara atau masuk ke Condong Catur, membutuhkan waktu hampir satu jam! baru saja naik bus, macet menghadang di sekitar bundaran UGM. lalu macet lagi ketika mendekati perempatan jalan Colombo dan akhirnya bus seolah tak bergeming di jalan Gejayan. sampai di Condong Catur benar-benar sudah membuat siapapun yang mengejar waktu menjadi gila. jika transportasi umum semacam ini, mau bagaimana orang meninggalkan kendaraan pribadinya yang memacetkan jalanan Jogja?

akhirnya, aku memutuskan untuk terus menaiki bus ini tanpa harus pindah lebih dulu. dan dari jalan Cik Di Tiro sampai di halte bandara Adi Sutjipto, senja turun dan suara adzan hampir berkumandang. hampir dua jam perjalanan dengan jarak sedekat itu! benar-benar gila! seandainya aku dari jalan Sudirman ingin ke Toga Mas di jalan Affandi saja, membutuhkan waktu satu jam, itu benar-benar pemborosan waktu, tubuh, dan segalanya. itulah yang membuat orang-orang lebih suka dengan motor dan mobilnya. tapi, pemborosan waktu itu akan sangat nikmat jika kita sedang malas-malasan. menghabiskan waktu untuk melihat sebuah kota yang berbeda sudut pandang atau seperti diriku, membaca sebuah buku dan menghilangkan penat atau kebosanan yang menumpuk.

dan entah kenapa, ada perasaan yang menggebu ketika melihat trotoar jalan Affandi. kelak aku akan berjalan kaki di trotoar itu hingga ke ujungnya. ketika sedang berada di dalam bus, dunia seolah berubah. Jogja tak terlalu horor. seolah-olah sampah dan yang lainnya lenyap. dan bangunan-bangunan agak cukup layak untuk dipandang tapi tak benar-benar layak. dalam artian banyak, bus membawa kita pada ilusi atau sudut pandang baru. sama halnya dengan mobil atau motor. dan ketika menaiki bus sambil membaca, kenyataan yang aku rasakan tak berubah; macet. entah mau naik bus, delman, mobil, atau sepeda, macet akan menghadang siapa saja.

saat bus berhenti di lampu merah ring road utara, di kaca jendela sebelah kanan, aku melihat dua bapak yang umurnya cukup tua, mengayuh sepedanya dengan tertatih-tatih di tengah himpitan motor dan mobil yang membeludak. pertanyaannya, kapan sepeda akan punah di kota ini? oh bukan, sepeda tak akan punah. kapan pesepeda yang sebenarnya punah dari kota ini?

aku membaca The Revenant karya Michael Punke. buku bagus. tapi lebih bagus film yang disutradarai oleh Alejandro G Inarritu. dalam artian banyak, buku dan film cukup berbeda. film The Revenant hanya mengambil beberapa bab awal dalam buku karya Punke. tapi, aku menyukai keduanya. sebuah buku dan film yang layak aku puji dari sekian banyak hal yang membosankan. ah, sejujurnya, aku kesusahan untuk memuji sebuah buku atau pun film. dan jalanan semakin nampak gelap dan lampu-lampu pun berkelebatan di sana-sini.

Jogja Berhati Nyaman? huhf, jengkel itu iya.

setelah menunggu lama di halte Adi Sutjipto dan menahan keinginan kencing yang mengerikan. akhirnya bus ke arah perpustakaan Grahatama pun tiba. aku pun langsung masuk. cukup lancarThe Revenant walau agak tersendat dan tibalah aku di perpustakaan yang sudah cukup sepi. entah sudah berapa kali aku ke perpustakaan itu. dan inilah kali kedua di waktu malam aku sampai di sini.

aku menikmati waktu di perpustakaan lalu muncullah pemikiran untuk berjalan kaki dari ujung selatan ke ujung utara Malioboro. aku pun keluar dari perpus menuju jalan Janti, memasuki halte dan menunggu dengan agak bosan. benar-benar kedatangan bus yang lama. jadi, jangan pernah menaiki bus Trans Jogja jika lagi terburu-buru. selain jalan macet, lama, bahkan kadang seolah bagaikan tak datang. seolah sedang menunggu hantu.

kota ini tak memiliki transportasi publik yang layak. bahkan susah sekali mencarinya. ada yang baru, Gojek, tapi mahal. masih ada becak. tapi apa iya, becak mau mengantarkan kita dari Malioboro ke Prambanan? sedangkan taksi? yah, bus saja susah gerak apalagi taksi. kecuali di saat jalan cukup sepi, itulah pilihan yang rasional. tapi ketika jalanan memasuki kondisi terpadatnya, itu keputusan sinting.

dan sampailah aku di halte Taman Pintar. lalu berjalan kaki sebentar menuju 0 km. suasana sangat ramai. baiklah, apa ada pembaca buku? yap, oh ternyata, masih tak ada. dan aku lihat berbagai macam orang sibuk berfoto ria. burung gagak yang harusnya di alam liar dan dilindungi, merelakan waktunya untuk membiayai kehidupan tuannya. begitu juga reptil dan ular, dari Sanca Bodo biasa hingga Sanca Bodo Albino, yang seharusnya ada di hutan. sejujurnya, pencita binatang itu musuh terbesar binatang. entah sudah berapa banyak yang mati oleh mereka yang mengaku mencintai binatang?

aku pun duduk di besi pengatur lalu lintas pejalan kaki. lebih tepatnya untuk difabel. membuka buku. membaca. dan seolah, akulah satu-satunya yang membaca di situ di sebuah kota yang terdiri dari banyak orang terpelajar. sebuah ironi. benar benar ironi.

lalu aku pun berjalan menuju utara dalam lajur pedestrian yang sesak tapi mulai menyenangkan dan terasa lebih luas dan lega. motor-motor sudah dienyahkan. para petugas berjaga-jaga di sekitar jalan ini. dan sayangnya, dengan lalu lintas yang sangat padat dan meresahkan pejalan kaki. Jogja masih belum memiliki jembatan penyeberangan. sebuah keanehan bagi kota yang padat dengan turis dan pelajar. dan Jogja juga belum memiliki banyak tong dan tempat sampah. masih banyak sampah di sana-sini. seperti biasa. susah untuk dihilangkan. setidaknya aku mulai menyukai pedestrian sisi timur Malioboro. saat berjalan kaki di malam hari, suasana begitu berbeda. setidaknya, aku suka. tak terlampau buruk seperti yang kemarin ketika segenap parkir seolah bagaikan bom dan ranjau saja.

akhirnya, aku sampai di ujung jalan dan melihat ada kursi-kursi dari batu dan kayu. ah, keberadaan yang sungguh tepat. tak perlu dijelaskan, aku pun duduk berlama-lama di salah satu kursi, dan membaca. mengamati orang-orang yang lewat dan suasana baru yang cukup melegakan. di sini, juga tak ada pembaca buku. tapi ada tempat parkir sepeda yang diisi oleh dua sepeda. memang tak sebanding dengan kendaraan bermesin yang ada. tapi tak apalah. sedikit kemajuan. hanya sedikit. tapi lumayan dan harus ditingkatkan lagi.

aku pun memutuskan untuk berjalan lagi. melewati rel kereta. melewati jalan Margo Utomo dan sampailah aku di Tugu Jogja. cukup ramai dan aku ingatkan sekali lagi, tetap tak ada yang memegang buku selain aku di situ. aku cukup berlama-lama di situ. menghirup nafas sejenak. melihat lalu lalang orang. Tionghoa. Jawa. warga Asing dan berbagai macam ras dan suku bercampur dari seluruh Indonesia di sini. seperti biasa, mereka berfoto ria. sesekali sepeda melintas. yah, hanya sesekali. jangan pernah berharap lebih soal pengayuh sepeda di jalanan kota ini. dan seorang bapak penjual minuman yang nampak lesu dan lelah. aku pun kembali berjalan.

melewati jalan Sudirman dan sampailah aku di perpustakaan kota. benar-benar melelahkan tapi menyenangkan. seandainya aku tak sering sakit-sakitan dan tempatku terlalu jauh dari pusat kota. setiap hari mungkin aku akan lebih memilih berjalan kaki atau menggunakan sepeda. dalam artian banyak, aku adalah pejalan kaki. lebih sehat dan mengurangi kemacetan. eh tunggu dulu. lebih sehat? hal semacam itu perlu diragukan. bagaimana mau sehat kalau berjalan kaki yang dihirup adalah asap knalpot? yah, setidaknya tidak benar-benar langsung mati.

hari berikutnya, 10 april, aku tinggalkan motorku kembali di perpustakaan kota dan mulai berjalanlah aku di jalan Suroto menuju utara ke arah stadiun Kridisono. melewati jalan Yos Sudarso yang selalu ramai dan padat. melewati deretan mobil dan motor yang juga ramai diparkir di sebelah dan depan SMA 3 karena sedang sibuk mengenyangkan perutnya. lalu memasuki jalan Faridan Muridan Noto yang berisi rumah-rumah bagus dan indah. cukup rapi dan enak dipandang walau tak bisa bebas dari sampah dan memasuki jalan Ngadikan, berbelok ke arah utara, sampai di jalan Abu Bakar Ali, berbelok ke barat, berjalan, berjalan, dan suasana ramai orang-orang yang sedang beribadah di Gereja Katolik St Antonius. membuat macet. kalau hanya sekedar orangnya, bagiku  bukan masalah. tapi kebanyakan jemaat gereja, lebih suka membawa mobil dan penuhlah jalan yang sudah sempit dan pengendara kendaraan bermesinnya semakin banyak. macetlah keadaan. apa Tuhan pernah menyuruh jemaat gereja untuk menaiki mobil dari pada sepeda?

yah, aku pun berjalan. melewati mobil-mobil yang diparkir. sangat banyak. melewati polisi lalu lintas. dan jengkel ketika trotoar hilang oleh pedagang helm. benar-benar jengkel. aku nyaris tak tahu harus lewat kemana. trotoar hilang dan seolah bagai jalan buntu. sementara jalan raya berisikan segala jenis kendaraan yang diam tak bergerak dan sesekali melihatkan tingkah tak sabarnya. menjadi pejalan kaki di kota ini benar-benar butuh kesabaran tingkat tinggi. kota yang nyaris tak mendukung pejalan kaki.

setelah bisa melewati kemacetan. sial, pejalan kaki pun bisa terjebak macet di kota ini. itu sungguh mengagumkan. kota yang tak ada duanya. semoga saja kelak pesawat terbang tak mengalami kemacetan juga. atau ambulan pun pada akhirnya menyerah untuk menolong orang yang butuh pertolongan. di kota semacam ini, seorang yang sedang kritis pasti akan lebih dulu mati di jalan sebelum sampai rumah sakit. berjalan kaki saja macet. apalagi ambulan?

tap tap tap. berjalan. melewati jembatan. sampah di sana dan sampah di sini. memandang lahan parkir baru yang menjulang tinggi lalu sampailah di Malioboro. menyeberang. niatnya sih ingin menyeberang ke arah pedestrian. hati-hati. ingin menyeberang. belum menyeberang. masih ingin menyeberang. dan belum juga menyeberang. karena motor dan mobil di kota ini susah untuk mengalah. untunglah, aku di selamatkan oleh banyak orang yang datang dan akhirnya ikutlah aku dalam arus penyeberangan paksa yang penuh dengan heroisme tingkat atas. karena menyeberang di jalanan Jogja itu tak hanya menyebalkan namun juga mempertaruhkan kehidupan.

aku pun duduk di tempat kemarin. menikmati keadaan. membaca buku Orang Indonesia dan Orang Prancis karya Bernard Dorleans. menikmati pemandangan, perempuan-perempuan muda yang cantik dan mulus yang lewat. memang, tempat ini, di ujung utara Malioboro, suatu tempat yang menyenangkan untuk memanjakan mata. lalu lalang orang-orang yang ada bagai tak habis-habis. terlebih jika musim liburan semacam ini.

aku pun menikmati waktu berlama-lama. menghabiskan banyak halaman. dan di sebelahku, ada sekelompok muda-mudi yang sibuk memegangi dan bermain dengan ular Sanca Bodo. ular ini salah satu yang dilindungi oleh undang-undang. tapi sangat bisa dan mudah untuk diambil alih menjadikannya milik pribadi. dan aku tak bisa berpikir lebih jauh, apakah para pemeliknya lebih suka reptil mereka itu mati di tangan mereka atau ular-ular itu lebih baik berada di alam liar? aku kira, banyak pencinta binatang tak akan senang jika binatang kesayangan mereka lepas atau menghirup kebebasan. sebuah kontradiksi aneh.

aku pun terus membaca. ada satu sepeda terparkir di parkiran untuk sepeda. sementra ratusan dan mungkin ribuan kendaraan bermesin lewat. dan beberapa kali, entah orang tua, perempuan muda dari yang jelek hingga tercantik, kaget dan lari ketika tiba-tiba melihat ular. tak kecuali banyak wisatan asing. dan aku pun terus membaca. suasana baru yang sungguh nyaman. surga kecil baru untukku di tengah kota yang semakin berantakan dan tak jelas ini.

aku pun mulai berdiri dari tempat dudukku. aku rasa, sebentar lagi hujan. mulailah aku berjalan. melewati jalan yang hampir sama. dan ketika sampai di jalan Abu Bakar Ali, aku memutuskan untuk berjalan ke jalan  I Dewa Nyoman Oka, melewati Gereja dan seorang perempuan muda yang sedang menunggu sesuatu dan beberapa pemuda pemudi Tionghoa yang sibuk berfoto. suasana begitu damai dan sejuk. aku menyukai berjalan di malam hari di sekitar kota baru ini. lalu berbelok ke timur melewati jalan Sunaryo trus menuju jalan Supadi. banyak bangunan kuno di sekitar sini. bergaya kolonial. cukup bersih. yah, sebenarnya masih banyak sampah tergeletak di sana-sini dan tempat sampah yang menumpuk tak jelas. tapi aku sungguh suka suasananya. seandainya bebas dari sampah, aku akan sangat senang dengan suasana kota baru yang ada.

dan akhirnya, sampailah aku di perpustakaan kota. yah, berjalan kaki itu menyenangkan. walau kota ini masih tak terlalu menyenangkan. setidaknya, ada banyak hal yang baru.

kota baru pun, tak benar-benar baru. dan sampah, apakah orang elite di kota ini pun sangat suka dengan sampah? aku tak tahu. setidaknya mereka tak akan mau untuk memakannya.


Senin, 04 April 2016

KOTA SEORANG FILSUF;UTOPIA YANG TAK MUNGKIN
















kita merupakan makhluk pencari makna dan, berbeda dengan hewan-hewan, sangat mudah jatuh putus asa jika kita tidak bisa menemukan nilai dan arti penting hidup kita.
Karen Armstrong
The Great Transformation

Aku tidah bahagia. Aku hidup seperti pengembara, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, merasa kesepian dan tersesat. Harapanku selalu, di tempat yang yang baru, akhirnya akan kutemukan kebahagiaan. Namun tiap kali aku kecewa... Aku merasa tidak hidup, hanya sekedar ada. aku mencari nafkah, memenuhi segala kewajiban, namun tetap saja hidupku telah berhenti bertahun-tahun yang lalu. Kelihatannya tidak ada kemajuan.
Sabine Kuegler
Jungle Child



Sejak awal, para filsuf adalah makluk yang hampir tak pernah diinginkan hidup di bumi ini. Semenjak Socrates akhirnya mati karena kebebasan berpikirnya. Hingga Nietzsche yang akhirnya mengembara dengan kesakitan dan kesepian dari pikirannya yang bagaikan salah tempat,yang akhirnya mengambil nyawanya dan membuat ia gila. Dan Harapan Plato berakhir di Lee Kuan Yew.

Pada dasarnya, aku tak menginginkan ideal Plato yang seolah terwujud dengan lahirnya Lee Kuan Yew di dunia modern. Tapi keberadaan Lee, sudah menjadi bukti bagi diriku sendiri, bahwa seorang filsuf akan selalu menjadi minoritas di mana pun ia berada. Terlebih di dunia modern sekarang ini. Apakah aku sudah layak untuk menggorok diri sekarang?

Tunggu.. mungkin masih ada kemungkinan yang lain yang perlu dicoba. Baiklah. Masalahnya, sepertinya aku sudah mencobanya. Setelah mengelilingi Jawa, apakah aku harus mengelilingi berbagai macam kota di dunia untuk mencari tempat yang paling layak aku tinggali? Mungkin, aku akan sedikit lebih berbahagia. Atau malah, aku akan langsung bunuh diri? Semuanya mungkin. Tapi entah kenapa, aku sudah sangat pesimis sejak awal. Apakah aku adalah salah satu orang yang tak bahagia di dunia ini, karena memiliki pikiran yang salah tempat? Apakah ternyata, masih banyak orang di luar sana, yang memiliki masalah serius seperti yang aku miliki yang merasa sangat tertekan di sebuah masyarakat, negara, dan kebudayaan yang tak menganjurkan orang untuk berpikir bebas, membaca buku dan mencari ilmu pengetahuan? Dan terpenjara di sebuah masyarakat yang orangnya susah untuk diajak bicara akan banyak hal? Hingga akhirnya tak mampu mengembangkan potensi, merasa tak didengar, dan semua yang dipikirkan dianggap asing, aneh, dan tak dimengerti oleh orang di sekitarnya. Aku adalah jenis orang semacam itu. Itulah awal dan titik di mana aku sangat tidak bahagia. Karena tak ada ruang yang bisa memenuhi keinginan kepalaku di berbagai kota di negara ini.

Selama ini, tak ada seorang pun yang bisa aku ajak bicara dengan terbuka dan bijak dari mulai Darwinisme, Lubang Hitam, Zarathustra, Ekoterisme, resusitasi, hingga kenapa Tuhan rela menjadi bodoh, mengenaskan dan melakukan bunuh diri dalam bentuk Yesus.

Apakah aku harus ke Yunani Kuno yang pada dasarnya dihuni oleh para politisi dan kaum militernya dari pada para filsuf? Ataukah aku harus pergi ke Perancis menggunakan mesin waktu dan berada di masa ketika era pencerahan dimulai hingga awal abad ke-20, yang sepertinya tak jauh beda dengan kondisi di Yunani kuno. Karya-karya Voltaire dicekal dan dibakar. Buku Denis Diderot pun tak lepas dari lalapan api. Buah pikir Mostesquieau pun dilarang terbit. Tulisan milik Jean-Jacques Rousseau juga dibakar dan ia harus lari ke luar negeri. Lalu apa jadinya jika negara ini akan dikuasai oleh orang-orang berpikiran sempit semacam kaum sosialis atau Marxis? Hanya menengok awal revolusi Perancis yang membakar berbagai macam buku dan perpustakaan, sudah cukup untuk membuat aku merasa bahwa negara ini untuk kedepannya semakin mengerikan bagi diriku. Lalu apa aku harus lari ke Jerman yang telah melahirkan banyak tokoh besar, filsuf, kaum intelektual dan ilmuwan terkemuka dalam sejarah? Pada akhirnya, dari mulai Nietzsche yang mati mengenaskan hingga Einstein, Adorno, Sigmund Freud, Hannah Arendt dan lainnya melarikan diri ketika Nazi berkuasa, atau aku harus memilih dan mengamini keputusan Heidegger? Kembali ke masa lalu pun tak akan mungkin.

Apakah Jerman modern, yang menjadi tempat suaka, para imigran dan surga para pelarian akan lebih cocok bagiku? Aku rasa tidak. Bahkan ketika Perancis modern melahirkan sosok-sosok semacam Albert Camus, Jean Paul Satre, Foucault, Lyotard hingga Derrida. Mereka semua adalah minoritas. Kehidupan dan akhir riwayat mereka kebanyakan tragis. Dan para teroris pun tak kebal dengan kesekuleran negara itu. Ataukah aku harus lari ke Inggris, yang Richard Dawkins dan banyak lainnya, dikutuki oleh mereka yang percaya akan keberadaan Tuhan yang selalu benar? Ataukah aku harus mengepak tasku, sayang aku belum punya koper, dan pergi ke Amerika yang mana Noam Chomsky pun bagaikan orang asing yang tersesat atau Edward Said yang matanya sendu dan sangat kesepian? Sementara itu para fundamentalis agama semakin tumbuh subur di samping Ku Klux Klan yang bisa menghabisi siapa saja, terlebih kulit berwarna dengan otak aneh semacam diriku ini?

Ataukah aku harus bergabung dengan para anarkis yang tersebar di berbagai negara Barat ataukah mencoba untuk mendaftarkan diri bergabung menjadi warga negara dunia kecil dan baru berdiri semacam Enclava?

Aku berada dalam keadaan seperti yang diungkapkan Socrates dalam Phaedo, “rasanya gila jika mencoba mempertahankan hidup jika tidak ada lagi yang bisa tawarkan.” Dan disitulah aku berada. Mengambang. Tak jelas. Merasa terpuruk. Bosan. Walau segala macam hal sudah aku coba lakukan.

Apa yang sudah aku lakukan? Baiklah. Aku sudah masuk ke berbagai macam tempat. Aku tak tahu, berbagai macam tempat itu yang salah atau diriku sendiri yang salah. Dari mulai tempat yang berisikan orang-orang kiri, penganut agama fanatik, mereka yang menyebut dirinya demokrat dan liberal, dan mereka yang menganganggap dirinya nasionalis, pencinta lingkungan hidup, para feminis dan mereka yang ingin kembali ke tradisi dan budaya lokal. Aku sudah hidup di desa. Aku juga hidup di kota. Adakalnya pergi ke pantai, alam, hingga memasuki berbagai macam tempat, dari kota ke kota, dari ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya. Banyak forum, seminar, dan komunitas. Tak ada yang cocok buatku. Dan aku selalu bagaikan orang asing dengan kepala dan isi pikiranku. Mengingat, presentase minat baca masyarakat Indonesia terburuk di dunia dan kawasan Asia Tenggara, dengan 0,049 persen pembaca bukunya, berada di Jogja dan tertinggi dari seluruh penduduk dan kota di Indonesia yang membaca buku, yang tak ada satu buku dalam setahun yang dibaca. Ini negara yang benar-benar membuat aku sekarat secara intelektual dan kejiwaan.

Dan jika aku berada di kalangan para intelektual, sastrawan, seniman atau aktivis, mereka terjebak dalam ideologi mereka masing-masing. Berkubu-kubu. Dan lebih sering membaca buku yang lebih mengarah pada dunia atau komunitas yang mereka ikuti dan menjadi bagian di dalamnya. Melenceng sedikit dari dunia mereka, kebanyakan sudah tak tahu lagi akan berkata apa. Dan berbagai macam ruang diskusi, seminar, dan forum, membuat aku benar-benar depresi dan semakin malas. Apakah masih ada alasan aku untuk hidup?

Pergi ke tempat diskusi, peluncuran buku, seminar, nyaris tak ada yang bertanya. Selalu begitu. Ini kenyataan umum. Bagaimana aku tidak gila hidup di sebuah negara semacam Indonesia ini? Dan jika ada yang bertanya, itu pertanyaan yang nyaris tak penting, terlalu biasa, dan sedikit yang berisi. Seandainya cukup berisi, gantian yang menjawab dan menjadi narasumbernya memberi jawaban yang seadanya, terkesan mengindar dan kadang benar-benar tolol. Apakah aku hidup di dunia yang salah?

Sementara itu, banyak anak muda yang otaknya dicuci oleh Marxsime, Komunisme, dan Sosialisme, semakin bertambah setiap harinya di negara ini.Apakah ini tidak mengkhawatirkan jika hampir semua buku yang berbicara mengenainya habis terjual? Anak-anak muda, yang seperti dikatakan oleh Fredrich A. Hayek, tak tahu akan konsekuensi yang mereka pegang dan ingin wujudkan. Jadi, hari ini, aku sedang dikelilingi anak muda, yang mengidamkan revolusi dan cita-cita komunisme terwujud, dan akan bersiap-siap memenggal, memenjarakan, dan menghabisi siapa saja yang akan berseberangan dalam hal berpikir dan bertindak. Lalu kebebasan berpendapat akan jadi masa lalu. Di dalam negara demokrasi semu hari ini saja, aku telah melihat buku Lima Kota karangan Douglas Wilson dimusnahkan dan dibakar habis dari peredaran. Dan orang yang aku kenal, bukunya ditarik dan pengarangnya dikecam habis-habisan oleh beberapa orang dan komunitas masyarakat yang tak suka. Apalagi jika aku hidup dalam negara sosialis-fasis? Anak-anak muda yang tanpa mereka sadari mengembangkan mental diktator dan para penjagal yang sangat potensial. Sial, aku dikelilingi oleh berbagai macam anak muda yang kemungkinan besar akan mudah mengayunkan parangnya untuk menggorok leherku. Atau menembuskan pelurunya ke tempurung tengkorak depresiku.

Sementara itu, para filsufnya hanya sekedar mengulang dan terus mengulang karya dan pemikiran orang lain. Masyarakatnya sudah merasan cukup puas dan bergembira dengan novel-novel Ayu Utami, Eka Kurniawan, Tere Liye, Dee, Asma Nadia, Habbiburahman, dan Andrea Hirata. Coba bayangkanlah, seberapa jauh kebanyakan otak dan daya berpikir, orang-orang yang sudah paus dengan membaca karya-karya itu?

Apa tak ada yang ingin mengganti posisinya Darwin, Freud, Nietzsche, hingga Eisntein atau Stephen Hawking? Apakah hanya sekedar karya-karya semacam itu, masyarakat ini sudah bergembira dan merasa puas? Entahlah. Mungkin aku salah. Mungkin juga aku terlahir salah sejak awal.

Sial, sebenarnya, apa aku ini lahir di negara yang salah. Lingkungan yang salah. Masyarakat yang salah. Keluarga yang salah. Atau Tuhan yang salah?

Eric Weiner benar, kebahagian itu berkaitan erat dengan geografi berserta isi di dalamnya. Dan aku, di tanah ini, bahkan di Jogja, sebagai tempat yang paling baik dari seluruh kota-kota lainnya, tak membuat aku senang. Bahagia. Dan merasa ada atau hidup. Apa yang salah denganku?

Albert Camus pernah berkata, dalam Pemberontak, “adalah kewajiban kita-dalam hal apa saja-untuk memberikan suatu jawaban yang pasti pada pertanyaan yang muncul pada zaman ini. kenapa? Karena kita sudah terlanjur diletakkan di tempat yang memojokkan.” Dan akulah orang yang terpojok itu. Dengan otak yang penuh pertanyaan dan kesimpulan-kesimpulan. Dan tak ada seorang pun yang mampu menjawabnya. Maka, seperti sekarang inilah aku. Bosan selama bertahun-tahun. Frustasi. Dan seandainya aku mati hari ini, aku tak akan menyesal. Sejak awal, aku memang lahir di dunia yang salah.

Ataukah pada akhirnya aku akan memilih seperti apa yang Camus, sekali lagi katakan, “Tuhan itu penipu: seluruh dunia-termasuk duniaku sendiri-adalah penuh dengan kepalsuan; oleh sebab itu, aku memilih untuk mati.” Yah, sudah berkali-kali aku menginginkan hal itu. Tapi pikiran tak warasku akhirnya memilih untuk menuliskan sebuah buku, sisi lain dari diriku, Mengembara di Tanah Asing. Dan itu benar-benar sangat menyakitkan, melelahkan, di saat aku sudah bosan terhadap apa pun. Apakah aku harus berhenti dan berkata cukup mulai sekarang?

Nietzsche pernah berkata, “musuh-musuhku adalah mereka yang ingin merusak tanpa menciptakan diri sendiri.” Baiklah. Ini sangat dilematis. Orang yang aku kagumi tidak mengijinkan aku untuk mati dan merusak diri sendiri tanpa mencipta lebih dulu. Dan, sejujurnya, aku sudah semakin malas untuk sekedar keluar dari kamar dan membuka mata. Satu-satunya cara adalah menyelesaikan karya ini, lalu mati dengan tenang. Apakah aku bisa mati dengan tenang?

Banyak berpikir tak hanya membuat gila tapi benar-benar mengarahkan pada kematian. Tentunya, di saat kau hidup di suatu tempat dan lingkungan yang salah. Jika kau merasa seperti itu, kita berdua memiliki kemiripan. Kita adalah orang-orang yang tidak berbahagia di negara ini karena masalah otak kita yang terlalu banyak berpikir dan agak aneh dari pada otak kebanyakan orang. Aku menyebut ini sebagai gangguan intelektual. Sayangya, negara ini tak memberikan jaminan terhadap gangguan jenis ini. Dan asuransi jiwa pun aku rasa tidak melibatkan salah satu masalah yang kita alami. Jalan buntu. Kita sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menunggu malaikat maut menghadiahi kita ciuman mesra atau masing-masing dari kita berkata, baiklah, ini sudah cukup.

Sialnya, masyarakat tak akan kesepian jika aku mati. Tidakkah ini akan menjadi cara mati yang paling mengenaskan dan mengerikan? Apakah ada cara mati yang lebih baik? Kembali ke Niezsche; mencipta. Menghasilkan karya. Lalu mati.

Tapi perduli apa dengan masyarakat? Perduli apa dengan karya, ciptaan dan sebagainya? Apakah itu penting bagi orang yang sudah mati?

Ini sungguh sulit. Benar-benar sulit. Yang aku butuhkan hanya aktualisasi diri seperti yang Abraham Maslow katakan untuk individu yang sehat, berkembang dengan baik dan seimbang. Tapi, tak ada untuk ruang semacam itu bagiku. Banyak orang baik di negara ini. tapi tak ada kota dan ruang yang baik untuk aku tinggali.

Aku hanya menginginkan kota yang rimbun oleh pepohonan. Segar. Memiliki akses ke perpustakaan lengkap. Dengan orang-orang yang bisa bebas diajak bicara dengan apapun dan tentunya cukup paham dengan berbagai macam tema dan isu. Jalanan terbebas dari kemacetan. Orang-orang yang bisa berjalan kaki dengan santai dan ramah. Sepeda ada di mana-mana. Dan tentunya, seorang kekasih yang menemani. Untuk yang itu, aku sudah punya. Sementara yang lainnya, sama sekali jauh dari kenyataan. Seolah-olah aku sedang memikirkan sebuah utopia yang tak mungkin. Kota untuk seorang filsuf? Mimpi kadaluarsa.

Apakah aku harus pergi ke Belanda? Sayangnya, aku tak bisa bahasa Belanda. Apakah aku harus mulai belajar dari sekarang? Aku rasa tak mungkin. Pintu tertutup. Kemungkinan sudah hilang. Apakah boleh aku bunuh diri sekarang?

Tunggu dulu. Aku belum selesai menulis. Masih ada beberapa kota yang harus aku masuki. Dan buku The Revenant karya Michael Punke pun baru mulai aku baca. Tapi setelah itu, bolehkah aku mati dengan tenang?

Minggu, 03 April 2016

TASIKMALAYA: NERAKA DARI TIMUR














Begitu banyak orang beruntung, 
yang gelisah di tengah gemilang kekayaannya.
Alexis de Tocqueville



Kota adalah rumah bagi segala macam kebobrokan. Kegilaan. Dan tempat tumbuh suburnya depresi hingga bunuh diri. Dan sayangnya, penemuan, dan juga kemajuan. Tapi di Indonesia, yang nama kota selalu membuat frustasi kalau sudah berada di jalanan. Benar-benar pengalaman yang seringkali bagaikan mimpi buruk.

Angkot yang aku naiki entah kapan akan memiliki niat untuk berjalan. Dimana-mana, yang namanya angkutan kota, selalu berhenti, berhenti dan berhenti. Jarak yang ditempuh tak kurang dari sepuluh menit bisa mencapai setengah jam bahkan berjam-jam. Jika menyangkut kesabaran, orang Indonesia termasuk berada di peringkat nominasi peraih penghargaan salah satu warga tersabar di dunia.

Akhirnya, angkot pun bergerak di jalanan RE Martadinata hingga akhirnya berhenti di perempatan jalan yang bagaikan sebuah kota yang gagal, habis ditinggalkan, dilanda perang atau memang, tak diurus dengan benar. Aku kini berada di perempatan jalan Dr. Sukarjo dengan seorang anak kecil kumal yang terlihat bermain dengan monyetnya. Topeng monyet. Dan Suasana begitu suram. Yakinlah sangat suram. Bahkan hantu pun akan pindah selagi sempat.

Bangunan yang sekarang ini aku jadikan tempat berdiri guna menghindari teriknya matahari, atapnya roboh di sana-sini. Tembok pun catnya mengelupas tak karuan. Berisikan grafiti dan corat-coretan yang kesan seninya sangat meragukan. Cicie cinta toto. Anak gaul ronald. Hasyim saiful. Dan semacam itu. Aku pikir, apa ini sedang era mengiklankan diri di tembok-tembok, atau mengklaim wilayah? Atau seniman yang esoknya ingin gantung diri? Sekilas pandang, aku berada di sebuah kota yang sama mengerikannya dengan Jakarta.  
 



Aku pun menyeberangi jalan. Berjalan di trotoar yang berlubang. Tak masalah. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Bahkan jika seluruh jalanan habis jadi lahan parkir pun aku tak akan kaget. Jangan pernah kaget menjadi orang Indonesia. Ini adalah negeri dengan milyaran kemungkinan. Jika ada mayat yang sudah mirip mumi diajak berfoto selfie, dikasih kaca mata, dirias, didandani dengan elegan, yah, kita sebagai orang Indonesia tak perlu heran. Tak perlu cemas. Tinggal pergi ke Toraja. Jika ingin berselfie dengan koruptur, tinggal pergi ke Senayan. Ingin lihat spesies buah-buahan baru? Tinggal pergi ke kebun raya Bogor. Ada banyak buah fanta yang tergeletak di bawah pepohonan. Tak punya modal melampiaskan nafsu birahi karena gulung tikar, uang dalam kondisi sekarat, atau tampang terlalu menyedihkan? Pergilah ke desa atau perkampungan terdekat. Carilah organ tunggal atau dangdut koplo yang lagi manggung. Dijamin puas. Gratis. Ingin yang lebih elegan? Carilah acara seni atau mall terdekat. Banyak perempuan muda yang kehabisan pakaian di sana-sini. Tak perlu ke sarkem atau warung remang-remang yang isinya nyoya tua gembur dan tinggal menghitung hari. Ingin laki-laki tampan yang bisa dikalungi rantai dan nurutnya minta ampun? Masukilah berbagai macam kampus. Akan kamu temukan laki-laki muda yang kerjanya hanya bisa minta makan pasangannya. Laki-laki jenis ini boleh kamu kurung dan kasih makan wortel. Ingin ciuman gratis dan sepuasnya? Pergilah ke Bali, tepatnya di Banjar Kaja, setelah hari raya Nyepi. Sebuah tradisi yang bernama Omed-omedan. Dan sayangnya, hanya untuk warga Banjar. Ingin cepat mati tapi takut ketahuan bunuh diri? Menyeberanglah di jalanan antar kota atau jalanan yang sering kali kamu lewati. Ingin cepat kaya? Ngepetlah! Atau jadilah wakil rakyat!

Kaki pun menyusuri trotoar menyedihkan dengan pohon-pohon yang tak mampu mengusir panas karena masih terlalu kecil. Menuju Masjid Agung Tasikmalaya. Sebuah Masjid, yang pernah, maaf, dijual di toko bagus oleh seorang siswi SMP. tepatnya pada tahun 2013. Tolong perhatian, ini benar-benar nyata. Di jual di toko bagus. What? Apa? Dengan harga 50 juta rupiah! Seharga sepeda motor atau mobil bekas yang sudah reot. Bahkan sekedar untuk membeli ruko yang mungil dan sempitnya minta ampun pun nyaris tak mungkin. Menyewa apartemen pun hanya cukup untuk satu bulan atau bahkan satu hari. Ini, Masjid Agung Tasikmalaya, dijual 50 juta? Yah, tak perlu panik. Biasa saja. Bayi dijual pun sudah biasa. Istri dijual ke tetangga pun sudah lumrah. Anak dan istri dijadikan pekerja seksual pun sudah sering. Bunuh diri pun hampir setiap hari. Seks massal anak sekolahan pun sudah semakin umum. Kalau hanya sekedar Masjid Agung dijual, tak perlu bersedih hati. Al Quran, dana Haji, dan daging qurban pun sudah biasa dibagi-bagi. Itulah tugas selingan atau kewajiban tersembunyi dari kementerian agama?

Aku pun terus berjalan. Berjalan. Ya berjalan. Suatu kegiatan yang semakin jarang terjadi di Indonesia kecuali hanya sekedar untuk berbelanja atau pergi mencari makan. Terus berjalan. Hingga akhirnya duduk di sebuah halte yang mirip tempat perhentian kambing. Lalu aku memandang sekitar. Jalanan terlihat masih baru dengan aspal yang bagus dan mulus. Naik ke atas, bangunan kusam. Reyot. Menyedihkan. Udara panas menyengat. Ingin rasanya mengganti judul majalah National Geographic Indonesia edisi november 2015, yang berjudul, Maaf. tak ada gambar indah untuk perubahan iklim dengan Maaf. tak ada gambar indah untuk kota tasikmalaya. Aku rasa itu lebih pas. Lebih cocok. Sesuai kenyataan. Lebih berhati nurani.

Seringkali aku merenung, akan jadi apa kota-kota di Indonesia nantinya? Sebuah kota yang kebanyakan warganya pun nyaris tak begitu perduli dengan perkembang ilmu pengetahuan yang ada. Kecuali akan sangat peka dengan perkembangan diskon tahunan dan hari raya. Segala jenis mode dan trend terkini. Atau motor dan mobil baru.

Kota ini panas. Benar-benar panas. Dan sebuah kota yang benar-benar dikelola dengan buruk.  Apakah walikota dan penduduknya tak pernah tahu soal perubahan iklim? Atau sesekali mendengar isu efek rumah kaca? Langganan saluran dan majalah National Geographic mungkin?




Aku pun berjalan dan tiba di sebuah masjid, yang, biasa-biasa saja. Masjid Agung Tasikmalaya yang berdiri tahun 1888. Tergolong masjid tua dengan perkembangan kesadaran pemeluknya yang mirip siput kehabisan nafas. Bagaimana tidak? Baru memasuki area masjid, para pengemis sudah bergentayangan meminta jatah belas kasihan. Kertas berterbangan kesana-kemari. Plastik dan sampah berserakan di rerumputan, taman, dan area masjid. Apakah orang Islam pernah mendengar, dari ajaran mereka sendiri bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman? Lihatlah! Sampah! Sampah! Ya tuhan. Astaga naga. Kemana Tuhan? Entahlah. Tuhan mungkin terlihat muram di atas sana jika tak sengaja melihat Masjid Agung Tasikmalaya.

Beberapa tahun lahu, Ibrahim Abdul-Matin, mengeluarkan sebuah buku berjudul Greendeen; What Islam Teaches About Protecting the Planet atau dalam bahasanya Indonesianya, Greendeen; Inspirasi Islam dalaml Menjaga dan Mengelola Alam. Seorang muslim Amerika. Jauh sebelum bermunculan buku-buku lingkungan yang ditulis oleh orang lokal yang bertemakan agama. Kesadaran yang keterlaluan telatnya. Di negara ini, siapa yang benar-benar perduli dengan agama?

Jika kita melihat seberang dunia, orang beragama di Indonesia harusnya malu dan tak lagi memiliki muka. Telmi. Telat mikir. National Geographic didirikan di Amerika Serikat tahun 1888 guna menyebarkan pengetahuan umum tentang geografi dunia, yang di antaranya menyangkut alam, berbagai spesies hewan, tumbuhan dan lingkungan. Sementara itu, Royal Society didirikan di Inggris, pada tahun 1660, untuk memajukan ilmu pengetahuan dan memetakan seluruh yang ada di muka bumi. Dan dewasa ini juga menyoroti persoalan lingkungan hidup, alam serta perubahan iklim. Sedangkan Sierra Club berdiri pada tahun 1892, oleh John Muir. Sebuah organisasi yang bertujuan untuk melindungi planet bumi dan lingkungan yang berpusat di San Fransisco, Amerika Serikat. Sedangkan Greenpeace berdiri tahun 1971, sebuah organisasi lingkungan internasional yang bermula dari penolakan pengujian bom nuklir oleh pihak Amerika di Amchitka, Alaska. Dan World Wide Fund for Nature atau dulunya World Wildlife Fund, didirkan pada tahun 1961 untuk perlindungan satwa dan hewan terancam punah, konservasi, restorasi lingkungan, dan penelitian. Friend of Earth,  lahir pada tahun 1969 sebagai grup anti nuklir dan berkembang menjadi semakin terinternasionalisasi dan mengedepankan aspek lingkungan hidup dan hak asasi manusia. Dan masih banyak lainnya yang berderet-deret hingga tangan ini bisa jadi kebas.

Di lain sisi, para penulis yang mempelopori gerakan lingkungan hidup modern adalah Henry David Thoreu dengan bukunya Walden,mempengaruhi gerakan yang disebut primitivisme. Rachel Carson dengan bukunya Silent Spring, yang menyoroti bahayanya penggunaan peptisida bagi kehidupan burung dan hewan lainnya, mengawali gerakan lingkungan hidup modern yang berkembang luasEcosophy yang dicetuskan oleh Arne Ness, menciptakan dan menginspirasi1 gerakan Deep Ecology. Bahkan Bhiophilia, kecintaan akan alam atau keterikatan manusia dengan lingkungan sekitarnya, harus muncul dari seorang Ateis penganut paham Evolusi bernama E.O. Wilson. Bahkan novel The Mongkey Wrench Gang dari Edward Abbey, mempelopori gerakan Eko-Teroris yang akhri-akhir ini kian menanjak. Tak ada seorang pun dari mereka beragama Islam atau bertuhan dengan baik. Sedangkan aku sendiri susah mencari organisasi atau gerakan lingkungan hidup berbasis Islam yang sangat berpengaruh melewati apa yang sudah aku tuliskan lebih dulu. Atau anggap saja, aku tak tahu. Apakah ada yang lebih tahu akan hal ini?

Mataku pun bergerak ke kanan dan ke kiri. Ada banyak perempuan remaja dan muda berjilbab panjang. Terlihat, di sisi kiri jalan dari masjid terdapat gedung Dakwah Islamiyah. Sedangkan jalanan yang membelah Masjid Agung pun rusak. Aku mengamati seorang perempuan muda yang tengah asyik mencoba berbagai macam gaya di depan kamera. Ada penjual minuman yang sedang istirahat. Anak-anak sekolah. Dan orang-orang yang keluar dari Masjid sehabis sholat. Banyak sekali yang tidur dan melepas lelah di beranda. Semua orang ini, apakah tak ada yang memiliki kesadaran modern akan lingkungan hidup? Dan kota yang berantakan ini, dengan sampah berjejalan di sana-sini, membuat aku berpikir, agama macam apa yang dianut warga Tasikmalaya? Katanya, dulu, kota ini terkenal dengan santrinya. Apakah informasi semacam itu cukup penting dan menambah bobot kesadaran? Aku rasa tak perlu. Aku sudah cukup tahu. Tak perlu mata ketiga untuk melihat dunia.

Panasnya sungguh mengerikan. Di langit, terlihat awan bergerak pelan. Aku pun bosan, karena tak ada pembaca buku di sini, aku pun melangkahkan kaki. Bertanya arah ke Asia Plaza. Ternyata, di depanku, hanya tinggal menyeberang, adalah jalan HZ. Mustofa. Aku pun berjalan dari Masjid Agung Tasikmalaya ke Asia Plaza, yang trotoarnya nyaris hilang ditelan pedagang kaki lima yang acak-acakan.

Berjalan zig zag. Menunduk. Berhenti menunggu. Mundur ke belakang karena orang yang berada di depan. Menghindari pedagang kaki lima. Penjual mainan. Topi. Mie ayam. Aneka es. Tas. Pakaian. Jam tangan.  Ibu-ibu lewat. Pengemis lewat. Orang agak gendut lewat. Anak-anak lewat. Para gadis muda cantik mengekor pantat ibunya. Tukang becak. Penjual siomay. Dan segala macam keriuhan berserta sampah yang berserakan tak karuan, trotoar yang rusak dan habis, gedung-gedung yang mirip hantu, dan kekumuhan yang terletak di jantung utama kota. Apakah ini Sang Mutiara Priangan dari Timur? Sungguh mengenaskan. Salah satu kota yang tak akan pernah ingin aku tinggali. Dan pastinya salah satu kota yang tak akan membahagiakanku. Begitu juga Eric Weiner.




Aku pun berhenti sebentar. Melihat seberang jalan dan sebuah bangunan yang bertuliskan Monte Carlo. Sedangkan barisan motor, mobil, becak, berderet dari arah utara ke selatan. Hampir separuh jarak jalan HZ. Mustofa. Tokoh masyarakat yang sayang, namanya kini lebih identik dengan jalanan yang kumuh dan salah kelola. Macet. Dan sangat menyebalkan untuk dipandang.

Tak sengaja aku pun melewati Yogya Mall. Tanpa pikir panjang aku pun masuk. Sekedar melihat-lihat dan mencari pendingin kulit. Benar-benar, Tasik adalah Neraka dari Timur. Itulah sebutan yang lebih sesuai kenyataan dari pada Sang Mutiara Priangan dari Timur.

Di Yogya, mata ibu-ibu tampak berbinar riang. Berkerlap-kelip. Dan semua perempuan baik tua dan muda tampak antusias dan bergairah. Membolak-balikan pakaian. Mencari ini itu. Dan aku pun sampai di lantai teratas, tempat kantin atau cafe yang luas dengan deretan kursi yang menyenangkan. Sekali lihat, aku pun merasa bahwa ini adalah tempat yang cukup nyaman untuk membaca sambil memakan sesuatu. Berhenti sejenak. Mengatur nafas. Kelelahan. Keringat bercucuran. Dan menyesal. Setelah memutari ruangan yang luas dengan banyak sekali orang-orang, dari mulai warga biasa, terlihat sedang, elegan, hingga gadis-gadis tionghoa berpakaian serba hitam yang cantik-cantik, tak ada seorang pun dari mereka yang memegang buku. Apakah ini menyedihkan?

Aku rasa, di Indonesia, tak ada orang yang akan menyesal jika tak membaca sebuah buku. Kecuali buku ulangan dan ujian nasional atau tes masuk universitas dan pegawai negeri.

Berdasarkan lembaga riset Pew di Amerika, pembaca E-Book mengalami kenaikan. Tapi masalahnya, apakah E-Book mampu menggeser kepraktisan buku cetak berbasis kertas? Adakah orang yang mau dan rela membaca E-Book setebal 500-1000 halaman berulang-ulang? Apakah E-Book bisa dicoret-coret dan mampu mengganti daya ingatan khusus yang dimiliki oleh buku cetak? Dan banyak lainnya yang bisa dipertanyakan. Aku tak memiliki jawaban akan hal ini. Sebagai seorang pembaca yang cukup kuat, aku sendiri merasa kesusahan menggunakan E-Book dan sering tak nyaman.

Memerlukan listrik. Harus memiliki perangkat elektronik. Kerentanan hilang dan kerusakan sangat besar. Sangat melelahkan di mata. Susah untuk dipindahkan lembar halaman secara cepat dan seenaknya. Tak bisa dicoret, garis bawahi dan ditulisi seenaknya sebagai bentuk dari pemikiran dan tanggapan kita atas isi buku. Dan banyak kekurangan lainnya yang akan susah untuk dijembatani. Enaknya, aku bisa menyimpan banyak buku dengan sangat mudah di dalam satu perangkat saja. Hanya saja benar-benar butuh kesabaran.

Pada tahun 2012, survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesment (PISA), Indonesia menempati urutan terbawah kedua mengenai kemampuan matematika. Dari 65 negara yang disurvei, yah, Indonesia harus bangga menempati peringakat ke-64. Tidakkah itu bagus, sebentar lagi mendekati 100? Tidakkah angka 100 biasanya angka terbaik di Indonesia? Di bidang sains, urutan ke-64. Untuk bidang membaca, berada di angka 60. Apakah aku salah membaca survei? Jika ini kenyataan, sungguh mengerikan masa depan Indonesia kelak. Dan sejujurnya, aku biasa-biasa saja. Hanya melihat di jalanan dan berbagai macam kota dan sekitarku sendiri pun, itu sudah sangat jelas.

Coba bayangkan, survey tahun 2012 di DIY, minat baca hanya sampai sejauh 0,049 persen? Lihatlah dengan jelas dengan mata batin sekaligus. Itu tertinggi se Indonesia. Minat baca serendah dan semengerikan itu tertinggi se Indonesia? Maaf, aku hampir tak mampu untuk membayangkannya. Jogjakarta? Serendah itu? Tak perlu heran. Ini Indonesia. Kota semilyar kemungkinan. Tak perlu cemas. Tak perlu kawatir. Kita masih bisa menggunakan Apple, Samsung, masih ada Asus, Oppo, Acer, Facebook, Google. Instagram dan banyak lainnya. Yah, minat baca rendah, kita masih bisa menggunakan buku ajar impor dan pengarang impor. Pengajar impor.  Ide-ide impor. Bahkan gaya seks impor. Tidakkah masih banyak penulis dan peneliti luar negeri yang memiliki minat untuk menulis segala hal tentang Indonesia? Yah, jadi serahkan saja kepada mereka. Itu ide yang bagus. Cemerlang.

Sementara Tasikmalaya? Sedang sibuk berbelanja.

Jika minat baca hanya sampai sejauh itu, tak heran jika pendaki gunung pulang dan turun gunung hanya sekedar membawa kembali tasnya di punggung. Dan aku sangat kasihan dengan Unesco. Apa tak bosan melakukan survei di Indonesia? Yang orangnya lebih siap sedia membawa kamera kesana-kemari tapi di otaknya nyaris tak ada isi.

Pertahun kira-kira antara nol sampai satu ekslempar buku. Itu semacam kebahagiaan yang direncanakan dengan matang. Paling rendah se Asia Tenggara. Mengagumkan. Sempurna. Jika cukup waras, bukalah buku Fernando Baez, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Sejarah pembakar buku dari masa kuno hingga perang Irak. Masihkah kita menyiakan masa damai ini dengan buku yang berlimpah? Apakah karena terlalu kayanya, orang Indonesia setia mengimpor segala sesuatu dari luar negeri. Dari elektronik hingga ide dan teori.

Apakah minat baca yang luar biasa dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan hingga Sigapura, menunjukkan bahwa penduduk negara itu tergolong miskin dan seolah terkesan mati-matian meningkatkan ilmu pengetahuan dan segala macam bentuk penemuan dan inovasi guna meningkatkan kualitas otak dan ekonomi mereka? Sementara negara-negara lainnya sibuk membaca dan menemukan sesuatu. Kita? Dengan bangga dan berpuas diri, yah, kita sibuk ongkang-ongkang kaki di cafe. Kencan romantis di bioskop. Menguap di kelas. Bermalas-malasan menghadap berbagai macam konten digital. Bermain game hingga toilet kehabisan air. Kita orang-orang kaya yang sangat luar biasa. Membuang-buang waktu di masa damai dengan borosnya sementara Google, Apple, dan Microsoft mati-matian saling mengusai dan menentukan arah dunia ini. Samsung hingga Facebook pun tak kalah mengikutinya.

Sementara kita ongkang-ongkang kaki dengan santainya dan memencet layar gadget kita untuk membuka google dan segala macam jenis aplikasi lainnya. Charles Arthur dalam bukunya Digital Wars menulis, “pentingkah bagi kita untuk mengetahui untuk mengetahui mesin pencari mana yang digunakan oleh sebagian besar orang? Di mana kita bisa membeli musik digital? Siapa yang membuat perangkat lunak yang mendukung ponsel kita, atau tablet yang kita gunakan saat menunggu kereta datang atau rapat dimulai? Sebagian orang tak berpikir begitu: bahwa tujuan manusia adalah selalu mendapatkan hasil yang benar, tidak peduli siapa yang mengawasi pengalaman yang kita rasakan. Sementara itu, yang lain mengatakan bahwa dunia digital adalalah ibarat jalan tol, dan siapa yang mengendalikannya maka mereka akan selalu menentukan bentuk masa depan.”

Dan perkataan yang mungkin paling menjengkalkan sebagian besar orang Indonesia yang berhaluan kiri atau Marxis dan bermentalkan sosialis, adalah apa yang dikataan oleh Fredrich A. Hayek, dalam bukunya The Road to Serfdom, atau Ancaman Kolektivisme bahwa “suatu perubahan ide, dan kekuatan kemampuan manusia, telah membuat dunia seperti apa adanya sekarang..,” ternyata benar. Perubahan ide-ide dan penguasaan atasnya, telah mengubah wajah dunia. Termasuk dunia kita. Walau kita tak ambil pusing. Ide-ide yang kita impor dari Eropa dan Amerika telah dengan jelas membentuk watak dan tingkah laku kita. Bahkan mengubah gaya makan, cara berpakaian dan seks kita!

Seperti yang dikatakan oleh Ludwig von Mises, salah satu tokoh liberal lainnya yang pastinya paling banyak dihindari dan dikutuk di negara ini mengatakan, “ide, bukan senjata, yang mengubah keadaan.” Apakah ini lelucon? Kenapa para penganut liberal lah yang malah mengerti akan perputaran ide-ide dan apa yang terjadi jika sebuah negara menguasai ide-ide yang akan disebarkankan ke seluruh dunia?

Aku kembali berjalan. Belum sempat kaki melangkah jauh, tepat di samping Yogya, antrian panjang berderet bagaikan sedang menunggu jatah raskin atau pembagian ransum di penjara. Bangunan berwarna merah dengan tulisan McDonald, itulah yang membuat jalanan, yang lebih tepatnya trotoar, macet total. Kalau bukan pusat belanja, maka Pizaa Hut, KFC atau McD yang ramainya mengalahkan Masjid Agung atau Katedral besar di sebuah kota. Apakah nantinya di Gramedia akan seramai ini? Semoga. Optimisme hari ini hampir mustahil jika sudah menyangkut buku dan pembacanya di Indonesia. Aku pun kembali berjalan.

Dan apa ada yang tahu, jikalau KFC dan McD, membantai milayaran ayam dengan cara-cara yang kejam dengan peternakan yang buruk dan bahkan terkadang banyak ayam yang mati dan terinfeksi akhirnya dijagal untuk dijadikan menu makan kita? Di negara ini, siapa yang perduli?

Sama halnya, siapa yang perduli dengan perubahan iklim. Siapa yang perduli dengan Kiribati dan Maladewa yang mungkin akan ditenggelamkan gelombang. Siapa yang perduli dengan Kenya yang kekeringan. Siapa yang perduli dengan Arktika yang meleleh. Siapa yang perduli dengan burung Nazar yang terancam punah. Terlebih burung bangkai yang seolah tak berguna dan menakutkan itu.Siapa perduli dengan Jakarta, Semarang hingga Palembang yang pesisirnya kemungkinan lenyap. Siapa yang perduli jika Orang Utan dan Harimau Sumatra punah. Siapa yang mau perduli kecuali orang-orang gila minoritas di negara ini?

Aku pun berjalan lagi. Melewati TTPS, tempat pembuangan sampah sementara, yang tepat di pinggir jalan raya. Di depan bekas toko yang dindingnya menghitam dan dipenuhi coretan grafiti. Sampah menumpuk. Tak muat. Berserakan. Sungguh mengerikan dan bau. Dalam hal sampah pun, Indonesia nomor satu. Kebijakan membayar 200 rupiah untuk kantong plastik tak akan berpengaruh apa-apa bagi warga kota yang setiap hari bisa membuang uang sampai jutaan rupiah.

Indonesia adalah penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua setelah Tiongkok menurut data penelitian dari Jenna Jambeck et al pada tahun 2015, dengan sampah plastik seberat 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok, cukup tipis dengan populasi milayaran hanya menghasilkan sampah plastik seberat 262,9 juta ton. Dengan populasi yang lebih besar, Tiongkok sebenarnya mengeluarkan jumlah total sampah lebih kecil dari pada Indonesia.  Dengan mental warga kota dan seluruh Indonesia yang berantakan semacam ini, apa jadinya negara ini kelak jika jumlah penduduk dan berpendidikan semakin membengkak?

Sesampainya aku di Plaza Asia, puntung rokok yang masih mengeluarkan asap seolah tak berdosa menyambutku di undahkan tangga mall. Puntung rokok di sini. Puntung rokok di sana. Sampah plastik di sebelah sana. Jalan beraspal di depan tangga berlubang. Sarang laba-laba dan rembesan air kekuningan memenuhi langit-langit. Sirna sudah harapanku selama ini.

Jadi ini mall terbesar di Tasikmalaya dan yang katanya salah satu terbesar di Jawa Barat itu? Dengan hati suram aku pun masuk ke dalam.

Kanankiri adalah gerai makanan cepat saji. Dari Pizza Hut sampai KFC. Sangat ramai. Penuh. Kesukaan orang Indonesia modern. Tempat yang katanya bergengsi. Dan apakah ada pembaca buku yang terlihat? Seandainya ada, aku bisa mati terkena serangan jantung di tempat.

Tak berapa lama kaki melangkah, terdapat keramaian di tengah-tengah lantai satu yang lantainya retak di sana-sini. Ajang model, be a Model Plaza Asia, dengan para remaja perempuan yang berlenggak-lenggok, memamerkan dada, paha, bokong dan banyak perempuan muda cantik yang terlihat modis. Kota ini terselamatkan dengan banyak perempuan cantik. Aku akui, perempuan Sunda memang memiliki paras menawan dan terlebih banyak Tionghoa di kota ini. Tapi sayang, wajah dan tubuh indah tanpa otak adalah kesalahan.

Aku pun bergegas mencari Gramedia yang ternyata ada di lantai 2. Dan sangat mengecewakan. Betapa kecilnya! Pintu masuk yang terkesan mempesona, membuat ilusi sementara betapa mengerikan Gramedia ini.



Nyaris jarang pengunjung terlihat. Kebanyakan anak remaja yang membaca novel teenlet dan komik. Isi rak buku yang membuat aku benar-benar depresi. Dari sekian banyak buku, hanya ini yang cukup layak; Zarathusrta karya Nietzche, Max Havelar dari Mutatuli, buku Jenderal Spoor yang ditulis oleh J. A. De Moor, Matinya Socrates dari Plato, Kota di Djawa Tempo Doelole karangan Oliver Johannes Raap, Eden in the East oleh Stephen Oppenheimer, The Origin of Species miliknya Darwin, Tan Malaka dengan Madilog, Serat Centhini, Sejarah Dunia Kuno karya Susan Wise Bauer, Raffles yang disusun oleh Tim Hannigan, Melipat Air dari Agus Hermawan T, dan bagian filsafat sangat mengenaskan. Hanya ada buku Taoisme dari Toshihiko Izautsu yang layak dibaca.

Dan ketika aku berjalan ke pojok paling barat di sebelah rak-rak buku sekolah, terdapat berbagai novel sastra Indonesia. Penataan buku yang sangat buruk dan tak becus. Salah satu Gramedia dengan penataan buku terburuk yang pernah aku masuki. Hanya ada beberapa buku yang menarik; Einstein’s Dreams karya Alan Ligthman, Ronggeng Dukuh Paruk kepunyaan Ahmad Tohari, Hujan Bulan Juni dari Sapardi, buku-buku milik Pramoedya Ananta Toer, Centhini karya Elizabeth Inandiak, Novel Amba dari Laksmi Pamuncak, Titik Nol yang ditulis oleh Agustinus Wibowo,  Ikan-Ikan Hiu karangan Romo Mangun, Pengakuan Pariyem Linus, Aku Ini Binatang Jalang  dari Chairil Anwar, dan apakah Kambing dan Hujan karangan Mahfud Ikhwan dan Lelaki Harimau serta O milik Eka Kurniawan layak dimasukkan buku bagus? Aku pikir tidak. Beberapa buku yang aku tulis di atas pun sebenarnya biasa saja.

Dan yah, hanya itu. Habis. Benar-benar toko buku yang buruk. Mengerikan. Tragedi di kota sebesar Tasikmalaya dengan penduduk yang beberapa tahun lagi mendekati sekitar 1 juta jiwa. Aku pun akhirnya membeli National Geograhpic Indonesia edisi April 2016 dengan judul, Suka Cita Kematian. Salah satu edisi terbaik yang pernah aku lihat dan akhirnya baca.

Hanya beberapa menit di Gramedia aku pun sudah bosan. Keluar. Banyak orang berkerumun untuk melihat ajang pencarian model yang ada di lantai dasar. Aku pun sekedar ikut melihat, dan, besi pegangan pun berkarat. Melangkahkan kaki dengan malas. Tap tap tap. Meja-meja penuh orang yang sibuk menunggu dan menguyah makanan. Ada pembaca? Ah tidak. Aku pun melangkah. Sampai di lantai dasar lalu keluar dan bertanya ke beberapa sosok orang di mana letak Toga Mas berada.

“kurang tahu ya. Sepertinya dulu di dekat sana,” sambil meneunjuk arah. “Tapi sekarang tak tahu masih ada atau ndak,’ kata perempuan muda berjilbab dengan ragu-ragu.
“ndak tahu,” sambil menggelengkan kepala, raut muka datar tanda tanpa adanya penyelasan dan perasaan malu dari dua orang perempuan remaja berjilbab yang sibuk menghamba gadgetnya.

Dan kini, aku sedang dinaungi oleh pohon Ketapang yang tumbuh sangat besar menurutku. Aku pun menanyakan Toga Mas ke sekumpulan bapak-bapak yang jawabannya tidak tahu. Strees dan frustasi, aku kembali memasuki mall dan pergi ke toilet; kencing. Lalu duduk di sebuah kursi di dekat keramaian ajang model dan membuka membaca National Geographic Indonesia. Mengagumi foto-foto Joel Sartore dalam Proyek Photo Ark: Mengabadikan Satwa.  Dan merenungkan Taman Kota yang ditulis oleh Ken Ottenbourg. Jika New York, London, Barcelona, Chorzow, hingga Seoul sibuk mendirikan taman kota untuk kebutuhan warganya. Tasikmalaya dan berbagai macam ibu kota di Indonesia sibuk menebangi pohon, mendirikan mall dan pusat belanja, rumah-rumah, pabrik dan gedung pemerintahan bahkan tempat ibadah yang terasa berceceran di mana-mana.

Edisi yang sempurna. Menuju Seberang karangan Robin Marantz Henig yang membicarakan sains ajal dan kemungkinan untuk menghidupkan lagi manusia yang telah mati atau bagaimana cara mengelak dari kematian di masa depan. Tulisan lainnya, Ketika Kematian Bukanlah Berpisah dari Amanda Benntt, yang menjadikan kematian bagi masyarakat Toraja sebagai hal yang bertolak belakangan dengan pengertian Barat mengenai kematian itu sendiri. Dan Tanah Hantu dari Paul Salopek, menceritakan proyek perjalanannya Keluar dari Nirwana, dan sesampainya dia di Armenia yang kelam, membuat edisi National Geographic Indonesia terasa sempurna dan lengkap.

Aku pun membaca di tengah masyarakat yang tak memiliki antusias membaca di tempat umum. Seperti makhluk halus di dunia modern. Atau suku terpencil yang baru saja ditemukan dengan tatapan heran dan waspada. Aku pun terus membaca. Perempuan muda dengan berbagai macam gaya dan kecantikan modern lewat bergantian di depanku. Begitu juga dengan laki-lakinya. Tak ada yang membawa buku. Tak ada yang terlihat membaca. Tubuh-tubuh indah yang kosong.

Aku tersesat di negara ini. Sebuah negara, yang berbagai macam kotanya bukanlah tempat untuk aku mampu mengekspresikan duniaku dengan cukup sempurna. Aku rasa, sampai berpuluh tahun yang akan datang, tak akan pernah ada kota yang benar-benar aku impikan terwujud di negara ini.

Aku pun berjalan, melangkah keluar. Bertanya lagi tentang Togas Mas. Adanya yang mengatakannya sudah pindah dan sangat banyak yang tahu apa itu Togas Mas. Aku cukup frustasi mencari salah satu toko buku ini. Ketika melihat tiga orang laki-laki muda yang tengah asyik membuat Grafiti di perempatan jalan HZ Mustofa, aku sedikit bersemangat. Dan ternyata mereka tak tahu. Sungguh mahkluk-makhluk bodoh dan kurang isi, pikirku sebal. Aku pun melangkah, bertanya kepada bapak dan ibu-ibu yang terlihat berpendidikan dari kalangan berada, mereka pun menggelengkan kepalanya. Di negara ini, yang membaca koran dan cukup tahu tempat toko buku, apakah hanya orang jompo dan mereka yang berpenampilan biasa saja bahkan nyais lusuh? Itulah ironi di berbagai kota yang aku masuki di Jawa. Begitu juga di Tasikmalaya. Mereka yang berpenampilan rapi dan terkesan terpelajar belum tentu tahu banyak hal dan malah seringkali lebih bodoh dari pada tukang tambal ban. Jika aku adalah seorang turis asing, aku akan mengandalkan tukang becak dari pada mereka yang berpendidikan sarjana.




Dan, aku pun melangkah dengan kecewa. Menyusuri kota yang berantakan. Deretan parkir yang memanjang. Kesibukan perut dan kepuasaan berbelanja memenuhi semua tempat dan ruang. Duduk di bawah Ananda yang di seberang sana terdapat gerai Mcd yang selalu ramai dan Agung Fashion serta Yogya yang penuh. Aku terlahir di dunia yang salah.

Kembali melangkah. Lelah. Panas. Memandang lelah di sebuah kota yang hancur dan kacau balau. Duduk lagi. Menatap bangunan tinggi menjulang yang ditinggalkan dan bagaikan menyimpan masa depan yang rapuh dan rusak. Kembali berjalan dengan perasaan bosan. Belum sampai setengah hari, aku sudah sangat bosan dengan kota ini. Sebuah kota yang tidak aku anjurkan untuk ditinggali. Terlebih seorang macam aku yang Jogja saja mulai sangat membosankan.

Neraka dari Timur..

Aku berjalan. Dan terus berrjalan. Dan bertanya pada diriku sendiri, apakah ada sebuah kota untuk seorang filsuf di negara ini?